Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) dr. Muhadi, Sp.PD, K-Kv, FINASIM, M.Epid menyampaikan sejumlah hal yang perlu diperhatikan ketika hidup bersama atau mengurus orang lanjut usia (lansia).
“Ya, tentu saja lansia itu kan juga seseorang yang ya berhak mendapatkan kehidupan yang layak, termasuk harus sehat,” kata Muhadi, ketika ditemui ANTARA usai acara EIMED untuk komunitas di Jakarta, pada Sabtu.
Muhadi mengatakan bahwa lansia sama sebagaimana manusia lainnya mengalami berbagai kondisi yang mungkin terjadi suatu kegawatdaruratan baik itu dipicu oleh faktor internal maupun faktor eksternal.
Dalam hal ini, faktor internal yang perlu diperhatikan, lanjut Muhadi, yang mungkin bisa menjadi pemicu suatu kegawatdaruratan berasal dari kondisi kesehatan lansia itu sendiri.
“Misalkan dia punya penyakit kemudian tiba-tiba menjadi berat penyakitnya,” imbuh dia.
Baca juga: Kemenkes perkuat layanan lansia agar penduduk menua dengan bermartabat
Selain kondisi kesehatan, faktor lingkungan juga perlu diperhatikan dalam mengurus lansia. Muhadi menyampaikan bahwa kondisi kegawatdaruratan pada lansia juga dapat dipicu oleh faktor lingkungan yang kurang mendukung.
Ia mencontohkan seperti dalam satu lingkungan di rumah seperti pencahayaan yang kurang baik atau permukaan lantai licin sehingga lansia mudah terjatuh.
“Jadi seharusnya mereka (para pendamping) yang bersama hidup dengan lansia harus memperhatikan faktor-faktor eksternal dan internal. Nah kita perbaiki faktor-faktor eksternal, internalnya,” tutur dia.
Baca juga: Pertagas dukung kualitas hidup 70 lansia lewat pemeriksaan kesehatan
Lebih lanjut, Muhadi mengingatkan dalam merawat lansia membutuhkan pengasuhan yang berbeda dibandingkan dengan merawat anak-anak atau orang sakit yang bukan berusia lanjut.
“Asuhan untuk mereka lansia tuh pasti berbeda dengan mengasuh anak-anak atau mengasuh orang sakit yang bukan lansia,” kata dia.
Sebelumnya, berdasarkan data Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 bahwa jumlah penduduk lansia (berusia >60 tahun) mencapai 34 juta jiwa atau hampir 12 persen dari total populasi.
Dalam hal ini, pemerintah terus memperkuat berbagai program promotif dan preventif untuk mencegah penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama kecacatan dan kematian pada usia lanjut, seperti deteksi dini penyakit melalui cek kesehatan gratis (CKG), di mana sekitar 6,8 juta lansia sudah memanfaatkan CKG.
Baca juga: Ratusan lansia di Pulau Harapan ikuti cek kesehatan di posyandu
Baca juga: Kemenkes: Infrastruktur ramah lansia investasi HALE nasional
“Ya, tentu saja lansia itu kan juga seseorang yang ya berhak mendapatkan kehidupan yang layak, termasuk harus sehat,” kata Muhadi, ketika ditemui ANTARA usai acara EIMED untuk komunitas di Jakarta, pada Sabtu.
Muhadi mengatakan bahwa lansia sama sebagaimana manusia lainnya mengalami berbagai kondisi yang mungkin terjadi suatu kegawatdaruratan baik itu dipicu oleh faktor internal maupun faktor eksternal.
Dalam hal ini, faktor internal yang perlu diperhatikan, lanjut Muhadi, yang mungkin bisa menjadi pemicu suatu kegawatdaruratan berasal dari kondisi kesehatan lansia itu sendiri.
“Misalkan dia punya penyakit kemudian tiba-tiba menjadi berat penyakitnya,” imbuh dia.
Baca juga: Kemenkes perkuat layanan lansia agar penduduk menua dengan bermartabat
Selain kondisi kesehatan, faktor lingkungan juga perlu diperhatikan dalam mengurus lansia. Muhadi menyampaikan bahwa kondisi kegawatdaruratan pada lansia juga dapat dipicu oleh faktor lingkungan yang kurang mendukung.
Ia mencontohkan seperti dalam satu lingkungan di rumah seperti pencahayaan yang kurang baik atau permukaan lantai licin sehingga lansia mudah terjatuh.
“Jadi seharusnya mereka (para pendamping) yang bersama hidup dengan lansia harus memperhatikan faktor-faktor eksternal dan internal. Nah kita perbaiki faktor-faktor eksternal, internalnya,” tutur dia.
Baca juga: Pertagas dukung kualitas hidup 70 lansia lewat pemeriksaan kesehatan
Lebih lanjut, Muhadi mengingatkan dalam merawat lansia membutuhkan pengasuhan yang berbeda dibandingkan dengan merawat anak-anak atau orang sakit yang bukan berusia lanjut.
“Asuhan untuk mereka lansia tuh pasti berbeda dengan mengasuh anak-anak atau mengasuh orang sakit yang bukan lansia,” kata dia.
Sebelumnya, berdasarkan data Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 bahwa jumlah penduduk lansia (berusia >60 tahun) mencapai 34 juta jiwa atau hampir 12 persen dari total populasi.
Dalam hal ini, pemerintah terus memperkuat berbagai program promotif dan preventif untuk mencegah penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama kecacatan dan kematian pada usia lanjut, seperti deteksi dini penyakit melalui cek kesehatan gratis (CKG), di mana sekitar 6,8 juta lansia sudah memanfaatkan CKG.
Baca juga: Ratusan lansia di Pulau Harapan ikuti cek kesehatan di posyandu
Baca juga: Kemenkes: Infrastruktur ramah lansia investasi HALE nasional






Komentar (0)