Jakarta, CNBC Indonesia - Ada tanaman liar yang tumbuh subur di Indonesia mulai dari Sumatra hingga Papua dan berpotensi menjadi bahan bakar masa depan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa tanaman nyamplung (Calophyllum inophyllum) dapat diolah menjadi biodiesel, bioavtur (Sustainable Aviation Fuel/SAF), hingga biogasolin.
Potensi tersebut menjadi salah satu fokus pengembangan energi terbarukan yang didorong BRIN bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Webinar Nasional Mahasiswa PKR Biofuel Nyamplung 2026 bertema Krisis Energi Global: Peluang Biofuel Indonesia dan Potensi Nyamplung sebagai Feedstock Masa Depan.
Koordinator Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Biofuel Nyamplung BRIN-UGM, Wega Trisunaryanti, mengatakan pengembangan energi terbarukan menjadi kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya tantangan ketahanan energi global.
"Ketergantungan terhadap energi fosil tidak dapat berlangsung selamanya. Pengembangan energi baru terbarukan yang berasal dari potensi alam Indonesia, khususnya tanaman nyamplung, diharapkan menjadi salah satu solusi bagi ketahanan energi nasional," ujar Wega dikutip dari laman resmi BRIN, Sabtu (1/8/2026).
Sementara, kepala Pusat Studi Energi UGM, Sarjiya, mengatakan dinamika geopolitik global telah memengaruhi ketahanan energi, terutama bagi negara yang masih bergantung pada impor bahan bakar fosil.
Menurut dia, Indonesia memiliki peluang besar memperkuat kedaulatan energi melalui pemanfaatan sumber energi terbarukan berbasis potensi lokal.
"Bioenergi tidak hanya mendukung pengurangan emisi karbon, tetapi juga membuka peluang investasi, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sehingga transisi energi dapat berlangsung secara adil dan berkelanjutan," katanya.
Dalam kesempatan yang sama, peneliti ahli utama Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Budi Leksono, memaparkan hasil riset pengembangan nyamplung yang telah berlangsung hampir 18 tahun. Ia menyebut tanaman asli Indonesia tersebut memiliki sejumlah keunggulan sebagai bahan baku biofuel.
Budi menjelaskan nyamplung merupakan tanaman non-pangan sehingga tidak bersaing dengan kebutuhan pangan masyarakat. Selain itu, tanaman ini mampu tumbuh di lahan kritis maupun kawasan pesisir, berumur panjang, dan memiliki kandungan minyak yang tinggi.
Ia mengungkapkan rendemen minyak nyamplung di alam dapat mencapai lebih dari 50% dan masih berpotensi ditingkatkan melalui program pemuliaan serta budidaya intensif.
Menurut Budi, minyak nyamplung tidak hanya dapat diolah menjadi biodiesel, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi bioavtur (SAF) dan biogasolin.
Pemanfaatan nyamplung, lanjutnya, juga memberikan manfaat lingkungan karena dapat digunakan untuk rehabilitasi lahan kritis sekaligus membantu menurunkan emisi karbon.
BRIN juga menilai pengolahan nyamplung tidak berhenti pada produksi bahan bakar nabati. Limbah hasil pengolahannya dapat dimanfaatkan menjadi biochar, kompos, pakan ternak, hingga kosmetik berbasis minyak tamanu, sehingga mendukung penerapan ekonomi sirkular.
Menanggapi kekhawatiran mengenai alih fungsi lahan, Sarjiya menegaskan pengembangan biofuel harus dilakukan secara berkelanjutan dengan memanfaatkan lahan terdegradasi atau lahan kritis tanpa mengorbankan kawasan hutan produktif.
Melalui kolaborasi riset BRIN dan UGM, pengembangan biofuel berbasis nyamplung diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung target Net Zero Emission Indonesia 2060.
Wega berharap semakin banyak generasi muda tertarik mengembangkan riset biofuel berbasis sumber daya hayati Indonesia agar cita-cita mewujudkan Indonesia yang mandiri energi dan berkelanjutan dapat tercapai.
(wur)





Komentar (0)