Konflik antara Iran dan AS-Israel mengalami eskalasi signifikan pasca wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, memicu kekhawatiran global akan potensi meletusnya Perang Dunia Ketiga.
Ketegangan meningkat seiring dengan ambisi nuklir Iran serta operasi militer yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat (AS), yang tidak hanya menimbulkan korban jiwa dalam jumlah signifikan, tetapi juga berimplikasi pada perekonomian global, terutama terhadap fluktuasi harga minyak dan emas di pasar internasional.
Sejarah Konflik Iran dan IsraelKonflik antara Iran dan Israel memiliki akar sejarah yang panjang, dengan intensitas yang semakin meningkat pasca berdirinya Republik Islam Iran, meskipun kedua negara sebelumnya pernah menjalin hubungan bilateral yang erat. Pengembangan teknologi nuklir Iran yang dimulai sejak tahun 1970-an di bawah pemerintahan Dinasti Pahlavi menjadi titik perselisihan utama setelah Revolusi Islam 1979.
Pasca-revolusi, pemerintahan baru Iran tidak hanya menguasai teknologi nuklir tersebut, tetapi juga membentuk aliansi strategis baru dengan negara-negara seperti Rusia dan Tiongkok, beralih dari kedekatan sebelumnya dengan Amerika Serikat dan Israel.
Amerika Serikat dan sekutunya, khususnya Israel memandang pengembangan nuklir Iran sebagai ancaman serius yang kemudian berujung pada penerapan sanksi internasional terhadap Iran.
Operasi Militer Gabungan AS-Israel Terhadap Iran
Masing-masing negara memiliki konvensi penamaan operasi militer, Israel melancarkan serangan dengan nama "Operation Rising Lion", sementara Amerika Serikat menggelar serangan "Operation Epic Fury". Kedua operasi ini melibatkan aset militer signifikan yang telah ditempatkan sebelumnya di sejumlah negara-negara Teluk Arab.
Operasi tersebut mengerahkan lebih dari 200 jet tempur Israel, termasuk F-35, serta rudal jelajah AS yang diluncurkan dari darat dan laut, disertai dengan serangan drone. Israel mengklaim bahwa operasi tersebut merupakan serangan pendahuluan (pre-emptive strike) untuk mencegah serangan Iran, dengan menargetkan 500 situs militer strategis di Iran, termasuk peluncur rudal.
Sasaran serangan juga meliputi kediaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Istana Negara, dan kantor Dewan Keamanan Nasional, bersamaan dengan serangan siber yang melumpuhkan sistem radar Iran serta upaya propaganda melalui berbagai kanal media.
Eskalasi Konflik, Reaksi Internasional, dan Kepemimpinan IranPresiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa tujuan operasi tersebut adalah penggulingan rezim di Iran. Sebagai respons, Iran meluncurkan rudal balistik ke kota-kota di Israel, menyebabkan kerusakan signifikan meskipun sistem pertahanan udara Israel diaktifkan. Konflik antara Iran dan Israel terus meningkat dengan kedua belah pihak saling melancarkan serangan, menyebabkan kerusakan signifikan pada fasilitas sipil dan meluas hingga melibatkan negara-negara Teluk Arab.
Jumlah pasti korban jiwa masih belum dapat dipastikan, dengan perkiraan mencapai ratusan jiwa, sementara Iran mengklaim ribuan warga sipil menjadi korban, meskipun Iran tampaknya menanggung beban kerusakan terbesar. Iran dilaporkan kehilangan Pemimpin Tertingginya, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan tersebut, klaim yang awalnya disampaikan oleh Israel dan kemudian dikonfirmasi oleh AS, menyebabkan kebingungan di awal akibat keheningan dari pihak Iran.
Wafatnya Pemimpin Tertinggi memecah belah masyarakat Iran sebagian berduka sementara sebagian lainnya merayakannya, ini menunjukan aspirasi yang berkembang di antara sebagian masyarakat untuk melepaskan diri dari pimpinan sebelumnya yang berkuasa.
Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi IranMajelis Ahli Iran secara resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran yang baru, menggantikan ayahandanya, Ayatollah Ali Khamenei, yang gugur dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat-Israel pada 28 Februari 2026.
Pelantikan ulama berusia 56 tahun tersebut diumumkan pada 8 Maret 2026 melalui mekanisme konstitusional yang melibatkan 88 anggota Majelis Ahli, meskipun berlangsung dalam situasi ketidakpastian politik dan eskalasi konflik regional yang intensif pascaserangan tersebut. Penunjukan ini memicu beragam reaksi di tingkat domestik dan internasional.
Di satu sisi, sejumlah negara seperti Oman, Irak, Azerbaijan, Rusia, dan Tiongkok menyampaikan ucapan selamat serta menyerukan penghormatan terhadap kedaulatan Iran. Di sisi lain, Pemerintah Amerika Serikat melalui Presiden Donald Trump menyatakan penolakan tegas, bahkan mengancam bahwa kepemimpinan baru Iran tidak akan bertahan lama tanpa persetujuan Washington, sementara Israel sebelumnya juga telah mengeluarkan ancaman serupa.
Di dalam negeri, laporan media merekam adanya gejolak opini publik, termasuk aksi protes yang menolak kepemimpinan Mojtaba, yang mencerminkan fragmentasi sosial di tengah tekanan perang dan krisis kepemimpinan yang sedang berlangsung. Para pengamat menilai bahwa Mojtaba Khamenei mewarisi tantangan berat, tidak hanya dari tekanan eksternal tetapi juga dari tuntutan internal untuk mempertahankan kohesi nasional dan legitimasi politik.
Dampak Konflik Iran-Israel terhadap Ekonomi GlobalKonflik berkepanjangan antara Iran dan Israel yang kini memasuki pekan ketiga pada pertengahan Maret 2026 telah menimbulkan guncangan sistemik terhadap perekonomian global, jauh melampaui sekadar fluktuasi harga komoditas energi. Para ekonom memperingatkan bahwa eskalasi ketegangan di kawasan Teluk, khususnya yang melibatkan jalur strategis Selat Hormuz, berpotensi memicu gelombang inflasi baru dan menghambat pemulihan ekonomi dunia yang masih rapuh pascapandemi.
Selat Hormuz, yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia, menjadi episentrum gangguan distribusi energi global. Penutupan jalur pelayaran vital ini mengakibatkan sekitar 15 juta barel per hari pasokan minyak Timur Tengah gagal memasuki pasar global sebuah gangguan distribusi terbesar sejak era pasca-Perang Dunia II. Akibatnya, harga minyak mentah bertahan di atas US$100 per barel, mencatatkan kenaikan lebih dari 40% sepanjang bulan Maret 2025.
Penutup: Menuju Jurang Perang DuniaKonflik antara Iran dan Israel yang terus memanas ditandai dengan serangan militer dari kedua negara, pergantian kepemimpinan di Iran, serta kekacauan di pasar energi, rantai pasok dunia, dan stabilitas kawasan semakin memperkuat kekhawatiran banyak pihak bahwa dunia sedang melangkah mendekati Perang Dunia Ketiga.
Jika tidak ada upaya diplomasi yang serius dan kerja sama nyata dari negara-negara dunia, konflik ini bisa berakibat fatal, bukan hanya bagi kawasan Timur Tengah, tetapi juga bagi seluruh tatanan global yang selama ini dibangun di atas nilai-nilai perdamaian dan kerja sama antarbangsa.





Komentar (0)