"Bukan Sedih Lagi, Enggak Kuat Bayar Utang", Cerita Petani di Rorotan Jakut Saat Gagal Panen

kompas.com
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Gagal panen akibat banjir besar yang melanda pada Januari 2026 masih menyisakan beban bagi sejumlah petani di Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara.

Kerugian akibat gagal panen membuat sebagian petani kesulitan memenuhi kebutuhan ekonomi hingga terlilit utang.

Namun, memasuki musim kemarau, tanaman padi di Rorotan kini tumbuh dengan baik dan diperkirakan siap dipanen pada akhir Agustus 2026.

Baca juga: Kebakaran Rumah di Gambir Jakpus, Damkar Sampai Lokasi 3 Menit

Salah seorang petani di Rorotan, Siti (60), mengaku bahwa gagal panen pada awal tahun membuat dirinya sama sekali tidak mendapatkan hasil dari sawah yang digarapnya.

"Iya, gagal panen. Sekarung-karung acan kemarin," ungkap dia saat ditemui Kompas.com di persawahan Rorotan pada Senin (3/8/2026).

Ia mengatakan, tak adanya pemasukan akibat gagal panen membuat dirinya sempat kesulitan membayar cicilan utang.

"Ah, bukan sedih lagi (kemarin gagal panen), kagak kuat bayar utang. Ini ntar panen bakal bayar utang kita nih," ucap dia.

Menurut Siti, kondisi sawah pada musim kemarau kali ini jauh lebih baik dibandingkan saat banjir melanda awal tahun.

Ia berharap panen yang diperkirakan berlangsung sekitar 20 hari lagi dapat berjalan lancar dan memberikan hasil yang baik.

Meski tanaman padi tumbuh dengan baik, Siti mengatakan petani tetap harus menjaga sawah dari serangan burung yang dapat merusak tanaman menjelang panen.

Baca juga: Nyaris Setahun Bekerja Tanpa Gaji, Siti Pertaruhkan Nyawa untuk Pulang dari Malaysia

Bersama petani lainnya, ia harus berjaga hingga sore hari untuk menghalau hama tersebut.

"Ini udah keliatan begini, tinggal jaga burung doang. Ntar kayak gini belum pulang nih, nanti sekitar pukul 18.00 WIB kita baru pulang," jelas dia.

Senada, petani lainnya, Somad (56), mengatakan musim kemarau tidak mengganggu pertumbuhan padi di Rorotan karena kebutuhan air untuk irigasi masih tercukupi.

"Soalnya di sini kan bisa dari Kali Gendong atau Kali BKT (Banjir Kanal Timur) itu kan ada saluran atau irigasinya gitu," jelas dia kepada Kompas.com, Senin.

Somad memperkirakan lahan sawahnya dapat menghasilkan sekitar 5 ton gabah per hektare apabila kondisi tetap mendukung hingga masa panen.

Ia berharap harga gabah tidak mengalami penurunan sehingga hasil panen dapat memberikan keuntungan lebih baik bagi para petani.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Baca juga: DPRD DKI soal Pagar Mal: Tak Perlu Khawatir Berlebihan, Jakarta Tetap Kondusif

"Ya mudah-mudahan sih harga gabahnya gitu enggak turun. Gitu aja," tambah dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Empat Orang Meninggal dalam Kebakaran KM Mutiara Sentosa 2, Ratusan Penumpang Lainnya Selamat
• 21 jam lalu
0
thumb
Purbaya Bantah Isu BI akan Berada di Bawah Kementerian
• 4 jam lalu
0
thumb
3 Drakor Terbaru Tayang Agustus 2026 di Netflix, Ada Romantis hingga Misteri
• 12 jam lalu
0
thumb
BUMD Kabupaten Serang terima hibah SPAM Mobile dari Korsel
• 7 jam lalu
0
thumb
Koalisi Jurnalis dan Masyarakat Sipil Surabaya Kecam Sebutan Londo Ireng
• 8 jam lalu
0
Berhasil disimpan.