BEKASI, KOMPAS.com – Antrean truk pengangkut sampah memanjang hingga sekitar 600 meter menjelang pintu masuk Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Selasa (4/8/2026).
Pantauan Kompas.com di lokasi menunjukkan deretan truk mengular di sepanjang Jalan Pangkalan 5 menuju gerbang TPST Bantargebang sejak pagi.
Bau menyengat tercium di sepanjang jalan menuju TPST Bantargebang. Aroma tersebut berasal dari lindi yang menetes dari truk-truk pengangkut yang sedang mengantre memasuki kawasan pengolahan sampah itu.
Baca juga: Ini Penampakan Gunungan Sampah Bantargebang yang Ditutup Geomembran
Di pintu masuk TPST Bantargebang, petugas tampak sibuk mengatur arus kendaraan karena truk sampah keluar masuk secara bergantian.
Sementara itu, di area dalam TPST, sejumlah ekskavator terus beroperasi di atas gunungan sampah untuk mengangkut sekaligus memilah sampah yang baru dibuang.
Kepala Satuan Pelaksana Pemrosesan Akhir Sampah Unit Pengelola TPST Bantargebang, Setio Margono, mengatakan antrean truk merupakan kondisi yang lazim terjadi saat pergantian jadwal operasional atau pergantian shift.
"(Antrean) hanya terjadi di jam-jam tertentu saat pergeseran shifting, dari shift 3 ke shift 1, shift 1 ke (shift) 2, dan ((shift) 2 ke (shift) 3. Tapi hanya di range jam itu saja, setelah sekitar dua jam berjalan biasanya sudah landai," ujar Setio di TPST Bantargebang, Selasa.
Menurut Setio, truk pengangkut sampah beroperasi selama 24 jam yang dibagi ke dalam tiga shift.
“Shift 1 itu dari jam 00.00 ke jam 08.00 pagi. Shift 2 itu dari jam 08.00 pagi ke jam 16.00 (sore). Kemudian yang shift 3-nya jam 16.00 (sore) ke jam 00.00,” jelas Setio.
Baca juga: Saya Sampai, Suami Saya Sudah Dibungkus Kain Putih Cerita Pilu Istri Damkar Jaktim Andri
Saat ini, TPST Bantargebang menerima sekitar 600 hingga 700 rit truk sampah setiap hari yang dibagi ke dalam tiga shift operasional. Pembagian tersebut dilakukan agar proses pembuangan sampah tetap terkendali.
"Kalau antrean sampai satu kilometer enggak. Paling terjauh di Ciketing itu sekitar 600 meteran," kata Setio.
Setiap armada yang masuk telah dipetakan sesuai lokasi pembuangan, baik ke zona landfill, RDF Plant Bantargebang, maupun PLTSA Merah Putih, sehingga distribusi sampah dapat berlangsung lebih tertata.
"Armada-armada yang masuk di jembatan timbang kita plot mana yang ke zona landfill, mana yang ke RDF Plant Bantargebang, mana yang ke PLTSA Merah Putih. Jadi sudah teridentifikasi," ucap Setio.
Menurut dia, sejak diterapkannya penghentian sistem open dumping dan kebijakan pemilahan sampah dari sumber, volume sampah yang masuk ke zona landfill mengalami penurunan.
"Total sampah yang kita terima saat ini yang ke landfill kurang lebih hampir 5.800 ton, kemudian sisanya di-plotting ke RDF Plant Bantargebang maupun RDF Plant Jakarta," tutur Setio.
Baca juga: Bekasi, Bogor, dan Tangerang Jadi Tujuan Pindah Penduduk Terbanyak di Indonesia
Ia menambahkan, truk yang mengangkut sampah residu telah diseleksi oleh Dinas Lingkungan Hidup sebelum memasuki TPST Bantargebang.
Dengan demikian, pengelola dapat langsung mengarahkan setiap armada ke lokasi pembuangan yang telah ditentukan.
"Posisi kami menerima nomor-nomor pintu yang sudah disampaikan teman-teman dinas sebagai armada sampah residu, sehingga langsung kita plotting ke zona control landfill," tutur Setio.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang





Komentar (0)