Juli-Agustus adalah bulan pensinya pelajar jaringan SMA Labschool. Corak pensinya nyaris sama: pensi gemerlap dengan nuansa konser musik yang kental.
Apapun bentuknya, pensi tetaplah pensi. Ajang ini selalu membawa identitas sekolah dengan para pelajar sebagai motor penggerak utamanya. Inilah yang membedakan pensi dari festival atau konser komersial lainnya.
Bulan Juli ini, pensi dalam rumpun SMA Labschool diawali dengan Labsproject 2026 yang digelar para pelajar SMA Labschool Jakarta pada 11 Juli 2026 di Istora Senayan. Sepekan kemudian, para pelajar SMA Labschool Cibubur yang menggelar pensi bertajuk Cravier 2026. Lokasinya di Plaza Parkir Timur Gelora Bung Karno. Tanggal 1 Agustus 2026, giliran SMA Labschool Kebayoran yang akan menggelar pensi bertajuk SkyAvenue. Lokasinya juga di Istora Senayan.
Hari ini, Sabtu (25/7/2026), SMA Labschool Cirendeu yang menggelar pensi Rendezvouz 2026 di Istora Senayan. Rendezvouz tahun ini menghadirkan deretan musisi yang sebagian besar sudah cukup mapan di industri musik Indonesia yakni Raisa, King Nassar, Gigi, Maliq & D’Essentials, Bilal Indrajaya x SORE, dan Glen Fredly Live by The Bakucakar featuring Shabrina Leanor.
Bahkan kami juga mengurus perizinan ke polisi dan damkar (pemadam kebakaran) sendiri. Nggak pakai agen.
Selain itu, ada delapan penampil dari kalangan pelajar SMA Labschool Cirendeu antara lain modern dance club dan kelompok tari tradisional. Mereka berbagi panggung yang sama dengan musisi-musisi top itu. Ini adalah cara pensi menegaskan identitasnya sebagai ajang kreativitas pelajar.
Bagaimana para pelajar bisa menggelar pensi rasa konser yang mampu mendatangkan musisi-musisi top tanah air sekaligus menyedot ribuan penonton? Bukankah ini pekerjaan rumit yang biasa dilakukan event organizer profesional?
Alif Wirahuda Bramaputra, Ketua Pelaksana Rendezvouz 2026, menceritakan, pensi SMA Labschool Cirendeu dikerjakan seluruhnya oleh ratusan siswa mulai perencanaan, pengembangan konsep, mencari sponsor, menjalin hubungan dengan media, mendesain panggung, memilih penampil, produksi, sampai ngurus riders para penampil. Hanya hal-hal teknis saja yang diserahkan ke vendor.
“Bahkan kami juga mengurus perizinan ke polisi dan damkar (pemadam kebakaran) sendiri. Nggak pakai agen,” kata siswa Kelas XII ini, Jumat (24/7/2026).
Total waktu persiapan, menurut Alif, hampir satu tahun. “Jadi begitu Rendezvouz 2025 selesai, kami langsung nyusun kepanitiaan untuk Rendezvouz 2026. Tidak terhitung lagi berapa kali kami rapat untuk menyiapkan acara ini,” tambah Alif.
Para siswa itu didampingi oleh Parent Team dan guru-guru sebagai wakil sekolah. Ketua Parent Team Nova Liana menceritakan, orangtua bertugas mendampingi, mengarahkan, dan menenami tim siswa yang menjadi panitia.
“Jadi kami juga ikut repot dan kadang-kadang stres juga. Kami mesti berdiskusi terus sama anak-anak. Kadang mereka kan punya mimpi tinggi sekali, nah kami arahkan mereka agar realistis juga. Banyak sekali pelajaran yang kami orangtua dan siswa peroleh dari ajang ini. Ini pengalaman mahal yang tidak semua orang dapatkan,” ujar Nova yang hari itu didampingi anggota timnya Pertiwi Wirastuti dan Diana Rahmat.
Salah satu diskusi yang cukup intens antara lain soal pilihan penampil. Tim orangtua dan siswa punya selera musih masing-masing. Mereka harus menemukan titik tengah soal itu. “Akhirnya kami pilih band nostalgia dan band-band yang sedang trend di kalangan anak muda. Yang penting masih bisa dinikmati bersama-sama,” ujar Alif.
Pendekatan seperti itu memang lazim digunakan, terutama di festival-festival musik yang menyedot penonton ribuan penonton lintas generasi seperti Java Jazz, Prambanan Jazz, Pestapora, Synchronize, dan lain-lain. Meski bukan tanpa kritik, pendekatan tersebut cukup berhasil. Generasi X, Y, dan Z bisa sing along bersama-sama idola di atas panggung.
Rendezvouz tahun ini merupakan penyelenggaraan kelima. Pihak panitia menargetkan sekitar 5.000 penonton yang terdiri dari para pelajar, keluarga, alumni, mahasiswa, dan masyarakat umum. Pensi rasa konser ini berlangsung mulai pukul 11.00 dan kelar sekitar pukul 23.00 WIB.
Setelah ajang ini kelar, siswa, orangtua, dan guru akan berjibaku lagi untuk menyiapkan Rendezvouz 2027. Begitu seterusnya agar tradisi pensi yang sarat pelajaran ini terus berlanjut.
Tradisi menggelar pensi di tingkat SMA sudah dimulai sejak akhir 1970an atau awal 1980-an sebagai ruang ekspresi para pelajar. Pesta pelajar ini berkembang di berbagai kota besar mulai Yogyakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Malang, Jakarta, dan sebagainya.
Sebagai mana namanya, pensi ketika itu diisi dengan pentas seni, terutama musik dan tarian. Kegiatan umumnya berlangsung di lingkungan sekolah. Dalam banyak pensi, SMA tuan rumah juga mengundang para pelajar dari SMA lain untuk bergantian tampil di panggung yang sama.
Popularitas pensi di kalangan anak muda ketika itu didorong oleh kehadiran majalah HAI, majalah yang pada awal 80-an hingga akhir 90an menjadi rujukan bagi jutaan anak muda urban Indonesia yang ingin mengikuti tren musik dan gaya hidup. HAI disebut-sebut sebagai inisiator utama terselenggaranya pesta pelajar pertama. Acara yang melibatkan anak-anak SMA sebagai panitia itu, selanjutnya menjadi semacam standar pergelaran pentas seni di banyak kota.
Pada perkembangan selanjutnya, pensi tidak lagi sekadar ajang para pelajar unjuk kebolehan di bidang seni, ruang belajar untuk mengelola pentas, atau melatih diri berogranisasi, tetapi juga menjadi ajang adu gengsi dalam pengertian positif. Lewat pensi yang ikonik, banyak sekolah memperoleh reputasi luas. Sekadar menyebut beberapa di antaranya adalah SMA Pangudi Luhur, SMA Tarakanita, SMA 4 Jakarta, SMA 70 Jakarta, SMA 5 Bandung, dan SMA Kolese de Britto Yogyakarta. Di luar itu, masih ada SMA-SMA lain yang memiliki pensi wow.
Pada akhir 1990an hingga dekade pertama 2000an, pensi semakin meluas dan diperhitungkan perannya di kancah musik tanah air. Ini lantaran pensi mulai rajin menampilkan band-band dari luar sekolah, terutaka indie seperti The Upstairs, The Brandals, Pee Wee Gaskins, Goodnight Electric, The Adams, Mocca, Seringai, Naif, dan sebagainya.
Bagi band-band luar sekolah itu, daya tarik pensi memang tidak bisa diremehkan. Lewat ajang pensi-lah mereka mendapatkan basis penggemar muda.
Dekade pertama 2000an adalah era penting dalam lansekap industri musik dan pentas di Indonesia. Pada era inilah, gelombang kedua ledakan konser dan festival skala besar dimulai di Indonesia dan baru berakhir lantaran dijegal pandemi pada 2020. Sementara itu, gelombang pertama terjadi pada era 70an ketika pembatasan terhadap serbuan “budaya pop” Barat dilonggarkan.
Gelombang kedua ledakan konser dan festival antara lain ditandai dengan munculnya festival-festival musik besar antara lain Java Jazz, Soundrenaline, LA Lights Indie Fest, dan Java Rockin’and, Syncronize. Selanjutnya muncul Hammersonic, We The Fest, DWP, dan sebagainya.
Selain itu, konser-konser band besar dunia mulai Megadeth, Deep Purple, Dream Theater, Sting, Metallica, Bon Jovi, Guns N’Roses, hingga deretan boyband dan girlband Korea, digelar silih berganti nyaris sepanjang tahun.
Di tengah hiruk pikuk festival dan konser komersial skala besar, pensi tidak tenggelam. Bahkan sebagian pensi makin gemerlap dan digarap layaknya festival musik komersial.
Pergelarannya pun tidak sebatas di lingkungan sekolah, tetapi mulai merambah situs-situs yang memang biasa dipakai untuk festival musik komersial seperti Tenis Indoor Senayan, Istora Senayan, JIExpo, ICE BSD, dan sejumlah arena pertunjukan di mal-mal besar.
Band-band yang dihadirkan sebagian adalah band top Indonesia yang biasa malang melintang di festival musik skala besar mulai Kahitna, Run, HiVi, Sheila On 7, hingga Dewa. Penontonnya tidak hanya pelajar, tetapi juga keluarganya, dan alumni.
Pensi model begini mencapai puncaknya pada 2017-2019. Setelah itu gaung pensi sempat menciut dibekap oleh pandemi. Baru pada 2023, pensi model festival bersemi lagi. Beberapa pensi model festival besar yang menarik ribuan penonton antara lain Alseace (SMA Islam Al-Azhar), Sky Avenue (SMA Labschool Kebayoran), Labsproject (SMA Labschool Rawamangun), Cravier (Labschool Cibubur), dan Rendezvouz (Labschool Cirendeu).
Meski bercorak festival besar, pensi tetap membawa identitas sekolah. Panitianya tetap anak-anak SMA dibantu orangtua dan guru. Pensi juga tetap memberikan ruang bagi kreativitas pelajar lewat aneka penampilan, lomba, kampanye soal lingkungan, bahkan gerakan amal.






Komentar (0)