Nyaman Curhat ke AI, Gen Z Tetap Menyimpan Keraguan

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Mesin percakapan akal imitasi atau AI kini menjelma sebagai “tempat curhat” baru generasi Z di Indonesia. Mereka merasa nyaman bercerita kepada AI, yang tidak menghakimi dan selalu merespons setiap saat. Namun, mereka juga tidak bisa sepenuhnya percaya pada chatbot AI itu.

Fenomena maraknya anak muda yang curhat ke chatbot AI itu, antara lain, terekam dalam laporan hasil riset berjudul Pemahaman Gen Z Terhadap Batasan Akal Imitasi (AI) dalam Konteks “Curhat di AI. Riset ini diterbitkan oleh Digital Resilience Indonesia (DiRI) pertengahan Juli 2026.

DiRI adalah yayasan yang berfokus pada upaya memperkuat ketahanan digital masyarakat di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Dalam risetnya, DiRI memetakan bagaimana Gen Z (generasi yang lahir 1997-2012) dalam memandang AI sebagai media curhat, termasuk risiko dari aktivitas itu.

Baca JugaBagaimana Curhat yang Sehat ke ”Chatbot”?

Penelitian mengadopsi pendekatan kuantitatif deskriptif dengan metode survei cross-sectional atau pengumpulan data dari sampel pada satu titik waktu tertentu untuk melihat hubungan antar variabel. Survei ini melibatkan 402 responden Gen Z dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Yogyakarta, dan daerah lainnya.

Survei yang dilakukan secara daring ini menemukan, sebanyak 59,4 persen responden pernah curhat ke chatbot AI, seperti ChatGPT, Gemini, Grok, dan asisten berbasis AI lainnya. Artinya, hampir enam dari 10 responden Gen Z mengaku pernah berbagi cerita kepada AI.

Isu yang paling sering dibicarakan adalah pendidikan. “Tema percintaan, karier, kekhawatiran tentang masa depan, serta kesehatan fisik dan mental juga jadi topik. Begitu pun dengan isu keluarga, pertemanan, dan keuangan,” ujar Hasrul Eka Putra, Founder DiRI, saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (4/8/2026).

Temuan itu menunjukkan, curhat dalam pengertian Gen Z tidak hanya tentang hal pribadi, seperti percintaan, tetapi juga tentang kesehatan mental hingga pendidikan. Soal waktu, sekitar 32,9 persen responden mengaku menghabiskan lebih dari 10 menit untuk bercerita kepada AI.

Penelitian ini mengungkap beberapa alasan Gen Z memilih menyampaikan keluh kesahnya kepada AI. Sebagian besar responden (65,8 persen) lebih suka curhat ke AI karena bisa lebih bebas tanpa takut dihakimi. Ketiadaan prasangka sosial membuat mereka merasa AI sebagai ruang aman untuk bercerita.

Baca JugaPisau Bermata Dua, Curhat dengan AI untuk Validasi Hati

Perasaan nyaman ini turut mendorong Gen Z untuk membagikan masalah privasinya kepada AI. Sebanyak 63,2 persen responden mengaku menjadikan AI sebagai tempat curhat untuk hal-hal pribadi, yang tidak mereka bagikan kepada orang lain. Mereka menganggap AI tidak akan membocorkan curhatannya ke orang lain.

Gen Z juga memilih AI sebagai wadah bercerita karena kecepatannya merespons persoalan mereka. Sebagian besar responden (76,2 persen) setuju bahwa AI memberikan respons yang lebih cepat dibandingkan manusia saat mereka membutuhkan tempat curhat dalam waktu 24 jam sehari.

Paradoks

Meskipun merasa nyaman mengadu pada AI, pada saat yang sama, Gen Z juga tidak sepenuhnya percaya pada mesin percakapan ini. Mayoritas responden (86,9 persen) sepakat, berbagai jawaban AI saat mereka curhat dipengaruhi oleh data atau perspektif tertentu. Mereka menganggap AI memiliki bias saat merespons.

Kondisi ini tidak terlepas dari terbatasnya data yang dimiliki oleh AI. Sebanyak 87 persen responden juga sepakat bahwa keterbatasan data itu dapat membuat jawaban yang dikeluarkan kurang akurat. Bahkan, sebanyak 76,7 persen menilai, jawaban AI bisa saja menyesatkan penggunanya. 

Sebagian besar responden pun setuju AI berpotensi mengalami halusinasi saat memberikan jawaban atas pertanyaan yang kurang dimengerti. Sebanyak 70,2 persen responden juga sepakat, AI kerap kali gagal memahami esensi masalah secara tepat atas masalah yang mereka ceritakan.

Hasrul mengakui, riset ini menangkap sisi paradoks terkait fenomena Gen Z yang curhat kepada AI. Di satu sisi, mereka merasa nyaman bercerita ke chatbot dengan sejumlah alasan. Namun, di sisi lainnya, mereka juga menyimpan keraguan atas jawaban asisten AI ini.

“Secara sederhana, bisa dikatakan jika Gen Z ini sudah terliterasi tentang AI, khususnya soal bias, halusinasi, dan privasi. Mereka, terutama perempuan, sudah peduli tentang batasan itu. Namun, mereka tetap menggunakan AI karena ada kebutuhan emosional dan kenyamanan,” ujar Hasrul.

Gen Z sudah terliterasi tentang AI, khususnya soal bias, halusinasi, dan privasi. Mereka, terutama perempuan, sudah peduli tentang batasan itu. Namun, mereka tetap menggunakan AI karena ada kebutuhan emosional dan kenyamanan

Itu sebabnya, lanjutnya, riset ini menemukan, mayoritas gen Z memiliki tingkat kesadaran sedang hingga tinggi terhadap keterbatasan AI. Sekitar 49,8 persen responden berada pada kategori sedang, 39,8 persen pada kategori tinggi, dan hanya 10,4 persen yang masih berada pada kategori rendah. 

“Ini berarti sebagian besar responden sudah memahami bahwa AI tidak selalu netral, tidak selalu akurat, dan tidak selalu memahami konteks dengan tepat,” ucap Hasrul. Artinya, dalam konteks curhat ke AI, Gen Z menyadari bahwa teknologi ini memiliki berbagai keterbatasan.

“Penekanan kami sebenarnya adalah bagaimana Gen Z tetap harus mengandalkan relasi sosial dan bantuan profesional untuk masalah-masalah pribadi mereka, bukan ke AI,” ujarnya. Apalagi, berbagai penelitian juga menunjukkan sejumlah risiko jika memercayakan AI sebagai tempat curhat. 

Baca JugaAI Bisa Menjadi Teman Curhat Remaja, tetapi Ada Risikonya

Journal of Psychopathology and Clinical Science edisi Juli 2026, misalnya, menemukan bahwa kenyamanan curhat ke AI dapat membawa konsekuensi apabila dilakukan tanpa pengawasan. Laporan ini ditulis Javad Abbasi Jondani dari Department of Psychology, University of Isfahan, Iran.

Jondani mendeteksi lima pola risiko yang berpotensi memperburuk kesehatan mental jika bergantung pada chatbot AI untuk curhat. Risiko pertama adalah menunda mencari pertolongan profesional. Padahal, pada kasus depresi sedang hingga berat, gangguan kecemasan berat, atau munculnya pikiran bunuh diri, penanganan profesional sangat menentukan keselamatan pasien.

Risiko kedua, penggunaan chatbot AI bisa memperkuat perilaku kompulsif. Pengguna terdorong terus mengulang pertanyaan yang sama demi memperoleh rasa tenang sehingga kecemasannya justru semakin menguat. Risiko ketiga adalah AI dapat mendorong seseorang, termasuk anak muda, mengalami isolasi sosial.

Risiko keempat, kecenderungan AI yang tidak banyak membantah dapat memperkuat persepsi pengguna terhadap sesuatu yang tidak sesuai kenyataan. Risiko terakhir adalah ketergantungan dalam mengambil keputusan. Hal ini dapat membuat seseorang tidak percaya pada dirinya sendiri untuk menentukan sesuatu.

Secara terpisah, Derry Wijaya, Associate Professor and Course Coordinator, Data Science Monash University, Indonesia, menilai, AI memang mulai digunakan untuk curhat. Padahal, chatbot AI bekerja dengan sistem memprediksi kata yang berpotensi dan paling sering muncul setelahnya. Itu sebabnya, AI bisa kehilangan konteks.

“AI juga berpotensi bias saat menjawab karena sesuai data yang digunakan dalam pelatihannya,” ujarnya. Itu sebabnya, Gen Z yang memanfaatkan AI sebagai teman curhat seharusnya memahami batasannya, seperti tidak sepenuhnya percaya pada respons AI tersebut.

Di sisi lainnya, Hasrul mengingatkan pentingnya regulasi, seperti Peta Jalan AI dan Pedoman Etika AI untuk meningkatkan perlindungan pada penggunanya, termasuk Gen Z. “Pemerintah perlu mempercepat aturan tersebut sebagai instrumen kebijakan,” ucapnya.

Keberhasilan AI juga ditentukan oleh kemampuan kita mengelola data secara aman, etis, dan bertanggung jawab

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan, keberhasilan adopsi AI tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologinya. “Tetapi juga oleh kemampuan kita mengelola data secara aman, etis, dan bertanggung jawab,” ujarnya dalam keterangan tertulis pertengahan Juni lalu.

Pemerintah, lanjutnya, saat ini tengah menyiapkan dua Peraturan Presiden mengenai AI, yakni Perpres Etika AI dan Perpres Peta Jalan AI. Regulasi tersebut akan menjadi payung pengembangan AI nasional yang dibangun di atas empat fondasi utama.

Keempatnya adalah tata kelola digital yang transparan, infrastruktur yang andal, pengelolaan data yang aman, serta talenta digital yang kompetitif. “Fondasi ini menjadi prasyarat bagi pemanfaatan AI yang etis dan tepat guna,” ucapnya. 



Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Band Massive Attack Digeledah Polisi usai Konser di Singapura
• 18 jam lalu
0
thumb
Profil John Herdman, Pelatih Timnas Indonesia yang Minta Maaf Usai Skuad Garuda Dibantai Vietnam di Piala AFF 2026
• 1 jam lalu
0
thumb
Telkomsel Bukukan Pendapatan Rp55,6 Triliun di Semester I-2026
• 8 jam lalu
0
thumb
VinFast Punya Program ‘Sewa Jadi Cuan’, Begini Mekanismenya
• 8 jam lalu
0
thumb
Prabowo Antar PM Thailand Anutin Charnvirakul Tinggalkan Indonesia
• 5 jam lalu
0
Berhasil disimpan.