Di atas kertas, lebih dari 64 juta anak muda adalah modal besar bangsa ini menuju cita-cita Indonesia Emas 2045. Namun realitasnya, predikat "generasi emas" kerap berbenturan dengan kenyataan pahit. Angka pengangguran pemuda masih menyentuh jutaan jiwa, terbentur kerasnya tembok dunia kerja yang sering kali lebih memihak pada koneksi dibandingkan kompetensi.
Ketika jalur wirausaha dipilih, masalah modal dan minimnya ekosistem yang mendukung kembali menjadi jalan buntu. Jika pemuda terus disanjung sebagai agen perubahan dan motor inovasi bangsa, sudah sejauh mana negara benar-benar hadir menyuguhkan ruang yang inklusif untuk mereka bertumbuh?





Komentar (0)