Dalam ASEAN Sustainable Aviation Fuel (SAF) Workshop 2026 di Denpasar, Bali, PT Pertamina Patra Niaga menunjukkan perkembangan ekosistem SAF yang telah dibangun dari hulu hingga hilir. Forum yang digelar Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan bersama European Union Aviation Safety Agency (EASA) itu menjadi ajang berbagi strategi mempercepat dekarbonisasi sektor penerbangan di kawasan. Kementerian Perhubungan Apresiasi Pengembangan SAF Pertamina Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kementerian Perhubungan, Sokhib Al Rokhman, menyampaikan apresiasi kepada Pertamina atas komitmennya membangun ekosistem Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia.
Menurutnya, kolaborasi yang dibangun Pertamina bersama para pemangku kepentingan menjadi langkah strategis dalam mempercepat transisi menuju penerbangan rendah emisi sekaligus memperkuat daya saing industri aviasi nasional.
Ia menegaskan Kementerian Perhubungan terus mendorong pengembangan dan implementasi SAF melalui penguatan regulasi serta kolaborasi lintas sektor.
Kehadiran SAF produksi Pertamina yang telah memenuhi standar internasional menjadi fondasi penting untuk mempercepat dekarbonisasi sektor penerbangan sekaligus mengukuhkan Indonesia sebagai salah satu motor pengembangan SAF di kawasan.
Baca juga: SAF Jadi Fokus Pertamina dalam Percepatan Transisi Energi SAF Pertamina Sudah Diproduksi di Cilacap dan Disalurkan ke Dua Bandara Besar Vice President Aviation Fuel Business PT Pertamina Patra Niaga, Yosep Iswadi, mengatakan forum ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi pengembangan SAF di ASEAN.
"Pertamina telah membangun ekosistem SAF terintegrasi dari hulu hingga hilir melalui kolaborasi lintas sektor," ujar Yosep.
SAF tersertifikasi CORSIA yang diproduksi di Green Refinery RU IV Cilacap telah disalurkan melalui Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara I Gusti Ngurah Rai.
Pada forum tersebut, Pertamina juga memperkenalkan konsep ekosistem SAF terintegrasi (end-to-end ecosystem) sebagai bagian dari strategi mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060 atau lebih cepat.
Melalui booth interaktif, perusahaan menampilkan seluruh rantai pasok SAF, mulai dari pengumpulan minyak jelantah melalui program UCOllect, proses produksi dengan metode co-processing di Green Refinery RU IV Cilacap, hingga distribusi dan pengisian bahan bakar ke pesawat. Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Pesawat Hingga saat ini, Pertamina telah mengoperasikan 47 titik UCOllect, mengumpulkan lebih dari 116 ribu liter minyak jelantah, menjangkau lebih dari 5.200 rumah tangga, serta menghasilkan SAF yang mampu menurunkan emisi hingga 84 persen dibandingkan bahan bakar aviasi konvensional.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, mengatakan pengembangan SAF merupakan bukti komitmen Pertamina dalam menghadirkan solusi energi rendah karbon sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
"Kehadiran kami pada ASEAN SAF Workshop menegaskan komitmen Pertamina untuk mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan, memperkuat posisi Indonesia sebagai penggerak SAF di kawasan ASEAN, serta menghadirkan inovasi energi berkelanjutan yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan," ujar Kitty.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ANN)





Komentar (0)