Berat badan berlebih pernah menjadi titik balik dalam hidup Saykoji. Berawal dari keinginannya hidup lebih sehat, musisi bernama asli Ignatius Rosoinaya Penyami itu mulai membiasakan diri berjalan kaki sebelum akhirnya rutin berlari.
Kini, kebiasaan tersebut tak hanya mengubah hidupnya sendiri, tetapi juga melahirkan komunitas Teman Jalan Panjang (TJP) yang menjadi wadah bagi siapa saja yang ingin memulai gaya hidup sehat.
Saykoji mengaku awalnya ia rutin berjalan kaki di kawasan Gelora Bung Karno (GBK). Namun, ide membentuk komunitas justru muncul saat mengajak putri keduanya berolahraga. Kala itu, sang anak enggan ikut ke GBK karena menganggap area ring road terlalu ramai. Saykoji kemudian mengajaknya berjalan di area luar GBK yang lebih teduh dan sepi.
“GBK itu enggak cuma ring road. Kalau kita jalan di luar-luarnya, banyak area yang tenang, pohon-pohon yang teduh, bahkan kadang ada kucing,” ujar Saykoji kepada kumparan saat ditemui di kawasan GBK.
Momen tersebut membuatnya berpikir mungkin masih banyak orang yang sebenarnya ingin mulai berolahraga, tetapi bingung harus memulai dari mana atau merasa minder melihat orang-orang yang sudah rutin berlari.
Akhirnya, ia mengunggah ajakan sederhana melalui media sosial untuk menemani siapa saja berjalan kaki sejauh lima kilometer di GBK. Tak disangka, sekitar 30 orang datang pada pertemuan pertama. Seiring waktu, jumlah pesertanya terus bertambah hingga mencapai ratusan orang.
“Nah, saya baru sadar ternyata banyak banget orang yang pengen sehat, pengen punya starting point untuk olahraga,” kata Saykoji.
Menurut Saykoji, Teman Jalan Panjang memang sengaja dibentuk bukan sebagai klub olahraga, melainkan sebagai teman bagi siapa saja yang ingin mulai bergerak.
“Yang saya berusaha ciptakan adalah memberikan komunitas yang bisa jadi starting point orang di level apa pun yang pengen sehat,” ucapnya.
Kini, Teman Jalan Panjang memiliki tiga kegiatan rutin setiap pekan. Pada hari Senin, peserta diajak berjalan santai sejauh lima kilometer di GBK tanpa perlu mendaftar maupun membayar.
Sementara itu, setiap Kamis terdapat program TJP Next Level dengan rute sekitar 10 kilometer menyusuri trotoar Sudirman hingga Thamrin. Lalu pada Sabtu, komunitas menggelar Sabtu Kita Jalan (SKJ) dengan rute sekitar lima-tujuh kilometer yang melintasi area dalam maupun luar GBK.
Bagi Saykoji, perkembangan komunitas ini justru menjadi pengingat untuk tetap konsisten menjalani gaya hidup sehat.
“Komunitas ini jadi accountability buat saya. Saya merasa punya tanggung jawab untuk hadir dan support teman-teman,” tuturnya.
Bersiap Lari di Chicago MarathonDi tengah kesibukannya mengelola komunitas, Saykoji juga tengah mempersiapkan diri mengikuti Chicago Marathon 2026 yang akan digelar pada Oktober mendatang. Namun, kali ini ia tak sekadar mengejar garis finis. Saykoji akan berlari sambil menggalang dana untuk menyediakan rumah singgah bagi keluarga anak-anak dengan penyakit kronis.
“Kalau untuk saya sendiri lari di Chicago Marathon itu saya support untuk membangun rumah singgah di Surabaya,” kata Saykoji.
Untuk menghadapi maraton sejauh 42 kilometer itu, Saykoji menjalani latihan bersama pelatih dengan target total jarak lari sekitar 40 kilometer setiap pekan.
Meski begitu, ia menegaskan tujuannya kini bukan lagi mengejar catatan waktu terbaik ataupun prestasi sebagai pelari.
“Fokus saya adalah mengajak orang-orang yang sudah enggak muda lagi untuk tetap sehat,” ujar Saykoji.
Baginya, langkah menuju hidup sehat tak harus dimulai dari olahraga berat. Cukup dengan berjalan kaki secara konsisten, siapa pun bisa memulai perubahan kecil yang berdampak besar bagi kesehatannya.






Komentar (0)