ZURICH, KOMPAS.TV - Presiden FIFA Gianni Infantino akhirnya membatalkan proposal penjualan sebagian bisnis komersial Piala Dunia setelah mendapat penolakan luas dari berbagai pemangku kepentingan sepak bola.
Penolakan tidak hanya datang dari UEFA, tetapi juga Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), CONCACAF, pejabat senior FIFA, hingga kelompok liga nasional yang menilai rencana tersebut berisiko mengubah arah pengelolaan sepak bola dunia.
Proposal itu semula menawarkan model bisnis baru bagi FIFA melalui pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah anak perusahaan yang akan mengelola seluruh aset komersial FIFA, mulai dari penyelenggaraan Piala Dunia, penjualan hak siar, sponsor, tiket, hingga layanan hospitality.
Sekitar 20 persen saham perusahaan tersebut rencananya dilepas kepada investor swasta dengan valuasi mencapai 20 miliar dolar AS, sehingga FIFA dapat menghimpun dana sekitar 4,2 miliar dolar AS.
Lantas, mengapa rencana tersebut justru memicu penolakan?
Piala Dunia Dinilai Tidak Layak Menjadi Objek InvestasiKeberatan paling mendasar datang dari cara proposal itu memosisikan Piala Dunia sebagai bagian dari aset komersial yang dapat dimiliki investor.
Bagi banyak federasi, Piala Dunia bukan sekadar produk bisnis, melainkan simbol sepak bola dunia yang selama ini berada di bawah pengelolaan FIFA sebagai organisasi nirlaba.
UEFA menjadi pihak yang paling keras menyuarakan penolakan tersebut.
"Ada hal-hal yang terlalu penting untuk dijual," demikian pernyataan UEFA, Kamis (30/7/2026).
Konfederasi sepak bola Eropa itu menegaskan Piala Dunia harus tetap menjadi milik komunitas sepak bola, bukan kepentingan pemegang saham.
"Piala Dunia adalah milik sepak bola. Dan akan selalu demikian. Selama Eropa masih memiliki suara, Piala Dunia tidak akan pernah dijual."
Baca Juga: Pejabat Senior FIFA Mengundurkan Diri Buntut Rencana Infantino Jual Saham Piala Dunia
Investor Dinilai Bakal Ubah Arah KompetisiPenolakan tidak berhenti pada persoalan kepemilikan. Banyak pihak menilai masuknya investor akan mengubah cara FIFA mengelola turnamen karena perusahaan baru tersebut akan dituntut menghasilkan keuntungan.
Melalui FFE, FIFA berencana menghimpun dana sekitar 4,2 miliar dolar AS dengan menjual sekitar 20 persen saham kepada investor.
Sebagai imbalannya, 211 federasi anggota FIFA dijanjikan distribusi dana yang lebih besar, yakni sekitar 20 juta dolar AS untuk setiap federasi, naik dari sekitar 10 juta dolar AS yang selama ini diterima dalam satu siklus.
FIFA bahkan memperkirakan angka itu dapat meningkat menjadi 22 juta dolar AS hingga 2034 dan 24 juta dolar AS hingga 2038.
Namun, tambahan pemasukan tersebut justru memunculkan kekhawatiran bahwa investor akan mendorong FIFA memperbanyak pertandingan, memperluas turnamen, dan mengejar pendapatan lebih besar dari hak siar, sponsor, maupun tiket.
Penulis : Danang Suryo Editor : Gading-Persada
Sumber : Associated press
- FIFA
- Gianni Infantino
- Piala Dunia
- UEFA
- AFC
- CONCACAF






Komentar (0)