Dokter Ungkap Dampak Obesitas terhadap Kesehatan Perempuan

metrotvnews.com
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Sekitar satu dari empat orang dewasa di Indonesia hidup dengan obesitas. Permasalahan ini lebih banyak dialami perempuan dibandingkan laki-laki, yakni 36,4 persen berbanding 24,4 persen.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr. Cynthia Agnes Susanto, BMedSc, Sp.OG, mengungkap obesitas bisa memengaruhi berbagai aspek kesehatan dan menurunkan kualitas hidup. Bahkan pada perempuan, obesitas bukan hanya meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2, tapi juga berisiko memengaruhi kesehatan reproduksi, mulai dari gangguan siklus menstruasi dan ovulasi, meningkatnya risiko infertilitas dan komplikasi pada kehamilan.

“Karena itu, obesitas perlu dipandang sebagai penyakit kronis yang membutuhkan penanganan komprehensif yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu, sesuai evaluasi dokter," ujar dr. Cynthia dalam diskusi media bertajuk The Missing Conversation: Weight and Women’s Health, Jakarta, Jumat,  31 Juli 2026.

Dia menjelaskan salah satu contoh keterkaitan obesitas dengan kesehatan reproduksi adalah Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS), yang sebelumnya dikenal sebagai Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). Perubahan nomenklatur ini mencerminkan pemahaman ilmiah, kondisi tersebut bukan hanya terkait ovarium, tetapi merupakan gangguan endokrin dan metabolik yang kompleks.

PMOS merupakan penyebab tersering gangguan ovulasi, dan sekitar 35–50 persen perempuan dengan kondisi ini mengalami obesitas, yang dapat memperburuk gejala serta meningkatkan risiko komplikasi reproduksi maupun metabolik. Obesitas dan PMOS pun bisa menyebabkan kondisi yang kompleks.

“Pada sebagian perempuan, obesitas bisa memperburuk gejala dan dampak metabolik PMOS. Sementara perubahan hormonal dan metabolik yang berkaitan dengan PMOS juga bisa membuat pengelolaan berat badan menjadi lebih menantang,” ujar dr. Cynthia.

Untuk itu, kata dia, obesitas perlu mendapat perhatian yang serius. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, pendekatan pengelolaan obesitas juga berkembang. Penanganan obesitas kini dilakukan melalui pendekatan multidisiplin yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap individu, mencakup perubahan gaya hidup, dukungan psikologis, terapi farmakologis sesuai indikasi medis, hingga tindakan bedah bariatrik pada pasien tertentu.

Dalam pendekatan ini, perubahan gaya hidup dan terapi medis dipandang sebagai bagian yang saling melengkapi untuk membantu pasien mencapai pengelolaan berat badan yang berkelanjutan.

Di samping itu, salah satu perkembangan dalam tata laksana obesitas adalah hadirnya terapi GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA) yang bekerja pada mekanisme biologis pengatur rasa lapar dan kenyang di otak. Sesuai evaluasi dokter dan indikasi medis, terapi ini dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu pengelolaan berat badan, sebagai pelengkap perubahan gaya hidup.

Lebih dari sekadar menurunkan angka di timbangan, terapi ini mendukung quality weight loss, yaitu penurunan massa lemak dengan tetap mempertahankan massa otot, berpotensi menurunkan risiko penyakit kardiovaskular hingga 20 persenserta memperbaiki parameter kesehatan metabolik lainnya.

Pilihan terapi obesitas perlu ditentukan berdasarkan kondisi dan kebutuhan individual pasien oleh dokter. Pengelolaan obesitas dapat menjadi bagian dari pendekatan kesehatan yang menyeluruh bagi perempuan, termasuk bagi mereka yang hidup dengan PMOS.

Ilustrasi obesitas. Freepik

Baca Juga :

Studi Ungkap Pendekatan Baru Atasi Obesitas pada Pasien Skizofrenia

Menegaskan komitmen Novo Nordisk dalam mendukung perjalanan kesehatan perempuan,Associate Director, Medical and Regulatory, Novo Nordisk Indonesia, dr. Riyanny Meisha Tarliman, menyatakan obesitas bukan sekadar persoalan penampilan, melainkan kondisi kesehatan yang dapat memengaruhi kualitas hidup perempuan di berbagai fase kehidupan.

“Perempuan perlu memiliki informasi yang tepat agar dapat mengenali risikonya, mencari bantuan medis saat diperlukan, dan memperoleh penanganan yang sesuai bersama tenaga kesehatan,” ujar Riyanny.

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, pihaknya menghadirkan situs NovoCare.id, platform edukasi yang menyediakan informasi berbasis sains mengenai obesitas, mulai dari kalkulator BMI untuk skrining awal obesitas, fakta tentang obesitas sebagai penyakit kronis, dampaknya terhadap kesehatan, hingga pentingnya konsultasi dengan dokter dan mencari pilihan pengelolaan bersama tenaga kesehatan.

“Melalui diskusi hari ini serta situs NovoCare.id, kami berharap semakin banyak perempuan merasa didukung untuk memahami fakta seputar obesitas tanpa stigma. Selain menyediakan informasi medis yang akurat, NovoCare.id juga membantu masyarakat untuk menemukan bantuan profesional dengan mencari dokter untuk memulai langkah pengelolaan berat badan yang tepat,” ujar Riyanny.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Disperindag Sleman Pastikan Stok Bahan Pokok Aman
• 18 jam lalu
0
thumb
Di Balik Api 350 Derajat, Agus Bertahan 27 Tahun Mengantar Manusia ke Peristirahatan Terakhir
• 8 jam lalu
0
thumb
IHSG Diprediksi Terkoreksi di Area 5.970-6.029, Begini Analisa Saham AADI-BBRI
• 12 jam lalu
0
thumb
IHSG Menguat ke 6.216, Sesi 1 Naik 0,48%
• 7 jam lalu
0
thumb
Ternyata Kakek Nabi yang Pertama Memperkenalkan Nama Hari Jumat, Begini Kisahnya
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.