Kala Budaya Lokal Bertemu dalam Garut International Kite Festival 2026

kompas.id
9 jam lalu
Cover Berita

Dua penari jaipong Aduh Manis menghibur ratusan penonton yang memenuhi panggung hiburan di kaki Gunung Papandayan, Sabtu (1/8/2026). Gerakan tari tradisional yang dinamis, energik, dan ekspresif ini mendapat sambutan meriah dari penonton.

Begitu pula 13 domba Garut yang sengaja dibawa untuk representasi 13 negara yang ikut dalam Garut International Kite Festival 2026.  Festival layang-layang internasional yang pertama di Garut dan berlangsung di kaki Gunung Papandayan tersebut diikuti 46 pemain layangan dan berlangsung selama lima hari sejak 29 Juli 2026 hingga 2 Agustus 2026 di Agro Wisata Tepas Papandayan, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Muhammad Yunus, peserta asal Palembang, Sumatera Selatan duduk dibawah layang-layang kuda yang dia ikat di sebuah pohon. Peserta lainnya sudah menaikkan layangan.  Yunus mengatakan awalnya membuat layangan aduan, terus mulai 1992 fokus bikin layangan hias dan membuat Simpati Kite Club 1992.

Festival kali ini ia membawa tiga layang-layang, yakni kuda, delta (berbentuk segitiga mirip pesawat), dan perahu bidar. Perahu bidar itu pernah menjadi “the most creative kite” saat festival layang-layang di Malaysia yang diikuti 55 negara. Perahu Bidar itu juga pernah ditawar 1000 euro saat bermain di Perancis, tapi orangnya nggak bisa memasang dan melepas.

Kakek Yunus, pelayang asal Palembang (KOMPAS/AGUS SUSANTO)

Kendala angin (KOMPAS/AGUS SUSANTO)

Layang-layang Cinta (KOMPAS/AGUS SUSANTO)

Muhammad Yunus dikenal oleh para pemain layangan dengan sebutan Kakek Yunus. Selain pernah menjuarai beberapa kejuaraan tingkat nasional, Yunus juga sudah mengikuti festival layang-layang internasional di Malaysia, Taiwan, Denmark, dan Perancis.

Wayan Parate dan Ketut Sudiana dari Bali juga ikut memeriahkan festival layang-layang. Kedua tangan Wayan sibuk menarik ratusan meter benang nilon yang mengikat layang-layang Garuda. Pembuatan layangan Garuda ini membutuhkan waktu dua minggu. Layangan ini sudah lima kali main hingga ke Thailand dan Perancis.

”Kendalanya disini angin tidak stabil karena di pegunungan, naik turun, beda dengan pesisir di Bali lebih stabil dan bisa mengikat layangan, bisa ngopi. Penontonnya banyak, tempatnya juga bagus, sayangnya angin tidak mendukung,” kata Wayan Perate.

Layang-layang Garuda

Agrowisata Tepas Papandayan mulai dikenal publik dalam tiga tahun terakhir. “Acara internasional ini baru pertama kali di sini dan berlangsung di pegunungan. Kami ingin mengangkat dampak ekonomi BUMDes tiga desa yakni Desa Karamatwangi, Cisurupan, dan Balewangi dan juga go international. Budaya lokal dan makanan lokal tersaji dari puluhan UMKM ada disini.  Memang ini event pertama dan kekurangan soal angin menjadi koreksi kami,”Hanafi Munandar, koordinator pelaksana.

Siang makin terik. Debu beterbangan. Peserta menurunkan layangannya bersamaan dengan surutnya angin. Petugas menyemprotkan air ke lapangan. Kopi Papandayan dari kedai Robustus yang disajikan bersama burayot simadu mengobati rasa lelah setelah menempuh perjalanan dari Jakarta selama empat jam.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Peristiwa 2 Agustus: Perang Teluk Persia Pecah hingga Hitler Jadi Fuhrer
• 14 jam lalu
0
thumb
Cara Cek Penerima PKH Agustus 2026 Pakai Data KTP di HP
• 10 jam lalu
0
thumb
Tren Administrasi Paperless Meningkat, Penggunaan e-Materai Terus Disosialisasikan
• 23 jam lalu
0
thumb
Mungkinkah MBG Dikeluarkan dari Anggaran Pendidikan Lebih Cepat?
• 4 jam lalu
0
thumb
Iran Bantah Klaim Trump soal Tunda Serangan
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.