"Kami kurang siap dengan pola permainan yang mereka peragakan. Mereka banyak main panjang jadi buat kami ragu-ragu. Kami terlalu lama mengantisipasinya," ujar Raymond.
Selain masalah adaptasi taktik, Raymond juga menyoroti aspek fisik dan teknis saat berlaga di lapangan, terutama ketika berada di posisi yang kurang menguntungkan secara hembusan angin.
"Kami harus meningkatkan power dan teknik. Terasa sekali tadi, apalagi ketika posisi kalah angin, kami tidak bisa mematikan mereka," tambah Raymond. Baca juga: China Open 2026: Bangkit dari Tekanan, Jojo Tembus Perempat Final Soroti Kesalahan Mendasar Sementara itu, Joaquin mengaku kecewa lantaran sejatinya persiapan matang sudah dilakukan sebelum memasuki lapangan. Namun, dinamika di lapangan dan rentetan kesalahan sendiri justru membuat momen kebangkitan mereka sirna.
Meski sempat mencoba bangkit di game kedua, selisih poin yang sudah terlanjur jauh membuat mereka sulit membalikkan keadaan. Joaquin secara jujur mengakui perlunya evaluasi mendalam terhadap performa individunya, terutama mengenai unforced errors yang berulang kali merugikan tim.
"Pastinya tadi persiapan sudah dilakukan, secara strategi maupun mental. Tapi memang kita tidak pernah tahu di lapangan akan seperti apa," tutur Joaquin.
"Tadi juga saya banyak melakukan kesalahan yang seharusnya pemain dunia tidak boleh lakukan, tapi saya berulang kali melakukannya. Saya mencoba kembali lagi, sempat ada peluang, tapi memang tadi poinnya sudah terlalu jauh jadi sulit untuk mengejar. Ini evaluasi besar buat saya pribadi," tegas Joaquin. Tatap Turnamen Berikutnya Kekalahan di babak kedua China Open 2026 ini tentu menjadi pelajaran berharga bagi Raymond/Joaquin. Menghadapi ganda putra elite dunia membuktikan bahwa peningkatan dari segi kekuatan fisik, variasi teknik, dan ketenangan mental menjadi PR utama yang harus segera dibenahi demi melangkah lebih jauh di turnamen-turnamen BWF berikutnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(KAH)






Komentar (0)