Manuver AS Sulit Diprediksi, IHSG Masih Bergerak Konsolidasi

idxchannel.com
6 jam lalu
Cover Berita

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai kesulitan untuk memulai fase bullish sehingga masih bergerak konsolidasi di kisaran 6.000 poin.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kesulitan untuk memulai fase bullish sehingga masih bergerak konsolidasi di kisaran 6.000 poin. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai kesulitan untuk memulai fase bullish sehingga masih bergerak konsolidasi di kisaran 6.000 poin. Manuver Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump yang sulit diprediksi menciptakan ketidakpastian global yang menghambat laju IHSG.

Trump yang kembali memulai perang dengan Iran mendongkrak harga minyak, bahkan Brent kembali menyentuh level USD100 per barel. Kenaikan harga minyak tersebut berpotensi mengangkat inflasi global, termasuk AS sehingga memperbesar potensi The Federal Reserve menaikkan suku bunga. Bahkan, Trump juga kembali meluncurkan kebijakan tarif yang menciptakan tensi baru dengan negara-negara lain.

Baca Juga:
IHSG Pekan Ini Positif, Menguat 0,34 Persen

Pengamat pasar modal, Hendra Wardana mengatakan, kondisi ketidakpastian global yang memicu inflasi dan pelemahan rupiah menjadi beban bagi IHSG. Kondisi ini memicu pasar melakukan aksi ambil untung (take profit) di tengah tingginya ketidakpastian.

"Secara teknikal, IHSG kembali tidak mampu menembus area resistance kuat di level 6.377 sehingga mengindikasikan tekanan jual masih cukup dominan dan membuka peluang aksi profit taking. Selama belum mampu ditutup secara meyakinkan di atas 6.377 dengan volume meningkat, ruang penguatan terbatas dan jika tekanan berlanjut IHSG berpotensi menguji MA20 di kisaran 6.009 hingga support 5.900," katanya, Sabtu (25/7/2026).

Baca Juga:
IHSG Ditutup Melemah ke 6.196, Saham Konglo hingga Bank Berguguran

Hendra menilai, memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah menjadi hambatan utama bagi IHSG untuk melaju. Hal ini membuat bank sentral memiliki ruang terbatas untuk mendorong perekonomian lewat pelonggaran kebijakan moneter.

"Meningkatnya tensi geopolitik Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran pasokan energi, mendorong lonjakan harga minyak dunia mendekati USD100 per barel. Kondisi ini meningkatkan ekspektasi inflasi global sehingga ruang The Fed menurunkan suku bunga semakin terbatas, yang turut memicu koreksi tajam bursa Asia seperti Korea Selatan, Jepang, Taiwan, hingga China," katanya.

Sentimen eksternal tersebut berdampak langsung pada pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Terdepresiasinya mata uang Garuda mendorong investor asing untuk menarik modalnya keluar dari pasar keuangan domestik menuju aset berrisiko lebih rendah.

"Penguatan dolar AS yang mendorong rupiah kembali menembus level Rp18.000 per dolar AS meningkatkan risiko capital outflow dari negara berkembang seiring pengalihan dana ke safe haven. Tekanan ini tercermin dari net sell asing Jumat (24/7/2026) sebesar Rp1,2 triliun, dengan akumulasi sepekan mencapai Rp2,5 triliun yang menandakan investor global masih wait and see," tuturnya.

Menghadapi potensi gejolak di bursa saham domestik, para pelaku pasar diimbau untuk tidak gegabah dalam mengambil keputusan investasi. Sikap cermat dalam mengamati indikator makroekonomi dan pergerakan dana asing menjadi kunci penting untuk memitigasi risiko kerugian.

"Dengan kombinasi gagalnya breakout 6.377, risiko geopolitik, dolar kuat, rupiah melemah, minyak tinggi, serta derasnya net sell asing, IHSG jangka pendek akan cenderung bergerak defensif dengan volatilitas tinggi. Investor disarankan mencermati konflik Timur Tengah, arah suku bunga global, pergerakan rupiah, dan arus dana asing sebagai katalis utama," kata Hendra.

(Rahmat Fiansyah)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Diam-Diam Iran Kirim Garda Revolusi Islam ke Negara Arab Ini, Mau Apa?
• 19 jam lalu
0
thumb
Cempaka Putih Barat Olah Botol Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi
• 3 jam lalu
0
thumb
Peta Zona Megathrust RI Berubah, Pakar Jepang Tunjuk Titik Rawan Gempa
• 1 jam lalu
0
thumb
Reaksi Terbaru Shin Tae-yong usai Kena Hukuman 10 Tahun dari Korea Selatan, Singgung Soal Masa Depan Bersama Persija
• 35 menit lalu
0
thumb
Publik Masih Heboh, Febrie Akhirnya Buka Suara Lagi soal Emas 74 Kg
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.