Sepak Bola Indonesia: Sajadah Cinta yang Terluka

harianfajar
1 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Abrar
Dosen Universitas Nahdlatul Ulama

Bagi jutaan manusia di negeri ini, sepak bola bukan lagi sekadar dua puluh dua orang mengejar bola di atas rumput hijau; ia telah menjelma menjadi sebuah ritual sakral, ruang kebudayaan yang hidup, tempat identitas, harapan, dan rasa memiliki menemukan rumahnya.
Stadion-stadion di seluruh penjuru Nusantara adalah rumah ibadah kultural, tempat di mana perbedaan kelas sosial, suku, dan agama lebur menjadi satu gelombang selawat dan doa. Di atas tribune yang bergemuruh, sepak bola digelar bagaikan selembar sajadah tempat jutaan kepala bersujud, memasrahkan harapan, air mata, dan cinta yang paling tulus demi kehormatan sebuah lambang Garuda di dada.
Metafora sajadah bukanlah hiperbola. Sebagaimana sajadah menjadi simbol kesungguhan dalam menghadap Sang Pencipta, sepak bola bagi banyak orang Indonesia adalah ruang tempat mereka menumpahkan keyakinan, harapan, bahkan harga diri kolektif sebagai bangsa. Karena itu, setiap kemenangan menghadirkan sukacita yang melampaui skor, sementara setiap kegagalan menghadirkan luka yang jauh lebih dalam daripada sekadar kekalahan di papan pertandingan. Apalagi kekalahan itu depan mata sendiri.
Namun, di balik riuhnya nyanyian fanatisme yang merindingkan bulu kuduk, ada kepedihan yang senantiasa mengintai dari sudut-sudut garis-garis lapangan. Sajadah tempat masyarakat merajut mimpi indahnya berkali-kali terinjak oleh realitas yang serba ironis. Di saat suporter rela menembus hujan dan menguras kantong demi selembar tiket, mereka justru sering kali disuguhi tontonan drama di luar lapangan yang menguras kewarasan, membuktikan bahwa cinta yang begitu besar ini sedang berdiri di atas fondasi yang rapuh.
Di sinilah letak tragedi terbesarnya: PSSI, sebagai otoritas tertinggi yang diberi mandat mengurus kiblat sepak bola kita, kerap kali gagal memahami kesucian cinta publik tersebut. Alih-alih merawat sajadah ini agar tetap bersih dan kokoh, federasi justru sering kali menjadikannya sebagai keset kaki bagi kepentingan pragmatis, panggung politik instan, dan komoditas kekuasaan. Akibatnya, hubungan antara suporter dan federasi berjalan dalam siklus toxic relationship—sebuah hubungan beracun di mana publik terus memberi hati, sementara federasi terus memberi luka.
Paradoksnya, publik sesungguhnya tidak menutup mata terhadap berbagai capaian yang berhasil diraih dalam beberapa tahun terakhir. Gelombang optimisme akibat membaiknya performa tim nasional, meningkatnya peringkat FIFA, serta tingginya dukungan masyarakat terhadap kebijakan naturalisasi menunjukkan bahwa harapan terhadap masa depan sepak bola Indonesia masih tetap menyala.
Namun, Harapan itu tidak identik dengan kepuasan terhadap tata kelola sepak bola secara keseluruhan. Publik mampu membedakan antara keberhasilan di panggung internasional dan kesehatan ekosistem sepak bola nasional. Selama prestasi tim nasional terus dipromosikan, sementara persoalan kompetisi domestik, kualitas perwasitan, pembinaan usia muda, serta tata kelola liga belum memperoleh perhatian yang sepadan, maka euforia hanya akan tumbuh di permukaan, sedangkan kegelisahan tetap berakar di fondasi sepak bola nasional.
Karena itu, reformasi sepak bola Indonesia tidak akan pernah selesai jika PSSI hanya berfokus memoles wajah tim nasional di etalase internasional, sementara fondasi kompetisi domestik masih menyisakan begitu banyak pekerjaan rumah. Menyelamatkan sepak bola Indonesia berarti terlebih dahulu menyembuhkan luka pada “sajadah cinta” itu sendiri. Sebab, yang dikelola PSSI bukan sekadar sebuah organisasi olahraga, melainkan amanah publik yang menyangkut harkat, martabat, serta harapan kolektif jutaan rakyat Indonesia.
Luka paling menganga pada tubuh sepak bola kita hari ini terletak pada kontradiksi antara ambisi global dan karut-marutnya kompetisi lokal. Di balik megahnya panggung tim nasional, ada tiga masalah fundamental yang gagal diselesaikan oleh federasi. Pertama, kompetisi domestik kita masih berjalan merangkak akibat kualitas wasit yang terus menuai kontroversi, jadwal liga yang tak menentu, hingga pembinaan usia muda yang layu sebelum berkembang karena ketiadaan cetak biru (blueprint) yang konsisten.
Kedua, ada pengabaian fatal terhadap fakta bahwa tim nasional hanyalah puncak gunung es; sejarah dunia membuktikan bahwa timnas yang kuat tidak pernah lahir dari ruang hampa, melainkan tumbuh dari ekosistem kompetisi yang sehat, perangkat pertandingan yang kredibel, serta tata kelola yang transparan.
Ketiga, dan yang paling menyakitkan, adalah absennya kemanusiaan dan keadilan yang hakiki, di mana tragedi yang merenggut nyawa suporter seolah hanya lewat sebagai angka statistik tanpa evaluasi sistem keamanan yang menyeluruh. Ketika kepentingan hak siar televisi dan ego oligarki lebih didewakan ketimbang keselamatan penonton, saat itulah PSSI secara sadar telah merobek sajadah cinta yang dibentangkan oleh masyarakat.
Sesungguhnya, yang sedang dipertaruhkan hari ini bukan sekadar hasil pertandingan di papan skor, melainkan legitimasi moral sebuah institusi. Ketika publik mulai kehilangan kepercayaan akibat luka yang terus ditumpuk, yang runtuh bukan hanya reputasi organisasi, melainkan ikatan emosional mendalam yang selama puluhan tahun telah menjadi kekuatan terbesar dan nyawa bagi sepak bola Indonesia.
Pada akhirnya, sepak bola Indonesia tidak boleh dibiarkan terus-menerus menjadi “sajadah cinta yang terluka”. Pengorbanan suporter yang tak pernah lelah membakar semangat di tribune, doa-doa ibu yang anaknya pamit ke stadion, hingga tetesan keringat anak-anak pelosok negeri yang bermimpi jadi Garuda, terlalu suci untuk dikhianati oleh egoisme korporasi dan politik PSSI. Sudah saatnya federasi membalas cinta tak bersyarat ini dengan tata kelola yang bersih, transparan, dan beradab.
Mari kita tuntut PSSI untuk mulai menjahit kembali robekan-robekan luka pada sajadah ini dengan benang akuntabilitas dan profesionalisme. Jangan tunggu sampai air mata suporter berubah menjadi kutukan apati (apathy), di mana stadion-stadion menjadi sepi karena publik lelah berharap pada federasi yang bebal.
Sebab, ketika sajadah cinta itu akhirnya ditinggalkan oleh para kekasihnya, sepak bola Indonesia tak lebih dari sekadar raga tanpa jiwa—mati di tengah gemerlapnya industri. (*/)

Abrar, adalah Dosen Universitas Nahdlatul Ulama–Sulawesi Tenggara, sosiolog olahraga dengan spesialisasi pada irisan kekuasaan, tata kelola, dan intervensi politik dalam arena olahraga. Pemenang Lomba Karya Ilmiah Keolahragaan Tingkat Nasional 1994. Penulis buku: Olahraga, Politik, dan Perlawanan Soekarno serta Sport and Politics: Pasangan yang Tidak Romantis.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Iran bantah berunding dengan AS, bahas Selat Hormuz dengan Oman
• 22 jam lalu
0
thumb
Indonesia-Thailand Bertukar Informasi Bongkar Kejahatan Transnasional
• 15 jam lalu
0
thumb
Indonesia Terancam El Nino Kuat, BMKG Gencar Operasi Modifikasi Cuaca Isi 240 Bendungan
• 2 jam lalu
0
thumb
HNW Desak Masyarakat Internasional Hentikan Genosida dan Sanksi Israel
• 13 jam lalu
0
thumb
2 Maling Outdoor AC di Jakut Ditangkap saat Beraksi, 1 Kabur Naik Motor
• 19 jam lalu
0
Berhasil disimpan.