Serangan truk yang berisi bahan peledak terjadi di sebuah kantor polisi di Cucuta, Kolombia, dekat perbatasan dengan Venezuela sepekan sebelum pelantikan presiden terpilih Kolombia, Abelardo de la Espriella. Setidaknya 11 orang terluka akibat serangan itu.
"Saat ini, kami mencatat ada delapan anggota polisi dan tiga warga sipil yang mengalami luka-luka. Ini adalah tindakan yang keji dan brutal dan apa yang terjadi sangat disayangkan," kata sekretaris keamanan Departemen Norte de Santander dilansir kantor berita AFP, Minggu (2/8/2026).
Presiden terpilih Kolombia, Abelardo de la Espriella, langsung angkat bicara terkait aksi pengeboman kantor polisi, enam hari sebelum hari pelantikannya. Abelardo mengecam keras dan menyebut tindakan itu merupakan aksi terorisme.
"Saya mengutuk dengan nada paling keras serangan teroris penakut yang terjadi di Cucuta terhadap Kepolisian Nasional kita. Terorisme tidak akan mengintimidasi Kolombia atau mematahkan tekad rakyat Kolombia untuk hidup dalam damai dan aman," kata dia.
Penyerangan terjadi pada Sabtu (1/8) waktu setempat. Pihak berwenang menawarkan imbalan yang setara dengan lebih dari USD 32.000 atau sekitar Rp 500 juta untuk informasi yang mengarah pada para pelaku.
De la Espriella, akan resmi menjabat pada 7 Agustus di kota Cali, menggantikan Gustavo Petro. Dukungan dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump membuat pengacara jutawan ini berjanji untuk mengintensifkan perlawanan terhadap kelompok gerilya dan organisasi perdagangan narkoba lainnya yang memicu gelombang kekerasan terburuk di negara itu dalam satu dekade terakhir.
(wnv/wnv)






Komentar (0)