Ketika Prabowo Ingatkan Pengusaha Soal Bahaya Perang Nuklir

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Belum dua pekan berselang sejak Sidang Kabinet Paripurna pada 20 Juli 2026, ruang tengah Istana Negara, Jakarta, kembali dipenuhi kursi-kursi yang menghadap ke Presiden Prabowo Subianto. Kali ini bukan para menteri yang duduk di sana, melainkan sekitar 150 pengusaha yang bernaung di bawah Kamar Dagang dan Industri Indonesia.

Sama seperti anggota kabinet, mereka mendengarkan taklimat dari Presiden Prabowo pada Jumat (31/7/2026) sore. Namun, dari seluruh isi pengarahan yang berlangsung hampir tiga jam, ada satu topik yang justru bergema jauh ke luar Istana.

Sejak membuka pidatonya, Presiden sudah menyinggung soal konsep pembangunan bangsa yang mensyaratkan kolaborasi antarpihak, terutama kalangan elite. Soliditas ibarat jadi harga mati, karena Indonesia menghadapi tantangan berat, terutama imbas dari dinamika geopolitik global.

Purnawirawan jenderal yang pernah menjadi Menteri Pertahanan di era Presiden ke-7 RI Joko Widodo itu lalu menyinggung ihwal perang yang berkecamuk di berbagai belahan dunia. Di Eropa, misalnya, perang antara Ukraina dan Rusia yang berlangsung sejak 2022 belum juga tuntas hari ini. Begitu juga ketegangan di sekirat Selat Hormuz, lalu di Lebanon, bahkan di beberapa negara di Asia Tenggara.

Dan kita baru mengerti, perang di satu bagian bumi itu pengaruhnya ke mana-mana, kepada harga BBM (bahan bakar minyak) dan sebagainya.

Menurut dia, berbagai konflik itu juga menunjukkan bahwa perang yang terjadi di satu kawasan bisa berdampak ke kawasan lain, tidak terkecuali Indonesia. “Dan kita baru mengerti, perang di satu bagian bumi itu pengaruhnya ke mana-mana, kepada harga BBM (bahan bakar minyak) dan sebagainya,” tutur Prabowo.

Lebih dari ancaman kenaikan harga BBM, Prabowo juga menggarisbawahi adanya potensi perang nuklir di tengah konflik di berbagai negara itu. Potensi penggunaan senjata pemusnah massal tersebut muncul di tengah kabar bahwa ada negara yang sudah memiliki senjata nuklir. Klaim mengenai kepemilikan senjata nuklir oleh salah satu negara, menurut dia, dapat membuat negara lain juga ingin memilikinya.

“Dikatakan bahwa Iran sudah punya senjata nuklir. Sekarang Saudi Arabia ingin juga punya senjata nuklir. Tidak menutup kemungkinan Uni Emirat juga mau punya senjata nuklir, Qatar juga mau punya senjata nuklir, Mesir juga mau punya senjata nuklir,” tutur Prabowo.

Baca JugaFatwa Haram dan Misteri Senjata Nuklir Iran

Namun, belum tuntas penjelasan Prabowo soal potensi bahaya perang nuklir, agenda taklimat kepada para pengusaha Kadin itu ditutup. Waktu pengarahan yang selama sekitar 30 menit terbuka untuk publik usai, berganti menjadi momen terbatas antara Presiden dan Kadin.

Sejumlah pejabat yang berwenang meminta para wartawan yang berada di ruangan tersebut untuk keluar. Dalam waktu bersamaan, siaran langsung yang sebelumnya ada di kanal Youtube Sekretariat Presiden juga dihentikan.

Sementara pengarahan telah menjadi tertutup, substansi pengarahan Presiden menjadi sorotan publik. Di jagat maya, warganet mulai membicarakan pidato Prabowo, khususnya mengenai pernyataannya bahwa ada yang mengatakan Iran memiliki senjata nuklir sehingga negara lain turut menginginkan untuk memilikinya.

Baca JugaFenomena Bali dan Alasan Prabowo Sebut Indonesia Aman jika Terjadi Perang Dunia III

Di platform media sosial X, misalnya, akun @ardisatriawan mengunggah potongan video dari siaran langsung kanal Youtube Sekretariat Presiden yang menampilkan bagian dari pidato Presiden Prabowo di hadapan pengurus Kadin. Sesaat setelah membahas ihwal ada yang mengatakan bahwa Iran memiliki senjata nuklir lalu negara-negara lain mungkin juga ingin memilikinya, video tersebut berganti tampilan video klip iklan Prabowo tengah berkegiatan di berbagai tempat.

Dalam beberapa jam, cuitan yang diunggah pada Jumat sore itu sudah dilihat hingga 4,5 juta kali dan memancing lebih dari 1.700 komentar. Bahkan, lebih dari 10.000 akun turut membagikan kembali unggahan @ardisatriawan itu.

Isu sensitif

Sorotan lain hadir dari dosen Hubungan Internasional Universitas Indonesia Shofwan Al Banna Choiruzzad. Dalam unggahannya di platform media sosial Instagram, Shofwan mengatakan, sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, Presiden Prabowo hendaknya lebih berhati-hati dalam membuat pernyataan mengenai negara sahabat. Sekalipun pernyataan itu disampaikan di hadapan para pejabat atau politisi di dalam negeri, hal yang dibahas mengenai ”dikatakan bahwa Iran sudah punya senjata nuklir” merupakan hal sangat sensitif.

“Mengenai Iran ini sangat sensitif, karena tuduhan bahwa Iran memiliki senjata nuklir adalah dalih serangan ilegal Israel dan Amerika Serikat kepada negeri tersebut, yang telah membunuh ribuan orang dan membuat kondisi ekonomi dunia menjadi tidak stabil hingga hari ini,” tutur Shofwan yang juga menjadi Menteri Luar Negeri “Kabinet Bayangan”.

Ketika dihubungi, Sabtu (1/8/2026), Shohwan berharap agar Iran tidak menganggap pernyataan Presiden Prabowo sebagai konfirmasi atas tuduhan Israel dan AS. Sebab, ungkapan tersebut bisa menjadi insiden diplomatik. Jika berkaca pada kejadian lain, pernyataan yang menyinggung sikap negara lain bisa memantik kontroversi.

Contohnya, ketika Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membantah klaim AS bahwa negaranya bisa dipaksa tunduk melalui tekanan militer, ia mengatakan bahwa Iran tidak seperti Venezuela. Adapun Venezuela sempat mengalami krisis politik dan pergantian kepemimpinan setelah AS menangkap Presiden Nicolas Maduro melalui operasi militer Januari lalu.

Baca JugaApakah Iran Akan Bernasib seperti Venezuela?

Imbas pernyataan itu, pemerintah Venezuela pun memanggil Duta Besar Iran untuk Venezuela, Ali Chegini, untuk memprotes pernyataan Menlu Araghchi yang dianggap merendahkan dan tidak pantas. Padahal, keduanya merupakan negara sahabat.

Kejadian serupa, menurut Shofwan, bisa saja terjadi setelah pernyataan Presiden Prabowo. “(Hal) Yang mengkhawatirkan apabila ini menguatkan persepsi bahwa Indonesia mengamini narasi AS, yang menjadi dasar perang ilegal (di Iran) yang melanggar hukum internasional,” ujar Shofwan.

Oleh karena itu, Shofwan berpendapat agar Presiden lebih berhati-hati. Apalagi, publik sebenarnya bisa menangkap pesan bahwa pernyataan Prabowo yang disampaikan dalam taklimat kepada Kadin tersebut untuk mendorong semua pihak lebih waspada.

“Mungkin niatnya baik, tapi data dan cara penyampaian perlu diperhatikan dengan cermat. Kita bantu ingatkan sebagai warga negara yang baik,” tutur Shofwan.

Taklimat Presiden yang semula dimaksudkan untuk membahas tantangan ekonomi global kini menyisakan diskursus terkait dengan Iran. Hal ini menjadi pengingat, dalam diplomasi setiap ucapan pemimpin negara bisa bergema jauh ke luar dinding Istana dengan tafsir yang terbuka.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Gempur GIIAS 2026, Polytron Boyong FOX 350 hingga Subsidi Rp 6,5 Juta
• 58 menit lalu
0
thumb
Cuma Butuh 1 Hari Kuasai Braille, Inayatul Kamilah Ajarkan Al Quran kepada Sesama Tuna Netra
• 22 jam lalu
0
thumb
Daihatsu Tambah Amunisi di GIIAS 2026, Bawa Sigra Facelift hingga Terios Edisi Terbatas
• 20 jam lalu
0
thumb
Perawatan Non-Invasif Volformer, Tren Kecantikan Korea Hadir di Makassar
• 7 jam lalu
0
thumb
Bumi Resources (BUMI) Cetak Laba Rp1,3 triliun pada Semester I-2026
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.