JAKARTA, KOMPAS.com - Pengendara motor berjaket oranye bergantian berhenti depan sebuah rumah sederhana berlantai dua di kawasan Muara Angke, Jakarta Utara.
Pengendara motor tersebut merupakan kurir dari e-commerce yang tengah mengambil barang berupa berbagai jenis kerang beku yang sudah dibungkus menggunakan plastik dengan ukuran beragam, mulai dari 500 gram hingga satu kilo dari rumah sederhana itu.
Di balik pintu rumah itu, aktivitas tak pernah benar-benar berhenti.
Bungkusan demi bungkusan kerang frozen disiapkan, ditimbang, lalu dikemas sebelum berpindah ke tangan para kurir dari berbagai platform e-commerce.
Baca juga: Dulu Cari Makan Saja Sulit Perjuangan Kuli Pasar Jadi Juragan Seafood di Muara Angke
Pemandangan tersebut menjadi rutinitas sehari-hari yang harus dijalani Zahroni (45) dan keluarganya yang merupakan pelaku UMKM seafood frozen.
Sibuknya aktivitas di rumah tersebut menandai derasnya pesanan yang datang dari berbagai daerah dan mengubah rumah itu menjadi pusat bisnis seafood rumahan yang terus berdenyut sejak pagi hingga malam hari.
Mulai memanfaatkan e-commerceZahroni bercerita, dulunya merupakan kuli pasar yang bertugas mengangkut dan menjual aneka ragam seafood milik bosnya.
Dulu, ia hanya dibayar Rp 150.000 hingga Rp 200.000 per hari.
Namun, seiring berjalannya waktu, ia tak mau terus bergantung dengan orang.
Sambil bekerja sebagai kuli, Zahroni juga mencoba untuk menjual seafood frozen lewat media sosial seperti Instagram dan Facebook secara mandiri.
Ternyata berkat postingan itu, banyak yang tertarik membeli seafood frozen dari Zahroni, mulai dari perorangan, restoran, dan pemasok.
Sudah memiliki pelanggan sendiri, Zahroni memutuskan untuk berhenti bekerja dan mencari stok seafood sendiri ke nelayan atau pelelangan ikan.
Tak hanya menggunakan media sosial, Zahroni juga memanfaatkan e-commerce seperti Shopee untuk mempromosikan dagangan seafoodnya.
Ternyata berkat berdagang online perminataan kerang semakin banyak, bahkan banyak pula orang yang tertarik menjadi reseller dengan mengambil barang dari Zahroni, kemudian dijual kembali lewat online dengan merek sendiri.
"Dari situ saya mulai berkembang, bahkan sempat merekrut sekitar 50 orang untuk berjualan secara daring (online) di platform Shopee pada akhir tahun 2021," ungkap dia ketika ditemui di Muara Angke, Jakarta Utara, Kamis (23/7/2026).
Baca juga: Dampak Minimnya Ruang Bermain: Anak Nirempati hingga Sulit Pecahkan Masalah
Rata-rata orang yang menjadi reseller-nya merupakan korban PHK atau mahasiswa yang sedang mencari penghasilan tambahan.
"Saya berikan solusi kepada mereka untuk menjual produk kerang saya. Saya ajarkan jenis-jenis kerang seperti kerang hijau, kerang darah, kerang tahu, kerang batik, dan kerang macan," sambung dia.
Omzet puluhan jutaZahroni mengatakan, berkat digitalisasi ia bisa menjangkau lebih banyak pelanggan, sehingga permintaan seafoodnya terus meningkat setiap hari.
Selain berdagang online, ia juga memasok seafood ke 20 restoran dan 10 lapak pedagang di pasar.
Ia mengatakan, sebenarnya fokus usahanya adalah menjual sekitar 15 hingga 20 jenis kerang dalam bentuk beku.






Komentar (0)