PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali memperketat pengawasan terhadap emiten dengan porsi saham publik (free float) rendah. Mulai efektif Jumat (31/7/2026), enam emiten resmi masuk dalam daftar Efek Bersifat Ekuitas dalam Pemantauan Khusus atau Full Call Auction (FCA) karena belum memenuhi ketentuan minimum kepemilikan saham publik.
Keputusan tersebut diumumkan Kepala Divisi Peraturan dan Layanan Perusahaan Tercatat BEI, Teuku Fahmi Ariandar. Enam emiten yang masuk dalam daftar FCA adalah PT Roda Vivatex Tbk (RDTX), PT Sona Topas Tourism Industry Tbk (SONA), PT Akasha Wira International Tbk (ADES), PT Destinasi Tirta Nusantara Tbk (PDES), PT Indo Komoditi Korpora Tbk (INCF), dan PT AEP Pinago Plantations Tbk (PNGO).
BEI menyatakan keenam emiten tersebut masuk dalam kriteria ke-6 pemantauan khusus karena belum memenuhi ketentuan minimum kepemilikan saham publik, yakni sedikitnya 50 juta saham untuk emiten di Papan Utama maupun Papan Pengembangan, serta memiliki free float di bawah 5% dari total saham tercatat.
Berdasarkan data per 30 Juni 2026, PNGO menjadi emiten dengan porsi saham publik paling kecil. Kepemilikan investor publik hanya mencapai 1,74% atau sekitar 13,58 juta saham, sedangkan 98,26% saham dikuasai AEP Nusantara Holdings Limited yang memiliki ultimate beneficial owner (UBO) Marcus Chan Jau Chwen. Pada pembukaan perdagangan Jumat, saham PNGO stagnan di level Rp3.570 per saham.
Sementara itu, ADES memiliki free float sebesar 8,11% atau sekitar 47,85 juta saham. Meski persentase kepemilikan publik melebihi 5%, jumlah saham publiknya masih di bawah ketentuan minimum 50 juta saham. Sebanyak 91,35% saham ADES masih dimiliki Water Partners Bottling SA.
Pasca-pengumuman BEI, saham ADES turun 8,7% ke level Rp34.025 per saham, sehingga nilai satu lot saham mencapai sekitar Rp3,4 juta.
Emiten lain yang masuk daftar FCA juga menunjukkan pergerakan saham yang beragam. Saham SONA, yang merupakan bagian dari Grup Mayapada milik Dato' Sri Tahir, dibuka stagnan di level Rp2.520 per saham. Adapun saham RDTX melemah 1,45% menjadi Rp13.600 per saham dengan struktur kepemilikan yang masih didominasi keluarga Widjaja.
Baca Juga: Demutualisasi BEI Masuk Babak Akhir, OJK Bidik Rampung September
Baca Juga: IHSG Melesat ke Level 6.219, Mayoritas Saham Kompak Menguat
Berbeda dengan emiten lainnya, saham PDES justru menguat 2,90% atau 12 poin ke level Rp402 per saham. Mayoritas saham perusahaan tersebut, yakni 66,15%, dimiliki PT Panorama Sentrawisata Tbk.
Sementara itu, saham INCF masih berada dalam status suspensi di harga Rp50 per saham. Meski masuk dalam daftar FCA, INCF memiliki porsi kepemilikan publik terbesar di antara enam emiten tersebut, yakni mencapai 42,63%.
BEI menegaskan penetapan status FCA bertujuan meningkatkan transparansi bagi investor, khususnya terhadap emiten yang memiliki free float rendah atau struktur kepemilikan publik yang dinilai belum mencerminkan kondisi sebenarnya.






Komentar (0)