Mentan Ungkap Dugaan Penyimpangan Beras Fortifikasi, Negara Rugi Rp56 Triliun

idxchannel.com
2 jam lalu
Cover Berita

Praktik tersebut juga diperkirakan menyebabkan potensi kerugian konsumen mencapai sekitar Rp71 triliun.

Mentan Ungkap Dugaan Penyimpangan Beras Fortifikasi, Negara Rugi Rp56 Triliun. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, mengungkap dugaan peredaran beras fortifikasi yang tidak sesuai standar berpotensi menimbulkan kerugian negara dari sisi subsidi pangan hingga Rp56 triliun. Praktik tersebut juga diperkirakan menyebabkan potensi kerugian konsumen mencapai sekitar Rp71 triliun.

Amran menjelaskan, beras fortifikasi merupakan pangan yang diperkaya vitamin dan mineral untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat berpenghasilan rendah, kelompok rentan, serta anak-anak yang berisiko mengalami stunting. Karena mendapat berbagai dukungan pemerintah, harga beras fortifikasi seharusnya tidak jauh berbeda dengan beras medium.

Baca Juga:
Amran Optimistis Swasembada Pangan Berlanjut hingga Akhir 2026

“Fortifikasi itu diberikan vitamin-vitamin khusus untuk masyarakat menengah ke bawah, orang yang stunting, atau kekurangan gizi. Logikanya harganya harus murah, minimal setara beras medium atau sedikit lebih tinggi karena ada tambahan vitamin. Tapi ternyata ada yang dijual sampai Rp42 ribu per kilogram. Ini tidak masuk akal, ini akal-akalan,” ujarnya saat ditemui, Jumat (31/7/2026).

Amran memaparkan, hasil pemeriksaan terhadap sampel beras fortifikasi menunjukkan sekitar 80 persen produk tidak memenuhi standar fortifikasi. Dari tiga laboratorium yang telah menyelesaikan pengujian, sebagian besar sampel dinyatakan bukan beras fortifikasi atau tidak memenuhi standar yang dipersyaratkan.

Baca Juga:
Mentan Amran Sebut Petani Merauke Semakin Sejahtera, Sudah Pakai iPhone

“Yang terdaftar itu sekitar 80 persen tidak sesuai standar. Harga rata-ratanya Rp22.665 per kilogram, bahkan ada yang mencapai Rp42 ribu. Ini sangat ekstrem. Kami menggunakan banyak laboratorium agar hasilnya akurat dan seluruh temuan akan kami tindak lanjuti,” ujarnya.

Dia menegaskan bahwa penyimpangan tersebut tidak hanya merugikan konsumen yang membeli produk tidak sesuai klaim, tetapi juga mencederai tujuan negara dalam memberikan subsidi pangan kepada masyarakat.

Baca Juga:
Tak Punya Wamen Usai Sudaryono Jabat Kepala BGN, Begini Kata Mentan Andi Amran 

Pemerintah saat ini mengalokasikan subsidi sektor pangan sekitar Rp164 triliun pada 2026. Dari jumlah tersebut, potensi subsidi yang melekat pada peredaran beras fortifikasi diperkirakan mencapai sekitar Rp56 triliun. Karena itu, praktik menjual beras yang tidak sesuai standar dan harga tinggi dinilai sebagai bentuk penyalahgunaan terhadap barang yang proses produksinya telah didukung berbagai subsidi pemerintah.

“Ini barang subsidi. Produksinya mendapat subsidi pupuk, irigasi, listrik, BBM, benih, traktor, dan lain-lain. Sudah barang subsidi, dipakai menipu pula rakyat. Ini kejam. Selain merugikan masyarakat sekitar Rp71 triliun, juga merugikan negara karena subsidi yang diberikan tidak tepat sasaran,” kata Amran.

Dia menilai modus tersebut merupakan pola yang mirip dengan kasus dugaan beras premium yang sebelumnya diungkap Kementerian Pertanian. Setelah ruang gerak pada beras premium dipersempit, pelaku diduga mengalihkan praktiknya ke beras fortifikasi yang memiliki margin keuntungan lebih besar.

“Dugaannya terjadi pergeseran. Karena premium sudah kita kunci pengawasannya, mereka bergeser ke fortifikasi. Bayangkan kalau dijual sampai Rp42 ribu per kilogram, keuntungan yang diperoleh sangat besar,” katanya.


(NIA DEVIYANA)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Respons Istana soal Putusan MK Larang Program MBG Sedot Anggaran Pendidikan
• 18 jam lalu
0
thumb
MKD DPR Akan Segera Panggil Deddy Sitorus usai Ucapan ‘Sirkus’
• 3 jam lalu
0
thumb
Sinopsis Drakor Mousetrap, Drama Thriller yang Dibintangi Ryu Jun Yeol, Akan Tayang 28 Agustus
• 2 jam lalu
0
thumb
Pendapatan Amazon Melampaui Ekspektasi Terdorong Pertumbuhan AWS, Sahamnya Langsung Melonjak
• 6 jam lalu
0
thumb
70 Ribu Warga Jabar Belum Punya Listrik, Dedi Mulyadi Targetkan 2027 Rampung
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.