JAKARTA, KOMPAS — Kepala Satuan Narkoba Polres Tangerang Selatan Ajun Komisaris Pardiman dan lima anggotanya tidak terlibat dalam kasus peredaran dan kepemilikan 200 katrid etomidate. Namun, Pardiman tetap diperiksa terkait tanggung jawabnya sebagai seorang kepala satuan.
Selain Pardiman, lima jajaran Polres Tangsel yang telah diserahkan kepada Subdit Pengamanan Internal (Paminal) Bidang Profesi dan Pengamanan (Bidpropam) Polda Metro Jaya adalah Inspektur Polisi Dua (Ipda) Apip Kurniawan, Ipda Ndaru Wahyu Prayogo, Ipda Oki Wira Pranata, Ipda Rudy, dan Ipda Frandhika Pria Dwi Oktavianto.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Budi Hermanto mengatakan, Kasat Narkoba Polres Tangsel tidak terlibat dalam kepemilikan dan peredaran 200 katrid etomidate yang menyeret dua polisi yakni MR dan DD. Namun, karena Pardiman menjabat sebagai seorang kepala satuan maka tugas pengawasan dan pengendalian terhadap bawahan adalah tanggung jawabnya.
"Saat ini, masih yang bersangkutan (Pardiman) masih diperiksa oleh oleh Bidang Profesi dan Pengamanan (Bid Propam) Polda Metro Jaya," ujarnya kepada wartawan, Senin (27/7/2026) malam.
Pemeriksaan akan berfokus pada apakah Pardiman mengetahui bahwa anggotanya melakukan pelanggaran tentang narkotika."Hal inilah yang akan didalami," ujar Budi.
Sebelumnya, Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri sudah menyidik dan menahan dua tersangka terkait kasus kepemilikan dan peredaran 200 etomidate, yaituR dan saudara DD. Keduanya adalah polisi yang berasal dari Polres Tangerang Selatan dan Polda Aceh.
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigadir Jenderal (Pol) Eko Hadi Santoso membenarkan operasi penangkapan yang dipimpin oleh Komisaris Besar Handik Zusen dan Komisaris Besar Kevin Leleury tersebut. Selain Pardiman, enam anggota Satres Narkoba Polres Tangsel dan satu anggota dari Kepolisian Daerah (Polda) Aceh turut ditangkap.
Mereka juga disangka menyalahgunakan wewenang dalam penegakan hukum tindak pidana narkotika. Penangkapan para polisi tersebut berkaitan dengan penyalahgunaan narkotika jenis etomidate, yakni obat keras yang umum digunakan sebagai agen anestesi medis.
Peredaran etomidate memang cukup marak bahkan menyasar remaja kelas menengah atas dan warga usia produktif, terutama berusia 17-30 tahun. Zat tersebut dikemas dalam rokok elektrik (vape) agar tidak mudah terdeteksi. Adapun pembuatan etomidate dilakukan secara ilegal di sejumlah apartemen di wilayah penyangga Jakarta.
Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Ahmad David mengatakan, sepanjang semester I-2026, pihaknya telah menyita 16.956 kartrid vape yang mengandung etomidate serta 33,88 kilogram serbuk etomidate. ”Barang bukti ini diperoleh dari clandestine lab atau laboratorium ilegal skala rumahan di sejumlah wilayah Jakarta dan sekitarnya,” ujar Ahmad, Jumat (26/6/2026).
Berdasarkan hasil penyelidikan, sebagian besar bahan baku etomidate didatangkan dari China. Bahkan, beberapa tersangka merupakan warga negara asing.
David mengatakan, sebagian besar proses produksi etomidate dilakukan di apartemen. ”Dari hasil pengungkapan, kebanyakan lokasi pembuatan etomidate berada di apartemen di wilayah penyangga Jakarta, seperti Tangerang Selatan, Bekasi, dan Kota Tangerang,” ujarnya.
Menurut David, para pelaku memilih apartemen karena interaksi antarpenghuni relatif minim sehingga risiko terdeteksi lebih kecil. ”Kebanyakan penghuni sibuk bekerja sehingga tidak banyak berinteraksi,” katanya.






Komentar (0)