Denhaag (ANTARA) - Kementerian Infrastruktur dan Pengelola Air Belanda mengatakan pada Rabu bahwa kondisi kemarau di Belanda semakin parah dengan sungai mengering dan ketinggian air tanah terus menurun.
Kementerian tersebut memperingatkan kekeringan berkepanjangan itu menimbulkan dampak yang semakin parah bagi alam, pertanian, dan pelayaran pedalaman (inland shipping).
"Sejumlah prakiraan menunjukkan bahwa cuaca panas dan cenderung kering akan terus berlanjut selama beberapa pekan ke depan, semakin menambah beban sumber daya air tawar negara tersebut yang sudah terbatas," ungkap kementerian itu dalam sebuah pernyataan.
Aktivitas pelayaran tengah menghadapi disrupsi yang terus meningkat seiring dengan penurunan muka air yang membuat kedalaman alur pelayaran menyusut, sehingga memicu pemberlakuan pembatasan tambahan di sejumlah jalur air.
Selain itu, salinisasi juga semakin meningkat, terutama di kawasan muara Rhine-Meuse dan sejumlah wilayah di Belanda barat.
Sementara itu, kualitas air yang semakin memburuk telah memicu maraknya ledakan populasi alga biru-hijau, dan peningkatan angka kematian ikan.
Pekan lalu, Pintu Air Eefde, yang menyediakan akses menuju Kanal Twente, ditutup bagi aktivitas pelayaran akibat kekeringan yang persisten dan gelombang panas yang sedang melanda.
Meskipun kekeringan semakin memburuk, kementerian itu menuturkan saat ini tidak ada hambatan dalam pasokan air minum di negara tersebut, sembari mengimbau sektor rumah tangga dan bisnis untuk tetap menggunakan air secara bijak.
Pada 16 Juli 2026, kementerian itu menaikkan status air di Belanda dari "potensi kelangkaan air" menjadi "kelangkaan air aktual", seiring dengan kekeringan yang persisten dan tingginya suhu yang terus membebani sumber daya air nasional.
Kementerian tersebut memperingatkan kekeringan berkepanjangan itu menimbulkan dampak yang semakin parah bagi alam, pertanian, dan pelayaran pedalaman (inland shipping).
"Sejumlah prakiraan menunjukkan bahwa cuaca panas dan cenderung kering akan terus berlanjut selama beberapa pekan ke depan, semakin menambah beban sumber daya air tawar negara tersebut yang sudah terbatas," ungkap kementerian itu dalam sebuah pernyataan.
Aktivitas pelayaran tengah menghadapi disrupsi yang terus meningkat seiring dengan penurunan muka air yang membuat kedalaman alur pelayaran menyusut, sehingga memicu pemberlakuan pembatasan tambahan di sejumlah jalur air.
Selain itu, salinisasi juga semakin meningkat, terutama di kawasan muara Rhine-Meuse dan sejumlah wilayah di Belanda barat.
Sementara itu, kualitas air yang semakin memburuk telah memicu maraknya ledakan populasi alga biru-hijau, dan peningkatan angka kematian ikan.
Pekan lalu, Pintu Air Eefde, yang menyediakan akses menuju Kanal Twente, ditutup bagi aktivitas pelayaran akibat kekeringan yang persisten dan gelombang panas yang sedang melanda.
Meskipun kekeringan semakin memburuk, kementerian itu menuturkan saat ini tidak ada hambatan dalam pasokan air minum di negara tersebut, sembari mengimbau sektor rumah tangga dan bisnis untuk tetap menggunakan air secara bijak.
Pada 16 Juli 2026, kementerian itu menaikkan status air di Belanda dari "potensi kelangkaan air" menjadi "kelangkaan air aktual", seiring dengan kekeringan yang persisten dan tingginya suhu yang terus membebani sumber daya air nasional.





Komentar (0)