Harga minyak kembali naik setelah menurun tajam selama tiga hari berturut-turut di tengah kembali memanasnya konflik di Timur Tengah. Kondisi ini terus memicu ancaman terhadap kelancaran pasokan energi.
Harga minyak Brent naik 3,3% menjadi US$ 86,85 per barel pada pukul 08.01 waktu Singapura. Kenaikan ini terjadi usai penurunan harga 16% selama tiga hari perdagangan. Sementara itu, harga West Texas Intermediate menguat 3,5% menjadi US$ 82,06 per barel.
Harga minyak bergerak sangat fluktuatif sepanjang bulan ini. Pada awalnya harga melonjak ketika perang antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat. Hal ini terjadi bersamaan dengan konflik meluas ke Laut Merah, dengan kelompok Houthi yang didukung Teheran mengancam memblokade pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi.
Namun setelah itu, harga kembali terkoreksi dan menghapus sebagian kenaikannya. Eskalasi terbaru ini menimbulkan keraguan terhadap upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik yang kini telah memasuki bulan keenam.
"Kami sangat skeptis bahwa dunia berada di ambang terobosan diplomatik besar," tulis para analis RBC Capital Markets LLC, termasuk Helima Croft, dalam sebuah catatan riset dikutip dari Bloomberg, Rabu (29/7).
Militer Amerika Serikat menyatakan telah menggagalkan serangan mendadak yang dicoba dilakukan Iran terhadap pasukan AS di Timur Tengah. Di lokasi lain, milisi yang didukung Iran di Irak kembali melancarkan serangan drone ke fasilitas minyak di Wilayah Timur Arab Saudi untuk hari kedua berturut-turut, sehingga meningkatkan tekanan terhadap kerajaan tersebut.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengatakan pihaknya berhasil mencegat serangan beberapa hari lalu, namun tidak menjelaskan apakah ada fasilitas yang mengalami kerusakan. Menurut laporan media pemerintah IRIB News, Teheran membantah keterlibatannya atas serangan tersebut.
Konflik Timur Tengah juga tak lepas dari kondisi Selat Hormuz yang merupaka jalur pengiriman vital minyak dunia. Iran menyampaikan kepada Oman bahwa usulan pembagian kendali 50% oleh Teheran dan 50% oleh Oman tidak mampu menjawab kekhawatiran Republik Islam itu.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan kepada televisi pemerintah bahwa jalur masuk harus sepenuhnya berada di bawah kendali Iran, bersama dengan sebagian jalur keluar.
Sementara itu di Washington, Presiden Donald Trump bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di tengah upaya pencegahan terjadinya pengeboman terhadap Iran. Israel memberikan sinyal lebih mendukung jalur perundingan.
"Masih ada ruang bagi kontrak minyak jangka pendek untuk turun. Namun kontrak jangka panjang kemungkinan akan bergerak lebih tinggi kecuali tercapai solusi diplomatik,” kata Manajer portofolio senior di Tortoise Capital Advisors LLC, Rob Thummel.





Komentar (0)