Pekerjaan yang menumpuk, tugas kuliah yang padat, hingga rutinitas sehari-hari terkadang membuat kepala terasa penuh. Rasanya ingin melampiaskan emosi dengan memukul sesuatu, tetapi dengan cara yang aman, menyenangkan, bahkan bisa sambil bernyanyi dan bertemu teman baru.
Keresahan itulah yang melatarbelakangi lahirnya Komunitas Nabuh Bareng Jakarta. Sebulan sekali, komunitas ini mengajak para pesertanya melepaskan penat dengan bermain musik menggunakan benda-benda sederhana yang ada di sekitar. Mulai dari ember, sandal, kotak plastik dan sendok besi, botol tumbler dengan sendok, hingga botol plastik bekas yang diisi biji-bijian.
“Kita tahu Jakarta ini kan banyak tekanan pekerjaan, jadi kita mencoba untuk memberikan ruang baru yang lebih efektif untuk melepaskan emosi-emosi terpendam tanpa berkata-kata, dengan cara yang lebih kinestetis, belajar, dan memukul,” ujar Lead Coach Nabuh Bareng Jakarta, Revi, kepada kumparan saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan.
Alat-alat tersebut kemudian dibagi ke dalam empat “rumah”, yakni rumah Kicik (botol plastik bekas berisi biji-bijian), rumah Ting-ting (botol tumbler dan sendok), rumah Kletak (kotak plastik dengan sendok besi dan sandal), serta rumah Bum-bum (ember). Masing-masing rumah menghasilkan karakter bunyi yang berbeda sehingga saling melengkapi saat dimainkan bersama.
Menariknya, alat-alat tersebut dibawa sendiri oleh peserta dan tidak harus baru. Justru, peserta dianjurkan memanfaatkan barang-barang bekas atau yang sudah tidak terpakai di rumah.
“Kita memberikan kesempatan juga untuk barang-barang yang udah nggak kepake di rumah. Daripada dibuang, alat-alat itu masih bisa berfungsi untuk membantu kita melepaskan emosi-emosi yang selama ini kita pendam,” jelas Revi.
kumparan pun sempat mencoba mengikuti kegiatan Nabuh Bareng beberapa waktu lalu. Setelah registrasi, setiap peserta akan mendapatkan name tag serta lembar not musik yang akan digunakan selama sesi bermain.
Not tersebut disesuaikan dengan rumah atau alat yang dipilih sehingga setiap peserta memiliki pola ritme yang berbeda. Uniknya, not yang digunakan bukan seperti not balok pada umumnya, melainkan dibuat dengan simbol-simbol sederhana sehingga mudah dipahami, bahkan oleh peserta yang belum pernah bermain musik sekalipun.
Sebelum mulai bermain musik, peserta lebih dulu diajak mengikuti permainan untuk saling berkenalan. Saat itu, kumparan mengikuti permainan bingo yang mengharuskan peserta mencari orang lain yang sesuai dengan keterangan di kartu bingo hingga berhasil membentuk satu garis.
Setelah suasana mulai cair, sesi pertama diisi dengan pengenalan teknik dasar memainkan setiap alat secara bertahap. Peserta diajarkan cara menabuh sesuai karakter bunyi masing-masing alat sehingga tak perlu memiliki pengalaman bermusik sebelumnya.
Berikutnya, peserta mulai memainkan alat masing-masing mengikuti pola ritme pada lembar not sambil mengiringi lagu yang telah dipilih. Saat itu, lagu yang dimainkan adalah Rollerblade dari no na, yang membuat suasana semakin riuh dan penuh semangat.
Tak butuh waktu lama, seluruh peserta mulai kompak memainkan ritme bersama. Dari bunyi ember, botol, hingga kotak plastik, semuanya berpadu menjadi irama yang terdengar harmonis.
Benar saja, setiap hentakan terasa menjadi pelepas penat setelah seharian bekerja maupun beraktivitas. Tak hanya bermain musik, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk berinteraksi dengan orang-orang baru, bercanda bersama, hingga membangun pertemanan baru. Hal itu juga dirasakan oleh salah satu peserta, Gaby.
“Kalau aku sih karena capek kerja ya. Jadi butuh pelepasan stres gitu dalam hidup ini. Aku tadi kenalan sama beberapa teman dari rumah aku juga. Jadi benar-benar bersyukur banget sama Nabuh Bareng Jakarta ini yang udah ngenalin aku sama teman-teman baru,” kata Gaby.
Komunitas Nabuh Bareng Jakarta rutin menggelar kegiatannya setiap satu bulan sekali. Lagu yang dimainkan pun selalu berganti setiap bulannya sehingga peserta selalu mendapatkan pengalaman baru.
Kegiatan biasanya berlangsung pukul 19.00 WIB hingga 21.30 WIB di SANA Studio, Kebayoran Baru, Jakarta. Untuk mengikuti kegiatan ini, peserta dikenakan community support fee sebesar Rp150 ribu. Tiket dapat dibeli melalui platform Loket, sementara jadwal kegiatan berikutnya dapat dipantau melalui akun Instagram @nabuh.barengjkt.






Komentar (0)