Harga Emas Tertekan Kebijakan Moneter Ketat

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Harga emas spot internasional bergerak melemah dan tertahan akibat ketatnya kebijakan moneter bank sentral dunia, terutama Amerika Serikat. Namun, di pasar domestik Indonesia, daya tarik emas batangan justru melonjak tajam. Ini mencerminkan adanya pergeseran perilaku masyarakat dalam melindungi nilai aset mereka di tengah volatilitas ekonomi.

Di pasar internasional, laju pergerakan harga emas terpaksa memasuki fase konsolidasi dan tertekan ke zona merah di kisaran 4.000 dolar AS per troy ounce. Selasa (4/8/2026), harga emas dunia dibuka di angka 4.054 dolar AS per troy ounce. Harga emas spot sudah melemah hampir 2 persen selama sebulan terakhir dan sekitar 6 persen sejak awal tahun.

Sejumlah analis, termasuk institusi World Gold Council, mengatakan, lemahnya pergerakan harga emas dunia dipengaruhi kebijakan beberapa bank sentral dunia, seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Inggris, yang memilih mempertahankan suku bunga.

Bank Sentral AS, The Fed, belum lama ini memilih menahan suku bunga acuan pada kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen, disertai retorika yang tergolong ketat atau hawkish. Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, menegaskan komitmen bank sentral untuk memprioritaskan stabilitas harga dan pencapaian target inflasi.

Imbasnya, Indeks Dolar AS (DXY) terus menguat melampaui level 101, sementara imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS merambat naik. Kondisi ini memicu arus modal keluar (outflow) sebesar 45 ton dari instrumen ETF emas fisik global pada kuartal kedua 2026.

Mengutip TradingKey, jika harga emas global menguji area support atau batas bawah di kisaran 4.023 dolar AS per troy ounce, harga berisiko terkoreksi lebih dalam menuju level psikologis 4.000-3.900 dolar AS per troy ounce.

Memasuki paruh kedua 2026, World Gold Council memproyeksikan sektor investasi tetap menjadi motor utama penggerak permintaan emas. Transaksi di luar bursa resmi (OTC) serta aktivitas pemodal dari kawasan Asia diperkirakan memegang peranan yang kian dominan.

Senior Markets Analyst WGC, Louise Street, menekankan, instrumen emas akan tetap menjadi pilihan utama masyarakat dan institusi untuk melindungi kekayaan.

"Memasuki paruh kedua 2026, pasar tetap disokong oleh fundamental yang kuat," jelas Street dikutip dalam laporannya akhir Juli lalu.

Emas fisik kuat

Menurut Street, walau arus modal ke pasar spot meredup akibat koreksi harga, aksi beli konsisten dari bank sentral, serta meningkatnya investasi di luar bursa resmi, namun tetap mampu menjaga kestabilan pasar.

Secara akumulatif sepanjang semester I-2026 (H1-2026) perdagangan emas global masih mencatatkan pertumbuhan positif. Laporan Gold Demand Trends Q2 2026 dari World Gold Council (WGC) mencatat total permintaan emas global H1-2026 naik 2 persen secara tahunan menjadi 2.522 ton, dengan nilai transaksi mencapai 380 miliar dolar AS.

Aksi borong dari bank sentral dunia menjadi salah satu penopang utama. Pada triwulan kedua saja, bank sentral global menambah cadangan bersih sebesar 289 ton, naik 62 persen dibanding periode sama pada 2025. Hasil survei WGC menunjukkan sebanyak 45 persen bank sentral berencana terus menambah porsi cadangan emas mereka dalam 12 bulan ke depan.

Selain itu, aksi intervensi valuta asing terkoordinasi antara AS dan Jepang untuk menahan kejatuhan Yen turut mempertegas tingginya dinamika geopolitik dan krisis likuiditas global yang menempatkan emas sebagai aset aman (safe haven).

Hal ini juga dicatat World Gold Council di Indonesia. Di tengah pergerakan harga dunia yang cenderung tertekan, pasar domestik Indonesia justru menunjukkan ketahanan yang luar biasa.

Baca JugaEmas Menguat, Saatnya Perkuat Strategi Lindung Nilai

Permintaan emas batangan dan koin di Indonesia pada triwulan kedua 2026 melesat hingga 40 persen secara tahunan mencapai 15 ton. Tingginya minat masyarakat Indonesia ini dipicu oleh dua faktor utama, yaitu berlanjutnya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan kekhawatiran terhadap prospek perekonomian domestik.

"Ketahanan permintaan ini mencerminkan adanya pergeseran perilaku investor. Alih-alih sekadar merespons fluktuasi harga jangka pendek, semakin banyak investor di Indonesia yang memandang emas sebagai aset strategis untuk jangka panjang," kata Shaokai Fan, Head of Asia-Pacific (ex-China) dan Global Head of Central Banks World Gold Council.

Sementara itu, dari ranah industri perhiasan, tingginya harga emas masih menekan volume pembelian masyarakat. Permintaan perhiasan di Indonesia terkoreksi 10 persen dibanding semester I-2025. Ini melanjutkan tren penurunan selama 13 triwulan berturut-turut seiring beralihnya konsumen ke perhiasan dengan kadar emas yang lebih rendah.

Fan menilai, dukungan terhadap penguatan sektor hilir emas di dalam negeri makin solid seiring langkah pemerintah yang resmi meluncurkan Roadmap Pengembangan dan Penguatan Kegiatan Usaha dan Ekosistem Bulion.

Inisiatif ini dirancang untuk membangun kerangka kerja bank bulion (bullion bank) nasional serta memperluas akses masyarakat terhadap produk investasi emas yang terintegrasi.

"Inisiatif ini, yang didukung oleh kuatnya fundamental investasi jangka panjang, akan mendorong partisipasi investor secara lebih luas sekaligus membuka akses ke beragam produk investasi emas di tanah air," ujarnya.

Tidak hanya itu, semakin mudahnya masyarakat membeli emas fisik secara digital juga membuat perdagangan emas tetap tinggi. Di Indonesia, Ketua Persatuan Pedagang Emas Digital Indonesia (PPEDI) Anang Samsudin, dalam rilis, Jumat (24/7/2026), mengatakan literasi perdagangan emas digital juga semakin membaik.

Sementara, asosiasi terus berkoordinasi dengan lembaga terkait untuk memastikan keamanan transaksi nasabah, termasuk memastikan ketersediaan aset emas fisik dengan rasio 1:1 sebagai underlying asset dari emas yang dimiliki oleh investor.

"Sebagai asosiasi emas digital di Indonesia, PPEDI terus mendukung para anggota untuk meningkatkan literasi masyarakat serta berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperluas pasar emas digital di Indonesia," katanya.

Baca JugaInvestasi Emas Digital, Pilihan Cerdas untuk Generasi Muda Masa Kini

Hal ini menjadikan emas digital salah satu pilihan investor untuk melakukan diversifikasi aset maupun menyimpannya sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang.

Pertumbuhan transaksi emas digital pada semester I-2026 antara lain terlihat di ekosistem Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI). Sepanjang semester I-2026, emas digital yang ditransaksikan tercatat mencapai 66.372.367 gram. 

Catatan perdagangan sepanjang semester I tahun 2026 ini mengalami pertumbuhan sebesar 338 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025 dengan transaksi sebesar 15.149.074 gram.

Dari sisi nilai, sepanjang semester I-2026 tercatat sebesar Rp 172,7 Triliun, tumbuh 601 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar Rp 24,6 Triliun. 

Saat ini, di Bursa ICDX terdapat enam pedagang emas digital yang menjadi anggota bursa, yaitu PT Indogold Makmur Sejahtera (Indogold), PT Indonesia Logam Pratama (Treasury), PT Laku Emas Indonesia (Laku Emas), PT Syariah Koin Indonesia (ShariaCoin), PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (Brankas LM), dan PT Pluang Emas Sejahtera (Pluang).


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Gaya Hidup Sehat Bukan cuma Milik Atlet Profesional
• 19 jam lalu
0
thumb
Sepak Bola Indonesia: Sajadah Cinta yang Terluka
• 4 jam lalu
0
thumb
Periksa Polisi Aktif, KPK Dalami Praktik Pemerasan yang Dilakukan ke Bupati Pemalang
• 20 jam lalu
0
thumb
Harga Emas Pegadaian Galeri 24, UBS dan Antam Hari Ini 4 Agustus 2026
• 9 jam lalu
0
thumb
Hadiri Peluncuran Program Nadi JKN, Raffi Ahmad: Semua Kalangan Harus Sehat
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.