Grid.ID - Sayembara Dedi Mulyadi terkait hadiah bagi yang bisa menangkap begal di Jabar mendapat kritik dari Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai. Hal itu pun dapat respon dari sang Gubernur Jabar.
Ya, sebelumnya, Natalius Pigai menanggapi soal sayembara Dedi Mulyadi hanya sekedar guyonan. Dan meminta hal itu jangan dianggap serius.
"Jadi, begini ya. Saya pikir pak Dedi Mulyadi ini hanya berguyon (sayembara). Jangan salah loh, ya, bisa saja soal sayembara itu guyonan.
Maka, media jangan anggap serius," ujar Natalius Pigai dikutip dari TribunJabar.id, Sabtu (1/8/2027).
Lebih lanjut, Natalius Pigai juga menyinggung terkait resiko apabila sayembara Dedi Mulyadi itu betulan diberlakukan. Dimana dikhawatirkan bisa dimanfaatkan oleh oknum-oknum.
"Saya berharap itu guyonan, tapi kalau serius diusahakan tidak boleh. Begini ya, anda membayar untuk menangkap orang. Lalu, yang menangkap itu orang yang terlatih atau tidak?
Kalau sipil yang tidak terlatih, artinya bisa saja memukul dong ya dan sampai berdarah-darah.
Apa diperbolehkan kita bayar orang untuk memukul orang lain di lapangan?
Intinya, ini rumahnya dia di Jawa Barat, tidak etis, tapi dugaan saya pak Dedi hanya guyon dan tak serius, semoga ya. Mohon jangan lagi dibenturkan," ujar Natalius Pigai.
Mengetahui hal tersebut, Dedi Mulyadi akhirnya memberikan tanggapannya. Kendati demikian, pria yang akrab disapa KDM itu tak masalah dirinya dikritik.
"Ya tidak ada masalah lah, orang mengkritik saya boleh kan. Saya biasa dikritik," ujar Dedi Mulyadi dikutip Grid.ID dari Wartakotalive.com.
Dan terkait polemik sayembara Dedi Mulyadi, banyak pihak diduga belum memahami tujuan sebenarnya dari program sayembara yang ia gagas.
"Tetapi saya selalu memberikan klarifikasi karena ada salah persepsi dan salah informasi," kata Dedi Mulyadi.
Dedi menegaskan, sayembara yang diumumkannya sama sekali bukan untuk mendorong masyarakat melakukan aksi main hakim sendiri.
Sebaliknya, program itu justru dimaksudkan agar masyarakat menyerahkan pelaku kejahatan kepada aparat penegak hukum.
"Misalnya begini, dia membandingkan persoalan sayembara dengan kejadian pengeroyokan pencuri ayam di Bali," ujarnya.
"Padahal dibalik. Andai kata ada sayembara, maka yang kehilangan ayam itu tidak akan gebukin yang nyuri ayam karena ayamnya akan diganti Gubernur," tandas Dedi Mulyadi. (*)
Artikel Asli





Komentar (0)