JAKARTA, KOMPAS.com – Kepergian Kepala Regu Kelompok C Sektor Cipayung, Andriyono, saat bertugas memadamkan kebakaran di Jakarta Timur dinilai menjadi pengingat penting agar kesehatan dan keselamatan petugas pemadam kebakaran mendapat perhatian lebih besar.
Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PSI, Kevin Wu, mengatakan, peristiwa tersebut semestinya menjadi momentum Pemprov DKI Jakarta untuk mengevaluasi terhadap perlindungan kesehatan para petugas yang setiap hari berada di garis depan melindungi masyarakat.
Alarm EvaluasiMenurut Kevin, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta perlu mendalami penyebab kematian Andriyono, apabila keluarga memberikan persetujuan, agar hasilnya dapat menjadi bahan evaluasi ke depan.
Baca juga: Kebakaran Tumpukan Sampah Kramat Jati Jaktim Sudah Padam, Damkar Masih Berjaga
"Tentunya bila keluarga korban memberikan restu, Pemprov DKI harus mendalami apa penyebab kematian almarhum saat melaksanakan tugasnya kemarin," kata Kevin dalam keterangannya, Senin (3/8/2026).
Ia menilai, keluhan nyeri dada yang sempat dirasakan Andriyono sebelum meninggal tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele.
"Rasa sakit di dada ini bukan persoalan yang remeh. Itu merupakan masalah besar yang harus diperhatikan secara serius. Perlu diketahui apa penyebabnya. Ini bisa menjadi bahan evaluasi untuk terus meningkatkan kesehatan dan menjaga keselamatan para petugas di lapangan," ujarnya.
Pengabdian terakhirKevin juga menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Andriyono.
Menurut dia, almarhum telah memberikan pengabdian besar bagi warga Jakarta melalui tugasnya sebagai petugas pemadam kebakaran.
"Saya mengucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas kematian saudara Andriyono. Bersama dengan segenap petugas gulkarmat di Jakarta, ia memiliki jasa yang besar dalam melayani dan melindungi warga Jakarta," ucap Kevin.
Baca juga: Berawal dari Bocah Main Api, Tumpukan Sampah di Jaktim Terbakar hingga Tewaskan Petugas Damkar
"Semoga, almarhum dapat beristirahat dengan tenang. Dan keluarga almarhum diberikan kesabaran serta kekuatan dalam menghadapi musibah ini," lanjutnya.
Kevin berharap, pengorbanan Andriyono menjadi pengingat bagi pemerintah maupun masyarakat untuk lebih memperhatikan kondisi para petugas damkar yang setiap hari mempertaruhkan keselamatan demi melindungi warga.
"Harapannya, kejadian ini juga bisa mendorong kami, warga Jakarta, Pemprov DKI, dan seterusnya untuk lebih memerhatikan lagi kondisi para petugas gulkarmat. Mereka telah mempertaruhkan nyawanya di garda terdepan untuk melindungi masyarakat dari ancaman kebakaran," katanya.
Detik terakhirSebelumnya, Andriyono meninggal dunia saat bertugas menangani kebakaran tumpukan sampah di Kelurahan Dukuh, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, Sabtu (1/8/2026).
Kepala Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta Bayu Megantara mengatakan, saat operasi berlangsung, Andriyono bertugas mencari sumber air sebagai bagian dari dukungan operasi.
Baca juga: Damkar Jaktim Tangkap Ular Sanca Sepanjang 3 Meter yang Sembunyi di Paralon
Ketika melakukan penyambungan selang untuk penyemprotan air, Andriyono mengeluhkan nyeri di bagian dada.
Rekan-rekannya kemudian memberikan pertolongan pertama sebelum membawanya ke Rumah Sakit Harapan Bunda.
Di rumah sakit, tim medis telah melakukan resusitasi jantung paru (RJP). Namun, Andriyono dinyatakan meninggal dunia pada pukul 13.30 WIB.
Bayu menyebut almarhum memiliki riwayat penyakit jantung dan memastikan seluruh hak-haknya sebagai petugas yang gugur saat bertugas akan dipenuhi sesuai ketentuan yang berlaku.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang





Komentar (0)