BP Batam Dorong Paradigma Utility First untuk Menjamin Investasi Pusat Data dan Kebutuhan Masyarakat

pantau.com
2 jam lalu
Cover Berita

Pantau - BP Batam mendorong paradigma Utility First, Investment Follows sebagai strategi baru dalam pengelolaan investasi agar kebutuhan listrik dan air bagi proyek pusat data tetap terpenuhi tanpa mengurangi pasokan untuk masyarakat di Batam, Kepulauan Riau.

Paradigma tersebut disampaikan Deputi BP Batam Fary Djemy Francis dalam Batam Trade Forum yang diselenggarakan Bank Mandiri Batam di tengah meningkatnya investasi pusat data di kawasan tersebut.

Utilitas Jadi Prioritas Sebelum Investasi

Fary mengungkapkan bahwa kepastian ketersediaan listrik dan air kini menjadi faktor utama yang dipertimbangkan investor global selain insentif fiskal, kemudahan perizinan, dan lokasi strategis.

Ia mengungkapkan, “Utility First, Investment Follows bukan sekadar slogan, tapi paradigma pembangunan baru yang memastikan setiap investasi menciptakan kapasitas baru, menjaga kepentingan masyarakat, dan menghadirkan pertumbuhan ekonomi.”

Saat ini Batam memiliki 16 proyek pusat data dalam berbagai tahap pengembangan yang terdiri atas dua proyek telah beroperasi, lima proyek dalam tahap konstruksi, tiga proyek dalam tahap persiapan konstruksi, dan enam proyek masih dalam tahap negosiasi.

Nilai investasi proyek pusat data tersebut telah melampaui 20 miliar dolar AS dengan melibatkan sejumlah perusahaan, di antaranya DayOne, Equator Gate System Batam, Altiva DC, BW Digital, dan NeutraDC Nxera.

Menurut Fary, industri pusat data akan menjadi penggerak pertumbuhan sektor kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), cloud computing, keamanan siber, semikonduktor, telekomunikasi, hingga manufaktur berteknologi tinggi.

Investor Diminta Bangun Infrastruktur Pendukung

BP Batam mengusulkan setiap investor pusat data membawa Utility Investment Package sebagai bagian dari komitmen investasi agar pembangunan fasilitas industri berjalan seiring dengan penambahan kapasitas utilitas.

Fary menjelaskan investor diwajibkan berkontribusi membangun gardu induk, jaringan kelistrikan, pembangkit listrik, Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), serta sistem daur ulang air sesuai kebutuhan operasional.

Kebijakan tersebut diharapkan memastikan setiap tambahan kebutuhan listrik dan air dipenuhi melalui kapasitas baru sehingga pasokan air waduk tetap diprioritaskan bagi rumah tangga dan pelayanan publik.

Saat ini kapasitas pembangkit listrik Batam mencapai sekitar 930 MW dengan beban puncak sekitar 770 MW, sedangkan kebutuhan seluruh proyek pusat data diperkirakan mencapai 1 hingga 2 GW dalam beberapa tahun mendatang.

Di sektor air, kapasitas produksi Batam sekitar 301.000 meter kubik per hari, sementara kebutuhan industri pusat data diperkirakan mencapai 20.000 hingga 50.000 meter kubik per hari.

PLN Batam juga telah menandatangani perjanjian penyediaan tenaga listrik berkapasitas 511 MVA untuk mendukung operasional pusat data serta menyiapkan tambahan pasokan listrik hingga 2.070 MW guna mengantisipasi meningkatnya investasi di masa depan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Prabowo Pimpin Ratas Selama 3,5 Jam di Istana, Ini yang Dibahas
• 17 jam lalu
0
thumb
KDM: Hadiah Sayembara Diberikan Setelah Pelaku Begal-Jambret Berstatus Tersangka
• 1 jam lalu
0
thumb
Pemerintah Tambah Daftar Negara Pengecualian DHE SDA: Cina hingga Australia
• 15 jam lalu
0
thumb
Jet Tempur AS Bombardir Pulau Qeshm dan Kota Ahvav Iran, 4 Orang Tewas
• 3 jam lalu
0
thumb
Bukan Sekadar Slogan! Ini Arti NKRI Harga Mati Menurut Konstitusi Indonesia
• 3 jam lalu
0
Berhasil disimpan.