Gelombang panas, kekeringan, dan kebakaran hutan yang kini melanda berbagai belahan dunia kemungkinan baru permulaan. El Niño kali ini diperkirakan jadi yang terkuat dalam 150 tahun dan akan bertemu dengan Bumi yang sudah dipanaskan emisi gas rumah kaca, bakal mendorong suhu global ke tingkat yang belum pernah dialami manusia modern.
Saat ini Eropa tengah mengalami gelombang panas yang memaksa sekolah ditutup dan aktivitas luar ruang dibatasi. Di kawasan Mediterania, suhu mendekati 50 derajat celsius memicu kebakaran yang meluas dari Yunani hingga Turki.
Di Amerika Serikat, kebakaran hutan kembali menghanguskan jutaan hektar lahan dan memaksa ribuan orang mengungsi. Di Kanada, asap kebakaran melintasi benua, mengubah langit kota-kota besar menjadi jingga.
Sementara itu, di Indonesia, musim kemarau datang lebih kering di sejumlah wilayah, ancaman kebakaran hutan meningkat, dan petani kembali menghadapi ketidakpastian musim tanam.
Namun, semua peristiwa tersebut mungkin baru merupakan pembuka. Para ilmuwan kini memperingatkan bahwa El Niño yang sedang berkembang berpotensi menjadi yang terkuat dalam sedikitnya 150 tahun terakhir.
Bila proyeksi ini terbukti benar, fenomena alam tersebut akan berpadu dengan pemanasan global akibat emisi gas rumah kaca sehingga mendorong suhu Bumi ke tingkat yang belum pernah dialami manusia modern.
Seperti El Niño sebelumnya, puncak panas biasanya akan terjadi setahun setelahnya. Data Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menunjukkan, rekor suhu terpanas di Bumi tercatat pada 2024, setahun setelah terjadinya El Niño pada 2023.
Suhu rata-rata permukaan global sekitar tahun 2024 1,55 derajat celsius di atas rata-rata periode praindustri 1850–1900. Hal ini melampaui rekor sebelumnya pada tahun 2023, sekitar 1,45 derajat celsius di atas tingkat praindustri.
"Tidak mustahil, suhu rata-rata global pada 2027 mencapai sekitar 1,7 derajat celsius di atas tingkat pra-industri," kata Zeke Hausfather, ilmuwan iklim dari Berkeley Earth, seperti dilaporkan Nature pada Rabu (23/7/2026).
Angka tersebut jauh melampaui ambang 1,5 derajat celsius yang selama ini dijadikan target utama Perjanjian Paris untuk menghindari dampak perubahan iklim yang paling berbahaya.
Bagi sebagian orang, El Niño mungkin hanya terdengar sebagai istilah cuaca yang muncul beberapa tahun sekali. Padahal, dampaknya menjangkau hampir semua aspek kehidupan: dari harga pangan, kesehatan masyarakat, pasokan air, hingga kebakaran hutan dan terumbu karang.
El Niño merupakan bagian dari siklus alami El Niño–Southern Oscillation (ENSO), yaitu perubahan suhu permukaan laut dan pola angin di Samudra Pasifik tropis. Dalam kondisi normal, angin pasat mendorong air hangat ke arah Indonesia dan Australia sehingga wilayah barat Pasifik relatif basah.
Namun saat El Niño muncul, angin tersebut melemah. Air hangat bergeser ke arah timur menuju Amerika Selatan, sementara Indonesia, Australia, dan sebagian Asia Tenggara kehilangan pasokan uap air yang biasanya memicu hujan. Akibatnya, musim kemarau menjadi lebih panjang, kekeringan meluas, dan risiko kebakaran meningkat.
Di sisi lain, wilayah pesisir barat Amerika justru menghadapi badai yang lebih kuat, banjir, dan gelombang laut ekstrem. Fenomena ini bukanlah sesuatu yang baru. El Niño telah berulang setiap dua hingga tujuh tahun. Namun yang membuat para ilmuwan khawatir kali ini adalah kekuatannya.
Menurut proyeksi dari 14 model iklim yang dianalisis Berkeley Earth, suhu permukaan laut di kawasan Pasifik tropis diperkirakan melampaui rekor El Niño 2015–2016 dengan selisih mat besar. Bahkan median hasil model menunjukkan anomali suhu 0,8 derajat celsius lebih tinggi dibandingkan rekor sebelumnya. "Itu selisih yang mencengangkan," kata Hausfather.
Peningkatan suhu permukaan laut Pasifik dan pola angin yang menjadi ciri khas El Niño menguat dengan cepat sejak Juni 2026. Dalam peringatan terbaru, Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) memberikan peluang empat dari lima terjadinya peristiwa "sangat kuat" akhir tahun, dengan hampir pasti kondisi El Niño akan berlanjut hingga April 2027.
“Saat ini kita melihat semua penanda keterkaitan atmosfer-laut yang amat kuat di Samudra Pasifik khatulistiwa, yang memberi kita keyakinan lebih bahwa kita akan melihat El Niño 'sangat kuat' dan akan termasuk El Niño terkuat dalam catatan sejarah kita,” kata Michelle L’Heureux, ahli meteorologi di NOAA yang memimpin tim prediksi ENSO.
Namun, perkiraan NOAA mungkin bersifat konservatif. Dalam unggahan blog pekan lalu dan pengarahan hari ini, Hausfather membandingkan proyeksi dari 14 model iklim untuk El Niño ini.
Saat ini kita melihat semua penanda keterkaitan atmosfer-laut yang amat kuat di Samudra Pasifik khatulistiwa, yang memberi kita keyakinan lebih bahwa kita akan melihat El Niño 'sangat kuat' dan akan termasuk El Niño terkuat dalam catatan sejarah kita.
Hasil analisis ini menunjukkan perkiraan median untuk suhu permukaan laut puncak di Pasifik 0,8 derajat celsius lebih tinggi daripada rekor sebelumnya yang ditetapkan pada 2015–2016. “Ini bukan kesimpulan pasti, tapi kemungkinannya meningkat dari bulan ke bulan,” katanya.
Jika El Niño adalah korek api, maka perubahan iklim lebih dulu menumpuk kayu bakarnya. Sejak revolusi industri, suhu rata-rata Bumi meningkat lebih dari 1,3 derajat celsius akibat pembakaran batu bara, minyak, dan gas. Lautan menyerap lebih dari 90 persen kelebihan panas tersebut.
Ketika El Niño datang, sebagian panas yang tersimpan di laut dilepaskan ke atmosfer. Karena latar belakang iklim kini jauh lebih hangat dibandingkan satu abad lalu, tambahan panas dari El Niño menghasilkan dampak jauh lebih besar daripada masa lalu. Inilah yang menjelaskan mengapa dua tahun terakhir dipenuhi rekor demi rekor suhu.
Laut Mediterania, Atlantik Utara, hingga perairan Asia mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah pengamatan. Gelombang panas ekstrem melanda Eropa, Timur Tengah, India, Tiongkok, Jepang, hingga Amerika Utara. Di banyak kota, suhu melampaui kapasitas tubuh manusia untuk beradaptasi.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) sebelumnya telah memperingatkan bahwa dunia memasuki era baru cuaca ekstrem, ketika rekor panas bukan lagi pengecualian, melainkan semakin sering terjadi.
Sesungguhnya dunia tidak perlu menunggu puncak El Niño untuk melihat dampaknya. Musim panas tahun ini telah memperlihatkan bagaimana kombinasi pemanasan global dan El Niño mampu memperparah bencana.
Di Eropa Selatan, kebakaran hutan kembali meluas di Yunani, Spanyol, Italia, dan Turki setelah gelombang panas berkepanjangan mengeringkan vegetasi. Ribuan warga dievakuasi ketika api mendekati kawasan permukiman dan destinasi wisata.
Sementara di Amerika Serikat bagian barat, kekeringan yang berlangsung selama bertahun-tahun memperpanjang musim kebakaran. California, Arizona, hingga New Mexico menghadapi suhu ekstrem yang memecahkan rekor.
Kanada juga mengalami salah satu musim kebakaran terburuk dalam sejarahnya. Asap dari jutaan hektar hutan yang terbakar bahkan mencapai New York dan Washington, menurunkan kualitas udara hingga tingkat berbahaya.
Di Asia, suhu ekstrem memecahkan rekor di Jepang, Korea Selatan, dan sebagian Tiongkok. Kekeringan mengganggu produksi pertanian di beberapa wilayah, sementara hujan ekstrem terjadi di kawasan lain akibat perubahan pola sirkulasi atmosfer.
Indonesia pun tidak luput dari ancaman. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) berulang kali mengingatkan meningkatnya potensi kekeringan meteorologis di berbagai provinsi, penurunan debit sungai, gangguan produksi pangan, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, dan Papua.
Bila El Niño berkembang sesuai proyeksi, tekanan terhadap sektor pertanian, pasokan air bersih, dan kesehatan masyarakat diperkirakan akan semakin besar.
Dampak El Niño tidak berhenti pada cuaca. Justin Mankin, ilmuwan iklim dari Dartmouth College dalam laporannya di jurnal Science pada 2023, memperkirakan El Niño besar tahun 1997–1998 mengurangi pertumbuhan ekonomi global hingga 5,7 triliun dolar AS dalam tahun-tahun setelahnya.
Kerugian itu muncul melalui berbagai jalur yakni gagal panen, gangguan perdagangan, kerusakan infrastruktur, peningkatan penyakit, hingga produktivitas tenaga kerja yang turun akibat suhu tinggi. Berdasarkan model Mankin ini, jika El Niño kali ini lebih kuat, kerugian ekonomi global diperkirakan dapat mencapai 10 triliun dolar AS pada tahun 2032.
Angka tersebut belum memasukkan kerugian yang sulit diukur, seperti hilangnya keanekaragaman hayati atau memburuknya kesehatan masyarakat.
Gelombang panas, misalnya, meningkatkan risiko kematian akibat penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, dan gangguan pernapasan. Di kota-kota besar, suhu malam yang tetap tinggi membuat tubuh tidak memiliki kesempatan untuk memulihkan diri.
Padahal El Niño juga membawa kabar buruk bagi lautan. Ketika suhu permukaan laut meningkat, karang kehilangan alga mikroskopis yang menjadi sumber energi utamanya. Fenomena ini dikenal sebagai pemutihan karang atau coral bleaching.
Jika suhu tinggi berlangsung terlalu lama, karang akan mati. Padahal terumbu karang menjadi rumah bagi sekitar seperempat spesies laut meski hanya menutupi sebagian kecil dasar samudra.
Laut yang lebih hangat juga menyerap karbon dioksida lebih sedikit sehingga kemampuan alam memperlambat perubahan iklim ikut melemah. Artinya, semakin panas lautan, semakin kecil pula kemampuan Bumi meredam pemanasan yang sedang berlangsung.
Kini, pertanyaan terbesar para ilmuwan bukan hanya apakah El Niño kali ini akan memecahkan rekor. Yang lebih penting adalah apakah dunia sedang memasuki era baru ketika El Niño menjadi lebih sering dan lebih kuat akibat perubahan iklim.
Paleoklimatolog Kaustubh Thirumalai dari University of Arizona dalam laporannya di Nature pada 2024 telah mengingatkan bahwa sistem iklim Bumi saat ini masih berada dalam masa transisi. "Sistem iklim belum mencapai keseimbangan," katanya.
Selama emisi karbon terus meningkat, keseimbangan baru itu belum akan tercapai. Dengan kata lain, apa yang kita alami hari ini mungkin bukan puncaknya.
Jika sebelumnya El Niño dipandang sebagai fenomena alam yang datang dan pergi. Kini, persepsi itu mulai berubah. Dalam iklim yang telah dipanaskan aktivitas manusia, El Niño tak lagi sekadar siklus cuaca.
El Nino juga menjadi pengganda risiko, memperbesar panas yang sudah ekstrem, memperpanjang kekeringan yang sudah parah, memperluas kebakaran yang sudah sulit dikendalikan, serta mempercepat kerusakan ekosistem yang selama ini menjadi penyangga kehidupan.






Komentar (0)