Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan mendidik bukan sekadar transfer ilmu. Namun kegiatan itu merupakan sebuah tindakan optimisme yang lahir dari keyakinan akan masa depan anak bangsa.
Hal tersebut diungkapkan olehnya dalam dalam sambutannya pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-20 Yayasan Sukma Bangsa yang dipusatkan di Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe, Aceh, hari ini.
"Mendidik sesungguhnya adalah menanamkan keberanian, menanamkan cita-cita masa depan, meskipun hasilnya belum tentu kita nikmati sendiri. Dia lahir dari keyakinan bahwa setiap anak memiliki kemungkinan untuk menjadi lebih baik," ujar Lestari, Kamis (23/7/2026).
Menurut Lestari yang juga Ketua Yayasan Sukma itu, sekolah yang lahir dari inisiasi Surya Paloh itu bukanlah institusi biasa.
"Ini adalah sekolah kehidupan," tegasnya.
Dia mengatakan optimisme yang diajarkan oleh pendiri sekolah kini telah membuahkan hasil.
"Anak-anak angkatan pertama Sukma Bangsa kini tersebar di tujuh penjuru dunia, menjadi pengajar di universitas ternama hingga pemimpin yang membawa misi 'Aceh tidak boleh mati," jelasnya.
Dia juga menyinggung peran strategis Sukma Bangsa dalam diplomasi kemanusiaan.
Lestari mengungkapkan bahwa guru dan sektor pendidikan kala itu tidak hanya melahirkan generasi berdaya saing, tetapi juga berperan dalam proses negosiasi pembebasan sandera di Mindanao, Filipina dengan imbalan pendidikan gratis bagi anak-anak dari sana.
Memasuki usia 20 tahun, Sukma Bangsa tetap istiqomah yang dimaknai bukan sebagai penolakan terhadap perubahan, melainkan komitmen untuk tetap setia pada nilai-nilai fundamental kejujuran, belas kasih, keadilan, dan penghormatan terhadap kemanusiaan.
Dia menegaskan bahwa di era disrupsi saat ini, nilai-nilai kemanusiaan adalah kompas yang tidak boleh tergerus dalam upaya mewujudkan cita-cita bangsa.
"Tantangan hari ini sudah berbeda, teknologi mempercepat pengetahuan, tapi teknologi tidak dapat menghadirkan kasih sayang," tutupnya.
(akd/ega)






Komentar (0)