Puncak Peringatan Hari Anak Nasional 2026, yang jatuh pada Kamis (23/7/2026) kemarin, menjadi momentum menyuarakan pentingnya mewujudkan ruang aman di segala lini kehidupan anak. Sebab, realitas di lapangan menunjukkan ruang yang benar-benar aman bagi anak, khususnya anak perempuan, kian menyempit.
Seruan tersebut sekaligus menjadi lonceng peringatan pada masyarakat Indonesia karena ruang yang seharusnya paling melindungi, yakni keluarga dan komunitas, kini berubah menjadi lokasi berulangnya kekerasan dan pelanggaran hak anak.
Di balik Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 yang mengusung tema ”Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan” tersimpan krisis perlindungan anak di Indonesia. Faktanya, saat ini deretan kasus kekerasan pada anak-anak terus muncul. Tiap saat terungkap, ada anak perempuan menjadi korban kekerasan seksual.
Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) mengingatkan akan ancaman terhadap anak perempuan yang kini semakin kompleks, baik di ruang fisik maupun digital. Pelaku kekerasan didominasi oleh orang-orang terdekat, seperti anggota keluarga, pengasuh, guru, hingga teman sebaya.
Kompleksitas kekerasan kini meluas hingga ke ruang digital. Paparan pornografi sejak dini dan minimnya pendidikan mengenai relasi sehat menyebabkan normalisasi kekerasan di ruang siber, menyusul sebagian pelaku kekerasan seksual yang juga berasal dari kalangan remaja sendiri.
Studi Plan Indonesia pada 2026 menemukan adanya normalisasi kekerasan serta paparan pornografi sejak dini yang membentuk persepsi keliru pada remaja mengenai relasi sehat. Di wilayah terdampak bencana, kondisinya bahkan lebih mengkhawatirkan; studi Girls in Crisis (2026) mengungkapkan bahwa 60 persen anak perempuan merasa tidak aman di pengungsian.
”Setiap kasus yang muncul ke publik adalah alarm bahwa masih banyak anak, terutama anak perempuan yang hidup dalam situasi tidak aman,” ujar Dini Widiastusi, Direktur Eksekutif Plan Indonesia.
Peringatan Hari Anak Nasional harus menjadi momen merayakan hak setiap anak untuk tumbuh dalam keadaan aman, dihormati, dan didukung.
Perwakilan UNICEF untuk Indonesia, Maniza Zaman, dalam keterangan pers, menegaskan pentingnya mewujudkan ruang aman bagi setiap anak. Peringatan Hari Anak Nasional harus menjadi momen merayakan hak setiap anak untuk tumbuh dalam keadaan aman, dihormati, dan didukung.
Ketika Unicef menanyakan kepada anak-anak dan kaum muda tentang makna ruang aman bagi mereka, jawabannya adalah merasa aman dari kekerasan dan bahaya. Jawaban lainnya adalah merasa diterima, didengarkan, dan dipercaya, adalah hal yang terpenting bagi anak-anak.
”Inilah alasan mengapa ruang aman sangat penting. Mewujudkan dunia yang lebih aman bagi anak-anak memerlukan lebih dari sekadar sistem dan layanan,” tegas Maniza.
Karena itulah Unicef menyambut baik Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (Gernas RANA) yang diinisiasi oleh Pemerintah Indonesia. Inisiatif penting itu mengakui bahwa melindungi anak dari kekerasan tidak hanya memerlukan undang-undang dan layanan yang kuat, tetapi juga lingkungan yang mendukung di tempat anak tinggal, belajar, bermain, dan berinteraksi secara daring.
Sylvana Apituley dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menegaskan, tantangan perlindungan anak bukan hanya soal regulasi, melainkan juga adanya hambatan kultural berupa ”budaya bisu” (culture of silence). Fokus masyarakat yang lebih mengutamakan kepentingan orang dewasa sering kali mengabaikan prinsip kepentingan terbaik bagi anak.
”Ruang yang seharusnya menjadi tempat tumbuh kembang paling aman kini berubah menjadi lokasi berulangnya pelanggaran. Ini adalah alarm serius, sebuah paradoks yang menuntut evaluasi menyeluruh atas efektivitas sistem perlindungan anak nasional,” tegas Sylvana,
Ketergantungan emosional dan ekonomi kepada pelaku sering kali membuat anak terjebak dalam kebisuan, tidak menyadari dirinya sebagai korban, atau takut melaporkan kekerasan karena dianggap sebagai aib keluarga.
Untuk mewujudkan ruang aman, menurut Unicef, memerlukan upaya menyeluruh. Maniza menegaskan, mewujudkan dunia yang lebih aman bagi anak-anak memerlukan lebih dari sekadar sistem dan layanan. Hal tersebut juga memerlukan hubungan yang saling mendukung.
Kolaborasi tersebut menuntut peran aktif semua pihak. Di tingkat keluarga, orangtua perlu membangun pola pengasuhan bebas dari kekerasan. Di sekolah, pendidikan tentang relasi sehat dan kesetaraan jender harus diajarkan sejak dini.
Karena ruang aman bagi setiap anak adalah masa depan yang lebih kuat bagi semua.
Hal ini sangat penting untuk setiap anak, siapa pun dia, di mana pun ia tinggal, berhak memiliki masa kecil, masa depan, dan kesempatan yang adil. Karena ruang aman bagi setiap anak adalah masa depan yang lebih kuat bagi semua.
Adapun Puncak peringatan HAN 2026 diselenggarakan pemerintah, di Provinsi Kepulauan Riau. Acara yang dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Kamis (23/7/2026). Acara ini merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian PPPA, Seruni Kabinet Merah Putih, dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Pada hari yang sama, sejak Kamis pagi juga digelar Festival Budaya Anak Indonesia di Makara Art Center Universitas Indonesia (UI) sebagai ruang bagi anak-anak untuk mengenal dan melestarikan budaya tradisional. Acara tersebut dihadiri Wakil Menteri PPPA, Veronica Tan.






Komentar (0)