Potret "Neraka" di Eropa, Api Menggila-Warga Dievakuasi

cnbcindonesia.com
2 jam lalu
Cover Berita
1/7

Kebakaran hutan yang menyebar cepat melanda komune Lège-Cap-Ferret di barat daya Prancis pada Kamis (23/7/2026), memaksa petugas pemadam kebakaran berjibaku mengendalikan kobaran api. Kebakaran terjadi di tengah gelombang panas ekstrem dan kekeringan yang melanda sebagian besar wilayah Eropa. (REUTERS/Stephane Mahe)

2/7

Lebih dari 10.000 orang dievakuasi dari rumah maupun area perkemahan di sepanjang pantai Atlantik Prancis. Otoritas mengambil langkah tersebut untuk menghindari risiko jatuhnya korban ketika api terus meluas akibat kondisi cuaca yang sangat kering. (REUTERS/Stephane Mahe)

3/7

Kebakaran berada di dekat kawasan Teluk Arcachon, salah satu destinasi wisata populer di Prancis. Sebagian besar warga yang dievakuasi merupakan wisatawan yang tengah menginap di lokasi perkemahan saat musim liburan. (REUTERS/Stephane Mahe)

4/7

Wali Kota Lège-Cap-Ferret mengatakan kobaran api menyebar lebih cepat dari perkiraan sehingga upaya penanganan menjadi semakin sulit. Petugas pemadam kebakaran terus berupaya mencegah api menjalar ke permukiman dan kawasan wisata lainnya. (REUTERS/Stephane Mahe)

5/7

Seorang warga Lège-Cap-Ferret, Corinne Paillaube, mengaku terpukul melihat kebakaran melanda kotanya. "Saya merasa sedih ketika melihat kota saya hancur seperti ini. Ini menghancurkan hati saya. Tempat ini sangat menyenangkan untuk ditinggali, dan melihatnya terbakar habis sungguh menyedihkan," ujarnya. (REUTERS/Stephane Mahe)

6/7

Gelombang panas ekstrem yang berulang telah memperburuk kondisi kekeringan di berbagai negara Eropa. Pasokan air semakin tertekan, sementara vegetasi yang mengering menjadi bahan bakar yang memudahkan kebakaran hutan menyebar dengan cepat. (REUTERS/Stephane Mahe)

7/7

Para ilmuwan memperingatkan bahwa perubahan iklim memperburuk krisis kekeringan dan meningkatkan risiko kebakaran hutan di Eropa. Tahun ini, luas lahan yang terbakar telah melampaui rata-rata tahunan selama dua dekade terakhir di benua yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia, sementara gelombang panas juga dikaitkan dengan ribuan kematian. (REUTERS/Stephane Mahe)

Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
HUT ke-59 DNIKS, Mensos Minta LKS Bisa Layani Warga dengan Baik
• 5 jam lalu
0
thumb
Polri Tegaskan Bhabinkamtibmas Bukan Petugas Pajak, Tak Lakukan Penagihan
• 1 jam lalu
0
thumb
Babak Baru Konsolidasi Maskapai BUMN, Garuda Resmi Jadi Holding Pelita Air
• 13 jam lalu
0
thumb
Kejari Semarang Setor Rp 4,9 M Hasil Lelang Harta Koruptor ke Kas Negara
• 23 jam lalu
0
thumb
Polda Metro Jaya: Pengemudi yang Tutup Pelat Nomor Bakal Ditindak Hunting System
• 9 jam lalu
0
Berhasil disimpan.