Saham Korea Selatan mengalami tekanan hebat pada perdagangan Selasa (28/7). Aksi jual yang semula menghantam saham-saham produsen chip meluas ke berbagai sektor hingga memaksa Bursa Efek Korea menghentikan perdagangan sementara di pasar saham.
Mengutip Bloomberg, Indeks Harga Saham Komposit Korea (Kospi) merosot hampir 11 persen. Dua emiten chip terbesar, Samsung Electronics Co. dan SK Hynix Inc., masing-masing terkoreksi lebih dari 13 persen. Bursa Efek Korea menghentikan perdagangan tunai di indeks Kospi dan Kosdaq selama 20 menit setelah sebelumnya menangguhkan perdagangan program akibat anjloknya kontrak berjangka.
Pasar saham Korea Selatan yang sebelumnya menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dari euforia kecerdasan buatan (AI), kini justru menjadi contoh risiko di balik tingginya antusiasme investor. Setelah sempat mencatat reli tajam, Kospi kini telah terkoreksi lebih dari 30 persen dari posisi puncaknya sekitar satu bulan lalu.
Tekanan tersebut dipicu kekhawatiran bahwa perusahaan-perusahaan AI global akan kesulitan mengubah belanja besar menjadi keuntungan, ditambah meningkatnya persaingan dari perusahaan teknologi asal China.
“Sentimen terhadap saham semikonduktor Korea sangat lemah. Penurunan risiko yang luas, pengurangan utang paksa, pelebaran spread CDS hyperscaler, dan memburuknya sentimen investor ritel semuanya menambah tekanan jual,” kata Ha SeokKeun, kepala investasi di Eugene Asset Management.
Sepanjang sejarah, penghentian perdagangan (circuit breaker) di Kospi tergolong jarang dilakukan. Namun, dari 14 kali penghentian sejak 2000, sebanyak delapan di antaranya terjadi pada tahun ini. Sebelumnya, kebijakan serupa juga pernah diterapkan saat gejolak besar seperti pandemi Covid-19 dan perang Iran.
Padahal, Kospi sempat menjadi indeks saham dengan kinerja terbaik di dunia setelah melonjak lebih dari 100 persen sepanjang tahun hingga mencapai puncaknya. Namun reli tersebut juga dibarengi volatilitas yang tinggi, dengan tingkat volatilitas 30 hari menyentuh rekor tertinggi.
Kondisi pasar semakin bergejolak karena likuiditas yang menurun. Nilai transaksi Kospi pada perdagangan tengah hari tercatat lebih dari 30 persen di bawah rata-rata 30 hari terakhir.
Aksi jual ini diperkirakan semakin menekan investor ritel Korea Selatan yang ramai membeli saham-saham chip saat harganya mendekati puncak pada akhir Mei. Sebagian besar saham tersebut kini telah kehilangan sekitar 60 persen atau lebih dari harga debutnya.
Di sisi lain, investor asing membukukan aksi jual bersih saham Kospi senilai 4,5 triliun won atau sekitar USD 3 miliar. Sementara itu, investor ritel justru menambah kepemilikan saham mereka. Pelaku pasar juga menanti laporan kinerja SK Hynix yang dijadwalkan dirilis pada Rabu.
Gelombang aksi jual pada Selasa terjadi setelah saham-saham semikonduktor global lebih dulu melemah pada sesi sebelumnya. Sentimen negatif semakin kuat menyusul laporan mengenai kemajuan perusahaan milik negara China dalam memproduksi massal mesin pembuat chip tertentu.
“Ditambah dengan laporan adopsi litografi DUV domestik, swasembada semikonduktor Tiongkok memberikan tonggak nyata,” kata Jason Minsang Kam, kepala manajemen ekuitas aktif di Kyobo Life Insurance Co.
“Hal ini telah memicu kekhawatiran akan potensi ‘pertumpahan darah’ di pasar komoditas memori akibat kelebihan pasokan,” tambahnya.






Komentar (0)