JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Eddy Hartono mengungkapkan bahwa perempuan, anak-anak, dan remaja kini menjadi sasaran utama kelompok teroris seiring bergesernya pola penyebaran paham ekstremisme ke ruang digital.
"Sekarang media internet dijadikan sarana yang efektif untuk melakukan tiga hal, yaitu: rekrutmen, kontra-propaganda, dan pendanaan terorisme, Pak. Nah, ini tiga hal inilah yang sekarang pindah ke ruang digital. Dan juga perempuan, anak-anak, dan remaja menjadi sasaran utama," kata Eddy dalam acara Penguatan Kolaborasi Pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN PE) 2026-2029 di Gedung Tribrata, Jakarta, Senin (27/7/2026).
Eddy mengatakan, perubahan pola tersebut membuat kelompok yang paling rentan menjadi target adalah perempuan, anak-anak, dan remaja.
Baca juga: BNPT Sebut Ancaman Terorisme di Ruang Digital: Rekrutmen hingga Pendanaan
Menurut dia, pemerintah telah melakukan langkah mitigasi terhadap fenomena tersebut.
Sepanjang akhir 2024 hingga 2025, aparat intelijen bersama aparat penegak hukum telah melakukan pembinaan dan rehabilitasi terhadap sekitar 250 anak di bawah umur yang terpapar paham ekstremisme.
"Di akhir tahun 2024-2025, pemerintah sudah melakukan mitigasi. Kami, aparat intelijen dan aparat penegak hukum, sudah memitigasi melakukan pembinaan, rehabilitasi, kurang lebih terhadap 250 anak di bawah umur," ungkap Eddy.
Ia menjelaskan, perubahan karakter ancaman tersebut menjadi salah satu dasar penyusunan Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN PE) 2026-2029 yang telah ditetapkan melalui Peraturan Presiden.
Baca juga: BNPT Sebut Perpres Ekstremisme dan Terorisme Amanat Undang-Undang
Menurut Eddy, RAN PE tahap kedua menitikberatkan penguatan kolaborasi antara kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mencegah penyebaran ekstremisme.
Ia menambahkan, sembilan tema prioritas telah disusun berdasarkan evaluasi terhadap perkembangan ancaman terorisme yang terus berubah.
"Kita ketahui bersama bahwa UN PBB sudah mengatakan bahwa terorisme ini adalah bersifat persistent and adaptive. Jadi persistent itu adalah terorisme terus ada walau aktornya berubah. Adaptive adalah terorisme terus menyesuaikan cara, bentuk, dan medianya," kata purnawirawan Polri bintang tiga itu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang





Komentar (0)