Sambal Mantu, UMKM Pangan Olahan Cabai yang Bantu Jaga Inflasi

katadata.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

Bisnis moncer Made Ani Setia Wulan bermula dari rutinitas menyajikan sambal segar untuk keluarga. Berkat kejelian melihat peluang, racikan sambal embe khas Bali buatannya kini tersaji melalui jenama kuliner Sambal Mantu.

Sambal renyah tersebut tidak hanya memanjakan lidah konsumen lokal. Produk ini juga menjadi model bisnis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pangan strategis yang merambah hingga ke pasar internasional.

Bisnis ini berawal saat Ani masih seorang ibu bekerja. Ia merasa kerepotan jika harus mengulek sambal embe segar setiap hari untuk keluarga. Guna menghemat waktu, ia berinisiatif membuat sambal porsi besar setiap akhir pekan untuk dikonsumsi pada hari-hari berikutnya.

Niat untuk mengkomersilkan racikan sambal embe tersebut muncul saat Ani pulang ke kampung halaman. Ia melihat tantangan yang dihadapi bibinya, seorang petani cabai.

Ketika musim panen cabai tiba, harga kerap anjlok karena dijual murah ke tengkulak. Ani tergerak mencoba memberikan nilai tambah pada hasil panen, dari sinilah ia dan suami mulai merintis usaha sambal dalam kemasan pada 2017.

“Sambal Mantu berasal dari kata 'menantu'. Filosofinya, menantu adalah orang luar yang masuk ke dalam sebuah keluarga dan memberi warna baru. Kami berharap Sambal Mantu hadir memberikan warna di setiap hidangan keluarga," kata Ani saat ditemui Katadata di Badung, Bali, Minggu (26/7).

Semula, Sambal Mantu hanya memproduksi dua varian dalam botol kaca. Tapi jenama pangan olahan cabai ini berkembang hingga memiliki 16 varian produk, mencakup Sambal Mantu Original, Judes (ekstra pedas), hingga varian campuran lauk seperti teri, belut, dan petai. 

Varian tersebut dikembangkan berdasarkan masukan konsumen, termasuk peluncuran kemasan pouch dan saset yang ringan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang berpergian atau berkuliah di luar negeri.

Saat pandemi Covid-19 melanda, Ani meluncurkan varian teri dan belut khusus untuk merangkul pedagang dan UMKM sekitar yang terdampak penurunan penjualan.

Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) tahunan, Sambal Mantu membina kemitraan dengan petani cabai serta perajin minyak kelapa di Kabupaten Tabanan dan Buleleng. Selain itu juga memberikan bantuan alat perasan santan guna menjaga kualitas pasokan bahan baku secara berkelanjutan.


Sambal Mantu (Katadata)
Hadapi Fluktuasi Harga dan Tembus Pasar Ekspor

Tantangan terbesar bagi lini usaha pengolahan pangan berbasis volatile food adalah fluktuasi harga bahan baku utama, seperti cabai dan bawang merah. Guna menyiasati lonjakan harga tanpa harus mengorbankan kualitas produk maupun margin usaha, Sambal Mantu menerapkan sejumlah strategi manajemen operasional terukur.

Salah satu jurus utamanya adalah skema forecasting produksi. Ani menggenjot volume produksi dan pengolahan stok jauh sebelum memasuki periode hari raya keagamaan, seperti Galungan, Kuningan, dan Idulfitri, saat harga cabai segar di pasaran melonjak tajam.

Selain itu, penetapan Harga Pokok Penjualan (HPP) dihitung berdasarkan estimasi harga puncak (peak price) bahan baku. Langkah ini diambil untuk memastikan batas aman margin usaha tetap terjaga sepanjang tahun.

Sebaliknya, ketika harga bumbu dapur sedang melandai, Sambal Mantu memanfaatkan momentum tersebut untuk menggelar berbagai promosi dan paket bundling. Ini bertujuan untuk mendongkrak volume penjualan.

Siasat bisnis tersebut berdampak langsung kepada skala operasional perusahaan. Saat ini, Sambal Mantu berkapasitas produksi 100-120 botol per hari, setara dengan mengolah 20 kilogram bumbu dapur segar. Dalam sebulan, total produksi mencapai kisaran 2.000 botol.

Sambal Mantu disokong enam orang tenaga kerja tetap dari warga lokal. Ada pula tambahan pekerja sistem borongan saat memasuki musim permintaan tinggi (high season), seperti periode liburan dan hari besar.

Sementara itu, terkait jangkauan pasar, Sambal Mantu mengombinasikan saluran pemasaran daring dan luring. Secara luring, produk sambal olahan ini tersedia toko oleh-oleh khas Bali, jaringan swalayan, hingga area komersial Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

Sementara di ranah digital, produk ini dijajakan melalui marketplace seperti Shopee, Tokopedia, TikTok Shop, serta jejaring jasa titip (jastip). Sambal Mantu bahkan merambah pasar ekspor ke Singapura, Malaysia, dan Australia.

Produk sambal kemasan ini dipasarkan seharga Rp36.000 untuk kemasan saset, serta Rp45.000 - Rp50.000 untuk kemasan botol kaca dan pouch. Kini, Sambal Manti bisa mengantongi omset bulanan berkisar Rp80 juta sampai Rp100 juta.

UMKM Pangan Bantu Jaga Inflasi

Cabai merupakan salah satu komoditas bahan pangan bergejolak (volatile food) yang menjadi penyumbang utama inflasi di Indonesia. Lonjakan harga cabai segar kerap terjadi akibat faktor cuaca, hambatan distribusi, maupun ketidakseimbangan pasokan antar-musim.

Oleh karena itu, keberadaan UMKM pengolahan pangan seperti Sambal Mantu memegang peranan krusial dalam menyerap hasil panen dan memperpanjang masa simpan komoditas hortikultura tersebut.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Bali Achris Sarwani menegaskan, penanganan inflasi komoditas pangan tidak hanya bertumpu kepada hulu (petani) melainkan juga kepada hilirisasi dan pengolahan hasil panen.

"Pertama kali ada petani cabainya, tetapi berikutnya ada UMKM pangan yang mengolah cabai menjadi produk turunannya. Supaya saat tidak musim cabai, produknya tetap ada karena sudah diolah. UMKM pangan ini penting sekali dalam ekosistem untuk mengendalikan inflasi," kata Achris.

Ia menjelaskan bahwa intervensi pembinaan yang diberikan Bank Indonesia kepada UMKM pengolahan pangan difokuskan kepada penguatan modal bisnis dan penciptaan pola ekosistem yang berkelanjutan.

Meskipun bersifat pembentukan model bisnis, keberadaan UMKM pengolah komoditas pangan olahan, jika dikonsolidasikan bersama pemerintah daerah, mampu memberikan kontribusi konkret terhadap kestabilan harga.

"Upaya kami untuk UMKM pangan sama seperti UMKM wasta, tetapi dengan tujuan berbeda. UMKM pangan ini fokus utamanya adalah pengendalian inflasi," ujar Achris.

Adapun, perjalanan Sambal Mantu jelas tak terlepas dari dukungan Bank Indonesia (BI) dan pemerintah daerah. Pada 2017, Sambal Mantu memperoleh fasilitasi sertifikasi halal gratis dari BI yang membuka jalannya menjadi UMKM binaan resmi bank sentral.

Melalui kurasi BI, Sambal Mantu aktif diikutsertakan dalam berbagai pameran dagang tingkat regional dan nasional, seperti Festival Ekonomi Syariah (FESyar), Karya Kreatif Indonesia (KKI), serta Bali Jagadhita, di samping menerima pelatihan digitalisasi, tata kelola SDM, dan pengembangan kemasan.

Dengan keterlibatan aktif UMKM pengolahan pangan seperti Sambal Mantu dalam ekosistem pengendalian inflasi, penyerapan hasil panen petani cabai dapat terjaga stabil, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berdaya saing global.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
3 Assist dan 1 Gol di Piala AFF 2026, Thom Haye Bikin John Herdman Jatuh Hati
• 6 jam lalu
0
thumb
MBG “Jumud” di Janji Politik
• 17 jam lalu
0
thumb
Karhutla dan Kekeringan Dominasi Bencana di Indonesia Selama Musim Kemarau
• 13 jam lalu
0
thumb
Jaksel catat mobil klinik hewan layani 226 ekor kucing hingga domba
• 16 menit lalu
0
thumb
Polisi Gerebek Tempat Hiburan Malam di Medan, Amankan Narkoba dalam Bentuk Vape
• 14 jam lalu
0
Berhasil disimpan.