Dilema Perguruan Tinggi di Antara Gelar dan Kredensial

katadata.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Bicara tentang pendidikan tampaknya selalu ada perubahan sebagai dinamika akibat disrupsi dari berbagai perubahan ekosistem. Bicara tentang program studi (prodi) misalnya, mulai terlihat adanya penutupan ataupun merger institusi pendidikan tinggi. 

Penurunan jumlah mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta (PTS) sepanjang 2019–2024 memperjelas fenomena ini. Yang menarik, banyak yang membaca situasi tersebut sebagai menurunnya fertilitas maupun persaingan domestik antarkampus saja. 

Bukan sesuatu yang salah, tetapi rasanya ada sesuatu yang terlewat. Bisa jadi permasalahannya lebih fundamental, yakni pergeseran pola dari calon mahasiswa. 

Gelar memang masih penting dan biasanya dikaitkan dengan fungsi pendidikan. Persoalannya, gelar sebagai bukti kompetensi tampaknya sudah tergeser oleh alternatif lain dalam kondisi pada saat ini. 

Perusahaan dunia sudah mendeklarasikan tidak terlalu konsen dengan gelar. Isu itu tampaknya berlanjut karena kredensial dalam bentuk sertifikat mikro, kursus daring, dan bentuk pengakuan keterampilan lain mendapatkan tempat yang tersendiri dari calon mahasiswa. 

Kredensial kini bukan sekadar pelengkap ijazah, tetapi masuk dalam titik yang paling menentukan: pintu masuk pertama di dunia kerja.

Fenomena di atas bukan sebatas persepsi. Survei terhadap pemegang mikro kredensial yang tercatat di portal LinkedIn terbukti menaikkan peluang mendapat pekerjaan baru sebesar 5,9%. 

Sedangkan untuk pekerjaan relevan dengan bidang sertifikat, peluangnya mencapai 9,4%. Bahkan, efek terbesar justru pada kelompok tanpa ijazah sarjana dan dari negara berkembang. 

Bukti itu tercerminkan dari naiknya skor kecocokan resume hingga 8,5 poin sebagaimana yang diinginkan talent hunter. Dengan kata lain, mikro kredensial mampu berfungsi sebagai sebuah penanda kompetensi. Sesuatu yang sebelumnya hanya dicerminkan oleh gelar.

Naiknya nilai kredensial sebenarnya bisa dipahami secara sederhana. Bukan karena kredensial mengalahkan gelar, melainkan karena otoritas gelar sebagai penanda kompetensi mulai retak. Kredensial mengisi ruang yang terbuka itu sebagai opsi yang mulai dipercaya. 

Analisis OECD atas survei keterampilan orang dewasa menemukan lebih dari seperempat lulusan perguruan tinggi di bawah 35 tahun di negara OECD tidak mencapai level dasar literasi. Mereka tidak memiliki keterampilan yang berfungsi baik dalam ekonomi modern, meski jumlah lulusan melonjak (OECD, 2022). 

Survei Korn Ferry (2026) mencatat 30% lowongan kerja di LinkedIn kini tak lagi mencantumkan syarat gelar profesional. Jumlahnya naik dari 19% pada 2019. Ini dapat menunjukkan, gelar bukan lagi syarat baku, melainkan satu di antara beberapa jalur pembuktian kompetensi.

Tekanan ekonomi domestik memperkuat pergeseran ini secara konkret. Data Sakernas Februari 2025 mencatat tingkat pengangguran terbuka lulusan Diploma I–III hanya 4,84% lebih rendah dari kelompok D4/S1/S2/S3 gabungan yang mencapai 6,23%. 

Riset LPEM FEB UI turut mencatat munculnya kelompok lulusan sarjana dan pascasarjana yang mulai menyerah mencari kerja (discouraged workers). Gejala yang oleh penelitinya ditafsirkan sebagai tekanan struktural, bukan fluktuasi statistik biasa (Hanri & Sholihah, 2025). 

Di sisi biaya, kenaikan Uang Kuliah Tunggal berulang disebut sebagai salah satu faktor utama di balik fenomena calon mahasiswa PTN yang mengundurkan diri dengan tidak melakukan pendaftaran ulang. 

Dalam situasi ini, kalkulasi ekonomi kredensial menjadi masuk akal: biaya satu kursus Coursera berkisar US$29-US$99 (Rp500 ribu-Rp1,8 juta). Angka ini jauh di bawah UKT yang terus naik, untuk hasil kerja yang secara statistik tidak kalah, bahkan lebih baik pada sejumlah indikator dengan pemilik gelar.

Namun di sinilah letak persoalan yang lebih rumit. Sebagaimana terlihat dari studi Harvard Business School bersama Burning Glass Institute atas 11.300 lowongan kerja di perusahaan besar Amerika Serikat. Studi tersebut menemukan, penghapusan syarat gelar hanya menaikkan jumlah pekerja tanpa gelar yang diterima sebesar 3,5 poin persentase. Artinya yang benar-benar terdampak kurang dari satu dari 700 perekrutan baru. 

Kredensial memang belum sepenuhnya menggantikan gelar, melainkan hanya sebuah alternatif yang dianggap setara. Justru di situlah hal yang penting untuk diperhitungkan kampus ke depannya. Ini karena persepsi pasar berubah lebih cepat daripada perilaku perekrutan sesungguhnya, dan persepsi itu lebih dulu memengaruhi pilihan calon mahasiswa.

Begitu gelar berhenti menjadi satu-satunya jalur yang dianggap sah, penyedia alternatif segera hadir menawarkan pilihan baru. Bahkan di jenjang yang selama ini dianggap paling aman dari disrupsi: pendidikan profesional pascasarjana. 

Quantic menawarkan gelar setara MBA seharga US$15 ribu, Abilitie menjual “MBA 12 minggu” seharga US$2.350, dan LinkedIn Learning menjajakan kursus di bawah US$40 dolar per bulan (Wylie, 2025). 

Namun survei tren aplikasi GMAC 2025–2026 memperlihatkan pola lebih tajam daripada sekadar “kampus versus platform”. Pendaftaran ke program MBA fleksibel dan daring menurun, sementara program penuh waktu di sekolah bisnis yang paling selektif justru tumbuh 52%. 

Pilihan terpolarisasi ke dua kutub prestise global di atas. Kredensial murah di bawah dan kampus kelas menengah non-unggulan—tempat mayoritas PTS Indonesia berada—yang paling kehilangan alasan untuk dipilih.

Tidak salah dan bukan merupakan langkah jelek ketika banyak PTS berupaya meningkatkan kredibilitas dan saling bersaing mengejar peringkat dalam menanggapi penurunan jumlah calon mahasiswa. Namun, energi yang dikeluarkan untuk itu akan kurang sesuai dengan fenomena yang ada. Kenaikan peringkat tanpa bukti perbaikan kualitas, ternyata kurang menjawab kesiapan kerja para lulusan.

Sisi permintaan mengonfirmasi arah ini. Survei global Deloitte terhadap lebih dari 23 ribu responden Gen Z dan milenial di 44 negara menemukan, 31% Gen Z dan 32% milenial memilih tidak menempuh pendidikan tinggi. Biaya menjadi alasan utama. Sementara delapan dari 10 responden menilai keterampilan lunak dan kesiapan GenAI lebih menentukan karier dibanding gelar formal (Deloitte, 2025).

Dari paparan di atas kita bisa simpulkan bahwa mikro kredensial saat ini sama pentingnya dengan gelar. Kredensial sudah menjadi pilihan yang cukup masuk akal, terlebih saat meningkatnya tekanan ekonomi yang membuat kita harus cermat secara finansial. 

Untuk itu, kampus perlu memperhatikan kondisi di atas agar tetap dapat mempertahankan gelar sebagai pilihan utama bagi generasi mendatang.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Link Live Streaming Piala Presiden Persib Bandung vs Arema Malang
• 13 jam lalu
0
thumb
Ogah Bayar Cicilan Laptop Rp27 Juta, Pria di Jakbar Nekat Lukai Diri dan Karang Cerita Begal
• 17 jam lalu
0
thumb
4 Zodiak yang Diprediksi Paling Beruntung soal Keuangan Hari Ini
• 3 jam lalu
0
thumb
Uskup se-Asia Serukan Pertobatan Hati
• 12 jam lalu
0
thumb
Muka Air Danau Toba Turun, Manusia Ikut Jadi Penyebab
• 53 menit lalu
0
Berhasil disimpan.