Pelestarian Genrang Bajo: Upaya Strategis Mempertahankan Warisan Budaya Maritim Bone

harianfajar
8 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, BONE – Genrang Bajo bukan sekadar alat musik tradisional, melainkan sebuah arsip hidup yang merekam perjalanan panjang masyarakat maritim Bone, Sulawesi Selatan. Tradisi ini menyimpan pengetahuan lokal, nilai sosial, memori kolektif, serta hubungan spiritual masyarakat Bajo dengan laut dan leluhur yang menjadi identitas penting bagi komunitas tersebut.

Menjawab urgensi pelestarian Genrang Bajo, Perkumpulan Project Budaya Bone menggelar “Sarasehan Genrang Bajo sebagai Arsip Hidup Peradaban Maritim Bone: Jejak Historis, Lanskap Ritual, dan Agenda Keberlanjutan”. Kegiatan ini menjadi wadah dialog yang mempertemukan masyarakat Bajo sebagai pemilik tradisi, pelaku budaya, akademisi, pemerintah daerah, legislatif, serta generasi muda untuk bersama-sama menggali dan mendokumentasikan nilai budaya sekaligus merumuskan strategi keberlanjutan tradisi ini.

Ketua Panitia, Muhammad Aswin, S.H, menegaskan bahwa Genrang Bajo menyimpan sejarah dan kearifan lokal yang harus dijaga agar ingatan kolektif peradaban maritim tetap hidup.

“Genrang Bajo bukan hanya suara dari sebuah alat musik tradisional, tetapi suara perjalanan masyarakat Bajo yang menyimpan sejarah, nilai dan kearifan lokal. Ketika kita menjaga Genrang Bajo, kita sebenarnya sedang menjaga ingatan kolektif sebuah peradaban maritim,” katanya.

Dalam sarasehan tersebut, masyarakat Bajo sebagai pemilik pengetahuan budaya diberi ruang utama untuk berbagi pengalaman serta proses pewarisan tradisi Genrang Bajo. Melalui narasi mereka, peserta memahami bahwa tradisi ini tidak terlepas dari kehidupan sosial, ritual, dan hubungan dengan lingkungan laut.

Sementara itu, unsur pemerintah dan legislatif turut dilibatkan untuk membahas penguatan kebijakan kebudayaan yang berkelanjutan. Diskusi diarahkan pada dokumentasi, pembinaan komunitas, regenerasi pelaku budaya, serta dukungan kebijakan sebagai bagian dari agenda pembangunan kebudayaan daerah.

Pada hari kedua, sesi refleksi dan analisis strategis menggunakan pendekatan Udar Asumsi, Scenario Thinking, Analisis Iceberg, dan U-Process menggali akar persoalan keberlanjutan tradisi, seperti regenerasi, perubahan sosial, keterbatasan dokumentasi, dan kebutuhan dukungan kebijakan.

Akademisi dari bidang Administrasi Publik membantu menerjemahkan hasil diskusi menjadi kerangka kebijakan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Aspirasi dan temuan lapangan dipetakan untuk menyusun rekomendasi strategis pelestarian Genrang Bajo.

Ketua Perkumpulan Project Budaya Bone, Feby Triadi, M.A, menjelaskan bahwa masyarakat harus menjadi aktor utama dalam pelestarian budaya.

“Budaya tidak dapat dilestarikan hanya dengan melihatnya sebagai objek. Masyarakat pemilik budaya harus menjadi aktor utama dalam menentukan bagaimana tradisi mereka dirawat, diwariskan dan dikembangkan. Tugas pemerintah, akademisi dan komunitas adalah menciptakan ruang agar budaya tersebut tetap hidup,” jelasnya.

Melalui sarasehan ini, diharapkan tercapai dokumentasi pengetahuan lokal, rekomendasi strategis keberlanjutan tradisi, serta komitmen kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, akademisi, dan generasi muda. Genrang Bajo diharapkan tidak hanya bertahan sebagai simbol budaya, tetapi juga berkembang sebagai sumber pengetahuan, identitas, dan kebanggaan masyarakat Bone demi masa kini dan masa depan. (*/)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Di Komisi III, Advokat Usul RUU Perampasan Aset Ganti Nama Jadi Pemulihan Aset
• 15 jam lalu
0
thumb
Pemerintah Didesak Membuka Kembali Penempatan PMI ke Negara-negara Timur Tengah
• 12 jam lalu
0
thumb
KPK Periksa Kadis PUPR Kota Bengkulu Usai Penyitaan Uang Tunai Rp4 Miliar dari Rumahnya
• 12 jam lalu
0
thumb
Heboh Influencer Rekam Usher GIIAS Tanpa Izin, Menkomdigi Singgung Pelanggaran UU PDP
• 10 jam lalu
0
thumb
Karyawan Curi Laptop Rekan Kerja, Digadai Buat Modal Judi Bola
• 16 jam lalu
0
Berhasil disimpan.