Pendangkalan Perairan Marunda Hambat Nelayan Melaut, Warga Minta Pengerukan Lumpur

metrotvnews.com
1 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Aktivitas nelayan di Perairan Marunda Kepu, Cilincing, Jakarta Utara, terganggu akibat pendangkalan yang semakin parah. Endapan lumpur di kawasan muara membuat kapal-kapal nelayan kerap terjebak saat air laut surut sehingga menyulitkan mereka untuk melaut. Warga pun mendesak pemerintah segera melakukan pengerukan sedimentasi.

 
Pendangkalan terjadi akibat sedimentasi yang terbawa aliran Banjir Kanal Timur (BKT) menuju Perairan Marunda Kepu. Kondisi tersebut memaksa nelayan membangun dermaga bambu secara swadaya sebagai akses menuju perahu yang kini tidak lagi dapat bersandar di bibir pantai.
 
Saat air laut pasang, nelayan masih dapat berangkat melaut. Namun ketika air surut, sejumlah kapal terjebak di endapan lumpur sehingga harus didorong atau dipindahkan ke lokasi yang lebih dekat dengan muara.
 
Salah seorang nelayan, Abdul, mengatakan sedimentasi di kawasan tersebut telah terjadi selama hampir satu dekade dan terus bertambah setiap musim hujan.
 
"Ya, udah lama. Ya hampir ada sepuluh tahunan lah. Awalnya sedikit, setiap musim hujan itu lumpur menambah. Semakin lama semakin cetek, semakin tinggi. Akhirnya susah juga," ujarnya dalam tayangan Metro Siang Metro TV, Jumat 31 Juli 2026.

Baca Juga :

Sudin SDA Jakarta Percepat Selesaikan Proyek Saluran Air di Kembangan
Menurut Abdul, kondisi paling menyulitkan terjadi saat air laut surut karena kapal tidak dapat keluar dari dermaga. Nelayan terpaksa menunggu air pasang agar bisa melaut.
 
"Kalau air surut, kita sebagai nelayan enggak bisa keluar kalau terjebak. Tapi kalau air pasang, kita harus nunggu air pasang dulu baru bisa melaut," katanya.
 
Ia menjelaskan sedimentasi terus bertambah setiap musim hujan akibat derasnya aliran air dari Banjir Kanal Timur yang membawa lumpur ke kawasan muara.
 
"Setiap dibuka pintu air, arusnya kencang, lumpur terbawa dan mengendap di sini. Setiap tahun, setiap musim hujan menambah dan semakin tinggi sampai sekarang," jelas Abdul.
 
Warga mengaku petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) kerap datang ke lokasi setelah banjir, namun hanya membersihkan sampah tanpa melakukan pengerukan lumpur. Akibatnya, sedimentasi terus menumpuk dan menghambat aktivitas nelayan.
 
Para nelayan berharap pemerintah segera melakukan pengerukan endapan lumpur di Perairan Marunda Kepu agar akses keluar-masuk kapal kembali lancar dan aktivitas melaut tidak lagi bergantung pada kondisi pasang surut air laut.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Gambaran Starting XI Persib Bandung Tanpa Diperkuat 4 Pemain Timnas Indonesia
• 9 jam lalu
0
thumb
Iran Klaim Hancurkan 3 Jet Tempur Siluman F-35 di Yordania, AS Bantah!
• 6 jam lalu
0
thumb
Kejagung Lelang 16 Unit Apartemen dan 24 Aset Tanah Milik Benny Tjokro Senilai Rp129 Miliar
• 6 jam lalu
0
thumb
Mengenal Skin Fasting yang Disebut Bermanfaat untuk Kulit
• 1 jam lalu
0
thumb
Menteri Maruarar: Bunga KPR Rumah Subsidi Tetap 5 Persen Meski BI Rate 5,75 Persen
• 5 jam lalu
0
Berhasil disimpan.