Belajar dari Kasus Nenek di Cakung Dirampok, Siskamling Dinilai Perlu Dihidupkan

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Wibi Andrino mengecam keras aksi perampokan disertai penyekapan terhadap seorang lansia, Hartati (61), di Cakung, Jakarta Timur, yang terjadi pada Minggu (2/8). Pelakunya tak lain tetangganya sendiri.

“Tindakan ini sangat biadab dan tidak memiliki toleransi sedikit pun, apalagi jika diduga dilakukan oleh orang yang masih bertetangga dengan korban,” kata Wibi kepada kumparan, Selasa (4/8).

Menurut Wibi, peristiwa tersebut bukan hanya melukai korban, tetapi juga merusak rasa aman dan kepercayaan di tengah masyarakat.

“Saya meminta kepolisian mengusut tuntas kasus ini, menangkap seluruh pelaku, dan memberikan hukuman yang setimpal sesuai ketentuan hukum. Negara harus hadir memberikan perlindungan, khususnya bagi kelompok rentan seperti lansia,” ucapnya.

Selain penegakan hukum, Wibi menilai kewaspadaan warga juga perlu diperkuat melalui pengaktifan kembali siskamling.

“Saya juga mengimbau masyarakat untuk memperkuat kepedulian lingkungan, mengaktifkan kembali sistem keamanan lingkungan (siskamling), dan segera melaporkan setiap aktivitas mencurigakan agar kejadian serupa tidak terulang. Jakarta harus menjadi kota yang aman, terutama bagi para orang tua dan lansia,” tuturnya.

Nenek Hartati Dirampok Tetangga

Sebelumnya, seorang lansia bernama Hartati (61) menjadi korban perampokan saat sedang menunaikan salat Zuhur di rumahnya di Kampung Pisangan, Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur, Minggu (2/8).

Pelaku diketahui merupakan tetangga korban sendiri, Mahrum. Saat beraksi, pelaku menodongkan senjata tajam, melakban mulut, tangan, dan kaki korban, serta mengancam akan membunuhnya apabila berteriak.

"Jangan teriak. Diam. Gue baru keluar dari penjara. Kalau teriak gue bunuh sekalian. Gue ngelakuin ini buat ngasih makan anak bini," ujar Hartati menirukan ucapan pelaku, kepada kumparan, Senin (3/8).

Pelaku kemudian membawa kabur telepon genggam milik korban, uang tunai Rp 600 ribu, dan sepasang anting yang masih dikenakan Hartati.

Setelah pelaku kabur, Hartati berusaha membebaskan diri dengan meloncat ke dapur untuk mengambil pisau dan memotong lakban yang mengikat kakinya. Ia kemudian meminta pertolongan kepada Ketua RT setempat.

"Namanya kaki dilakban, akhirnya saya loncat-loncat. Di dapur ada pisau, saya potong aja lakbannya, terus buru-buru keluar langsung ke Pak RT minta tolong," jelasnya.

"Masih keadaan pakai mukena. Saya enggak lepas biar jadi barang bukti kalau saya memang habis dirampok," lanjutnya.

Berdasarkan laporan korban, polisi bergerak ke rumah pelaku yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah Hartati. Mahrum berhasil ditangkap beberapa jam setelah kejadian saat sedang tertidur di rumahnya.

Polisi masih mendalami kasus tersebut dengan memeriksa korban, saksi, dan pelaku.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Truk Sampah Antre hingga 600 Meter di TPST Bantargebang, Lindi Menetes di Sepanjang Jalan
• 53 menit lalu
0
thumb
Sejumlah WNI Terdampak Gempa Kumamoto Masih Berada di Tempat Pengungsian, KBRI Salurkan Bantuan
• 8 jam lalu
0
thumb
Rupiah Melemah, Sektor Apa Saja yang Diuntungkan?
• 3 jam lalu
0
thumb
Sindikat TPPO Kian Lihai, Calo dan Perekrut Masih Merajalela
• 9 jam lalu
0
thumb
RI-Thailand Komitmen Tingkatkan Perdagangan hingga USD 20 Miliar pada 2030
• 16 jam lalu
0
Berhasil disimpan.