Presiden ke-7 RI Joko Widodo belakangan kembali aktif blusukan ke daerah. Setelah berkeliling ke Lampung, mantan orang nomor 1 di Indonesia itu melanjutkan safari politiknya ke Nusa Tenggara Timur. Kali ini, ia berkeliling daerah dengan membawa bendera Partai Solidaritas Indonesia, partai yang kini dipimpin oleh Kaesang Pangarep, putra bungsunya. Lantas, apa sebenarnya misi yang sedang dijalankan Jokowi dan targetnya?
Jokowi menjalani safari politiknya di Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak Jumat (31/7/2026) hingga Minggu (2/8/2026). Daerah itu merupakan titik kedua destinasi dari safari politiknya yang telah dimulai, di Lampung, Juni lalu.
Dalam safari politiknya ke Provinsi Lampung kala itu, ia mendatangi sejumlah wilayah antara lain Kabupaten Mesuji, Tulang Bawang, Pesawaran, Lampung Timur, dan Banda Lampung. Selain mengikuti rapat koordinasi daerah (rakorda) Partai Solidaritas Indonesia (PSI), ia juga mengikuti karnaval budaya, berbagi sembako, mengunjungi pondok pesantren. Jokowi juga menerima gelar adat ”Baginda Pemuka Bangsa”.
Kegiatan serupa dijalankan Jokowi selama blusukan ke NTT. Lagi-lagi, ia menghadiri rakorda PSI yang digelar di Kupang. Mantan Wali Kota Surakarta itu meninjau budidaya rumput laut hingga menghadiri Karnaval Gajah. Tak lupa, ia menyapa warga yang tengah beraktivitas di car free day.
Tak hanya itu, Jokowi juga menerima anugerah kehormatan sebagai sahabat dari raja-raja di Pulau Timor, NTT.
Dalam serangkaian agenda itu, beberapa petinggi Dewan Pimpinan Pusat Partai (DPP) PSI terlihat turut serta mendampingi Jokowi. Sosok-sosok itu di antaranya ialah anggota Dewan Pembina DPP PSI Raja Juli Antoni, Ketua Harian DPP PSI Ahmad Ali, dan Ketua Bidang Politik DPP PSI Bestari Barus. Mereka menyaksikan langsung antusiasme warga menyambut kedatangan Jokowi. Kerumunan dan riuh rendah seakan menjadi pemandangan lazim dari setiap titik kunjungan.
”Sedemikian deras pembangunan yang digelontorkan Pak Jokowi pada masa pemerintahan beliau sehingga itu menimbulkan kecintaan yang luar biasa dari masyarakat Kupang, dan NTT pada umumnya. Sambutan dua hari kemarin itu sungguh luar biasa di luar ekspektasi tentunya,” kata Bestari, saat dihubungi dari Jakarta, Minggu sore.
Lebih dari sekadar menyapa warga, ungkap Bestari, Jokowi juga mematok target besar bagi kader-kader PSI di NTT. Ia menyebutkan, PSI diminta mampu bersaing dalam berbagai kontestasi politik tingkat daerah yang akan diadakan pada waktu-waktu mendatang. Sebab, NTT merupakan salah satu daerah basis utama pendukung Jokowi.
Di sisi lain, Bestari memahami, kesan mendalam yang tertinggal dalam hati warga NTT itu terukir sewaktu Jokowi masih berstatus kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Tetapi, ia meyakini, warga NTT juga sudah memahami jika sekarang Jokowi sudah memiliki seragam baru, yakni PSI. Terlebih lagi, Jokowi sempat menyatakan kesediaannya bekerja keras membantu partai itu sebagaimana diutarakan pada Kongres PSI di Surakarta, Jawa Tengah, pada 2025.
”Karena tentunya, sekarang ini NTT adalah basis kekuatan PSI. Ini ditambah permakluman yang disampaikan bahwa Pak Jokowi adalah PSI. Itu membuat PSI harus punya target yang sangat besar ke depan untuk memenangi kontestasi politik sekurang-kurangnya di NTT, dan seluruh kabupaten kota di provinsi ini,” kata Bestari.
Dilihat dari capaian politiknya, PSI di NTT cukup cemerlang pada gelaran Pemilu 2024. PSI berhasil mendudukkan enam wakilnya di DPRD Provinsi NTT pada 2024, naik lima kursi dari Pemilu 2019 yang hanya memperoleh satu kursi.
Jumlah keterwakilan di DPRD kabupaten dan kota di NTT juga melonjak drastis. Dari 10 kursi pada Pemilu 2019 menjadi 34 kursi di Pemilu 2024 yang tersebar cukup merata ke seluruh daerah dari provinsi itu.
Lebih dari itu, PSI juga berhasil mendudukkan sejumlah kadernya pada jabatan kepala daerah di NTT. Sosok-sosok itu, antara lain, Wali Kota Kupang Christian Widodo yang juga menjabat Ketua DPW PSI NTT dan Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago yang kini duduk sebagai Ketua Bidang Reformasi Birokrasi DPP PSI. Selain itu, ada pula Wakil Bupati Kupang Aurum Obe Titu Eki, dan Wakil Bupati Rote Ndao Apremoi Dudelusy Dethan.
”Setelah membangun Kandang Gajah di NTT, aura-aura gajah itu di seluruh Indonesia sudah mulai terlihat satu per satu, dan ke sanalah kami akan melanjutkan safari politik Pak Jokowi bersama PSI,” kata Bestari.
Hanya, sebut Bestari, NTT dipilih menjadi destinasi yang dikunjungi paling awal bukan dipengaruhi statusnya sebagai basis pendukung Jokowi. Ia menyebut kebetulan saja DPW PSI NTT melaksanakan rapat koordinasi daerah lebih awal dibandingkan yang lainnya. Untuk itu, kunjungan lebih dahulu dilakukan ke daerah itu. Hal serupa berlaku sewaktu memutuskan untuk mengunjungi Lampung.
Ihwal destinasi safari politik lanjutan, Bestari belum bisa membeberkannya. Ia tak menampik jika banyak undangan dari sukarelawan pendukung diterima Jokowi. Tetapi, DPP PSI akan mengevaluasi bersama hasil kunjungan terakhir sebelum menentukan titik mana yang bakal didatangi kemudian.
”Kita akan pulang Jakarta dulu untuk evaluasi. Dan, kita akan tentukan ke depan untuk persiapan. Dari begitu banyak yang masuk ini, mana saja yang sudah siap. Nanti kita akan sortir yang paling siap untuk kita datangi,” kata Bestari.
Dihubungi terpisah, peneliti senior dari Pusat Riset Politik, Badan Riset dan Inovasi Nasional, Lili Romli menilai, Jokowi melakukan safari politik bukan sebatas untuk menyapa basis massanya. Dengan kehadirannya, Jokowi juga ingin memberi tahu secara gamblang bahwa ia kini menjadi bagian dari PSI. Gestur itu diharapkan berbalas dukungan pula dari para loyalisnya terhadap PSI.
”Sebagai mantan Presiden, pasti masih punya basis massa dan memiliki pengaruh. Meski tidak lagi sebagai Presiden, magnet tersebut masih ada. Oleh karena itu, ketika turun ke grassroot, ia ingin mengajak loyalisnya menjadi pendukung dan mengikuti PSI meskipun dampaknya tidak sebesar dan sekuat saat jadi Presiden,” kata Lili.
Dari segi strategi politik, jelas Lili, langkah Jokowi memilih untuk mengunjungi daerah basis pendukungnya sebagai pilihan rasional. Pasalnya, kunjungan itu jelas akan disambut baik. Bahkan, ikatan emosional yang terbangun selama ini juga semakin kuat terjaga. Apalagi aksi itu akan menegaskan basis pendukung Jokowi masih solid walaupun ia sudah tidak lagi menjabat sebagai Presiden.
Lili meyakini, safari-safari politik itu jika konsisten dilakukan akan berdampak pada elektabilitas PSI. Setidaknya, sebut dia, prediksinya itu tampak dari survei yang dirilis Saiful Mujani Research Center (SMRC) akhir Juli lalu. Pada survei itu, elektabilitas PSI sudah mencapai 4,1 persen lebih atau melampaui ambang batas parlemen yang belum diubah. Angka itu menandakan ketokohan Jokowi berdampak bagi PSI.
”Jika itu berhasil, Jokowi ingin menunjukkan pada elite nasional bahwa masih memiliki pendukung yang solid. Dan, ini penting bagi Jokowi, bukan hanya PSI, tetapi juga para elite nasional agar melihat pengaruhnya untuk agenda-agenda politik ke depan dan masa depan anaknya, khususnya Gibran, dalam panggung politik nasional,” kata Lili.






Komentar (0)