Pada 2021, Indonesia sempat berdiri di posisi ketiga sebagai produsen kakao terbesar dunia (FAO, 2023). Empat tahun kemudian, posisi itu melorot ke urutan ketujuh (ICCO, 2025). Di tengah penurunan ini, satu pertanyaan justru muncul lebih kencang: bukan soal berapa banyak kakao yang bisa dihasilkan, melainkan seberapa baik kakao itu diproses dan siapa yang benar-benar diuntungkan dari rantai nilainya.
Di Kabupaten Jembrana, Bali Barat, jawaban atas pertanyaan itu sedang dirintis pelan-pelan sejak lebih dari satu dekade lalu dan hasilnya kini terasa oleh lebih dari 600 petani.
Di kebun-kebun kakao Jembrana, tanaman tidak dibiarkan tumbuh sendirian. Petani dibina menerapkan agroforestry, atau wanatani, dengan pohon naungan seperti pisang, kelapa, manggis, durian, dan alpukat yang tumbuh berdampingan dengan kakao untuk menjaga kelestarian lingkungan. Pendekatan ini bukan sekadar teknik bertani, melainkan berakar pada nilai budaya Bali, mengikuti prinsip Subak Abian, sistem pertanian tradisional yang didasarkan pada filosofi Tri Hita Karana: keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
Perjalanan menuju kakao berkelanjutan ini tidak berdiri sendiri. Sejak 2011, Yayasan Kalimajari mendampingi petani Jembrana melalui program Kakao Lestari, berkolaborasi dengan Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) untuk meningkatkan pendapatan lewat pendekatan nilai tambah, agroforestry, proses organik, dan rantai pasok yang adil.
"Program Kakao Lestari hadir pada tahun 2011 untuk mendampingi Koperasi Kakao Kerta Semaya Samaniya (KSS) dengan harapan kakao tumbuh dan lestari di Bumi Jembrana. Program ini berfokus pada peningkatan produksi, penguatan kualitas kakao premium melalui fermentasi, serta penguatan koperasi sebagai organisasi yang kuat dan mandiri," ujar Direktur Kalimajari, Agung Widiastuti. "Pendampingan ini mampu mengantarkan Koperasi KSS menembus pasar global, salah satunya Valrhona, dengan pengiriman perdana pada tahun 2015."
Yang membuat kakao Jembrana berbeda adalah apa yang terjadi setelah panen. Di fasilitas milik KSS, biji-biji kakao basah melewati proses fermentasi yang terstandarisasi, tahap teknis yang sering luput dari perhatian publik, padahal di sinilah cita rasa dan mutu premium sebuah biji kakao sesungguhnya lahir. Biji kakao diproses dan dikelola dengan standar tertinggi serta terus dikembangkan, sehingga mutunya lebih konsisten dan memudahkan penelusuran bila terjadi masalah dalam rantai pasok.
Hasilnya nyata: lebih dari 600 petani rakyat merasakan peningkatan kesejahteraan, sehingga mereka mampu mendukung pendidikan anak-anak dan turut menurunkan angka pengangguran di pedesaan setempat.
Cerita sukses Jembrana muncul justru di tengah tantangan besar sektor kakao nasional: tanaman tua, akses bahan tanam berkualitas yang terbatas, rendahnya produktivitas, minimnya kesadaran akan praktik budidaya berkelanjutan, ancaman perubahan iklim, lambatnya regenerasi petani, serta serangan hama dan penyakit.
"Agar sektor kakao tumbuh dan mampu menghadapi tantangan iklim, dibutuhkan dukungan pengembangan kapasitas petani dalam mengaplikasikan pertanian regeneratif yang cerdas iklim di Indonesia. Selain itu, dukungan lainnya seperti ketersediaan benih dan klon unggul bersertifikat, akses pembiayaan, pasar yang inklusif, penguatan kapasitas, serta penguatan kelembagaan lokal juga dibutuhkan," ujar Cocoa and Coffee Programme Manager Rikolto Indonesia, Nuzul Qudri. "Dukungan tersebut akan membantu pencapaian pendapatan layak dan peningkatan taraf kesejahteraan petani kakao."
Skala persoalan ini yang membuat model Jembrana penting untuk direplikasi. Indonesia kini tercatat sebagai produsen kakao bersertifikat Rainforest Alliance terbesar di Asia-Pasifik, dengan produksi mencapai 41.400 ton di atas 63.300 hektare lahan bersertifikasi, mencakup sekitar 56.000 petani dan 60.000 kebun di seluruh Indonesia. Apa yang terjadi di Jembrana adalah representasi kecil dari pekerjaan besar yang sedang berlangsung di skala nasional.
"Keberlanjutan kini bukan lagi jargon, melainkan kebutuhan. Pertanian regeneratif dapat menjawab tekanan perubahan iklim dan degradasi lingkungan yang menurunkan hasil panen serta mutu pasokan kakao," ujar Managing Director Asia Pacific Rainforest Alliance, Chandra Panjiwibowo.
Menurutnya, sertifikasi seperti Rainforest Alliance bukan sekadar stiker di kemasan, melainkan jaminan bahwa ada rantai pertanggungjawaban di baliknya dan konsumen lah yang pada akhirnya menentukan apakah rantai itu bertahan. "Konsumen dapat mendorong praktik regeneratif dengan bertanya dari mana cokelat mereka berasal, bagaimana diproduksi, dan apakah produksinya sudah adil bagi masyarakat. Inilah saatnya menjunjung pertanian yang memberi kembali lebih banyak bagi lingkungan dan masyarakat daripada yang diambilnya," lanjutnya.
Chandra menekankan bahwa praktik baik di kebun tidak akan bertahan tanpa dorongan dari sisi pasar. "Praktik baik di kebun dan dukungan pemerintah daerah, seperti di Jembrana, akan bertahan jika ada permintaan pasar yang mendorongnya. Melalui ACT! Project, kami turut memantik permintaan itu dengan menggerakkan sektor perhotelan, ritel, dan pariwisata di Yogyakarta dan Bali, serta mengajak konsumen memilih produk kopi, cokelat, teh, dan minyak sawit yang memenuhi prinsip keberlanjutan."
Rantai ini akhirnya sampai di tangan konsumen lewat Pipiltin Cocoa, penggerak gerakan cokelat bean-to-bar premium Indonesia yang berdiri sejak 2013. Pipiltin menyerap biji langsung dari petani di berbagai daerah, termasuk Bali. Pada 2025, bersama KSS, mereka meluncurkan cokelat premium single origin bernama "Raya Jembrana".
"Sejak awal, kami menyerap biji langsung dari petani melalui karya Koperasi KSS. Raya Jembrana memiliki makna dan harapan 'Merayakan Jembrana secara berkelanjutan' yang lahir dari kakao yang dirawat dengan sungguh-sungguh oleh para petani Jembrana," ujar Co-Founder Pipiltin Cocoa, Tissa Aunilla. "Produk ini merupakan hasil kolaborasi yang mengedepankan kualitas biji kakao fermentasi, sekaligus memperkenalkan karakter cita rasa khas daerah kepada konsumen. Peluncuran ini menjadi simbol bahwa ketika semua pihak bergerak bersama dengan visi yang sama, keberlanjutan bukan sekadar tujuan, melainkan hasil nyata."
Keberhasilan ini juga ditopang komitmen pemerintah daerah. "Kakao adalah komoditas unggulan Kabupaten Jembrana. Tidak hanya unggul, kakao Jembrana juga telah berkontribusi terhadap pergerakan kakao premium nasional melalui fermentasi. Pencapaian Silver Award pada ajang Cacao of Excellence (COEX) 2023 menjadi bukti kualitas dan konsistensi kakao Jembrana," ujar Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan.
Pemkab Jembrana menjadikan kakao sebagai identitas daerah lewat payung kebijakan khusus. "Untuk menjaga pencapaian ini, kami telah menetapkan Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2020 tentang Perlindungan dan Pengembangan Komoditas Kakao, agar dapat dikembangkan secara berkelanjutan," imbuhnya. Dukungan ini mencakup akses pembiayaan berupa pinjaman senilai Rp1,5 miliar bagi KSS untuk pembelian benih kakao anggotanya, penyediaan benih unggul, kerja sama dengan pemerintah pusat mengembangkan fasilitas pengolahan, hingga percepatan pendaftaran indikasi geografis kakao Jembrana.
Praktik pertanian berkelanjutan di Jembrana memperlihatkan satu rantai yang utuh: kebun yang dikelola dengan baik meningkatkan pendapatan petani, menghasilkan kakao bermutu, dan berujung pada sebatang coklat premium. Namun mata rantai terakhir sesungguhnya ada di tangan konsumen. Dengan memahami asal cokelat yang dibeli dan memilih produk yang menerapkan praktik berkelanjutan, baik lewat sertifikasi maupun praktik produksi yang bertanggung jawab, konsumen turut menjaga lingkungan sekaligus menghidupi para petani di baliknya.
Label Rainforest Alliance pada bungkus coklat, dengan begitu, bukan sekadar hiasan. Ia adalah ringkasan dari perjalanan panjang: dari kebun agroforestry milik petani seperti di Jembrana, lewat fasilitas fermentasi yang dijaga ketat mutunya, melalui kebijakan daerah yang melindunginya, hingga akhirnya sampai di tangan brand seperti Pipiltin dan pada akhirnya, di tangan konsumen yang memilih untuk peduli.






Komentar (0)