Belajar Menjahit di Nusakambangan, Ridwan Kini Siap Menata Hidup Baru

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Deru mesin jahit terdengar nyaris tanpa henti dari Balai Latihan Kerja (BLK) Konveksi di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Selasa (28/7).

Di antara puluhan warga binaan yang sibuk merapikan potongan kain, Muhammad Ridwan (29) justru lebih sering berdiri berpindah dari satu meja ke meja lain.

Tangannya tak lagi sekadar mengoperasikan mesin jahit. Kini, ia mengamati hasil jahitan, membetulkan posisi tangan para warga binaan baru, hingga sesekali menunjukkan cara menggunakan mesin obras.

Padahal, tak sampai setahun lalu, Ridwan mengaku sama sekali tak mengetahui cara menjahit.

“Saya mengikuti kegiatan konveksi ini dari Oktober 2025, hari pertama pembukaan konveksi. Yang awalnya saya belajar menjahit, yang tadinya enggak bisa apa-apa, alhamdulillah sekarang saya bisa jadi instruktur dan membantu belajar anak binaan yang baru-baru,” kata Ridwan saat ditemui di lokasi.

Berawal pada 2025

Perjalanan itu dimulai setelah ia dipindahkan ke Nusakambangan pada Agustus 2025. Saat itu, sejumlah warga binaan dari berbagai lapas di Jawa Tengah ditempatkan untuk mengikuti program pembinaan keterampilan dan ketahanan pangan.

Ada yang memilih budidaya sidat dan sektor lainnya, Ridwan justru mantap memilih konveksi.

Alasannya sederhana. Ia ingin memiliki bekal ketika suatu hari kembali menghirup udara bebas.

“Karena buat bekal pulang. Karena kita punya keterampilan, talenta, untuk mencari pekerjaan baru di luar dan meninggalkan lingkungan yang lama,” ujarnya.

Belajar dari Nol

Belajar menjahit bukan hal mudah bagi Ridwan. Dia mengaku memulai semuanya dari nol. Ia tak pernah menyentuh mesin jahit sebelum menjalani pembinaan di Nusakambangan.

“Enggak bisa sama sekali (menggunakan mesin jahit). Belajar dari nol, benar-benar nol, enggak tahu, enggak paham sama sekali,” katanya.

Proses itu menuntut kesabaran. Setiap jahitan harus presisi, setiap potongan kain harus sesuai pola. Kesalahan kecil bisa membuat satu pakaian harus diperbaiki dari awal.

“Kesulitannya kita harus sabar, telaten, dan kompeten agar menghasilkan hasil yang bagus,” tuturnya.

Ketekunan itu perlahan membuahkan hasil. Kini Ridwan dipercaya menjadi instruktur yang mendampingi dua warga binaan baru setiap hari. Secara keseluruhan, sekitar 100 warga binaan mengikuti pelatihan konveksi di BLK tersebut.

Bukan hanya mengajari teknik menjahit, Ridwan juga membantu ketika mesin mengalami kendala.

“Puas, senang, karena yang tadinya enggak paham soal menjahit, obras, sekarang tahu. Mesin jahit, bisa benerin mesin kalau rusak, dan membantu teman-teman yang lain biar bisa terampil,” ujarnya sambil tersenyum.

Di dalam BLK Konveksi, produksi berlangsung hampir setiap hari, Senin hingga Sabtu, mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB.

Setiap lini produksi mampu menghasilkan sekitar 150 hingga 200 potong pakaian per hari. Produk yang paling banyak dikerjakan saat ini adalah seragam lapas yang didistribusikan ke berbagai lembaga pemasyarakatan di Jawa Tengah.

Meski pekerjaan itu melelahkan, Ridwan mengaku menikmati setiap prosesnya.

“Capek,” katanya singkat, lalu tertawa kecil.

Namun rasa lelah itu, menurutnya, selalu terbayar ketika melihat hasil jahitan yang rapi.

Bisa Menabung

Selama bekerja, Ridwan juga menerima premi berdasarkan jumlah produksi. Sistemnya dihitung secara borongan, dengan nilai Rp 1.500 per potong yang kemudian dibagi kepada setiap anggota tim.

Sebagian uang itu ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari selama di lapas. Sisanya ia simpan sebagai tabungan.

“Buat celengan lah, buat kita bekal pulang, ongkos atau buat jajan di sini,” katanya.

Meski belum berencana membuka usaha konveksi sendiri setelah bebas nanti, Ridwan berharap keterampilan yang diperolehnya menjadi pintu masuk untuk memulai kehidupan baru.

“Sementara mau ikut-ikut dulu ke usaha-usaha kecil rumahan atau PT,” ujarnya.

Bagi Ridwan, mesin jahit bukan lagi sekadar alat produksi.

Di balik deru suaranya, ia menemukan kesempatan untuk belajar, berbagi ilmu kepada sesama warga binaan, sekaligus menyusun harapan agar kelak dapat kembali ke masyarakat dengan identitas baru, bukan sebagai mantan narapidana, melainkan sebagai seorang penjahit yang memiliki keterampilan dan pekerjaan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
13 Sekolah Negeri di Jakarta Berstatus Heritage, Dibangun Sebelum RI Merdeka
• 23 jam lalu
0
thumb
Bedah Buku di Unpad, Musyawarah Kunci Lahirnya Regulasi yang Berpihak pada Rakyat
• 55 menit lalu
0
thumb
Dari PRSU Hingga Kursi Kepemimpinan: Kisah "Cinta Tukang Parkir'
• 8 jam lalu
0
thumb
Astronot AS dan Rusia Menyelesaikan Misi 241 Hari dan Kembali ke Bumi dengan Selamat
• 15 jam lalu
0
thumb
BCA (BBCA) Kantongi Laba Rp 29,5 T di Semester 1 2026
• 8 jam lalu
0
Berhasil disimpan.