Relaksasi RKAB Nikel Diminta Prioritaskan Tambang Patuh

metrotvnews.com
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) menilai relaksasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) nikel 2026 perlu diprioritaskan bagi perusahaan tambang yang memiliki rekam jejak kepatuhan terhadap regulasi. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga pasokan bahan baku, mendukung hilirisasi, dan mempertahankan daya saing industri nikel nasional.
 
Proses pengajuan dan evaluasi perubahan RKAB oleh badan usaha dibuka Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 1-31 Juli 2026. Kebijakan itu mengacu pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 17 Tahun 2025.
 
Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah mengatakan tekanan pasokan saat ini paling banyak dirasakan oleh smelter berbasis Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF). Sementara itu, fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) masih mampu mempertahankan tingkat utilisasi karena memiliki kontrak pasokan bijih jangka panjang dengan perusahaan tambang.
 
Namun, menurut Arif, apabila tambahan kuota produksi tidak segera diberikan, fasilitas HPAL juga diperkirakan mulai menghadapi kekurangan bahan baku pada kuartal III hingga kuartal IV 2026.
 

Baca Juga :

Daftar Negara dengan Cadangan Mineral Terbesar di Dunia 2026, Ada Indonesia?
  Pengaturan RKAB tetap dibutuhkan  
Arif menilai pengaturan produksi melalui mekanisme RKAB tetap diperlukan sebagai instrumen menjaga keseimbangan pasar nikel global. Meski demikian, kebijakan tersebut perlu disertai fleksibilitas bagi perusahaan yang telah memenuhi kewajiban tata kelola, menerapkan praktik pertambangan yang baik, serta memasok kebutuhan industri hilirisasi di dalam negeri.
 
"Kalau pemangkasan kuota produksinya terlalu ketat, maka seolah pemerintah menciptakan industri hilirisasi nikel Indonesia ini sedang mengalami rem paksa. Industri hilirisasi membutuhkan pasokan bijih nikel untuk memenuhi kapasitas yang sudah berjalan maupun proyek-proyek ekspansi dan baru, terutama HPAL," ujar Arif dalam keterangan tertulis, Kamis, 23 Juli 2026.
 
Menurut dia, relaksasi RKAB bagi perusahaan yang patuh dapat memperkuat kepastian pasokan bahan baku, menjaga utilisasi smelter, serta memastikan investasi hilirisasi yang telah berjalan tetap optimal.


(Ilustrasi aktivitas eksplorasi pertambangan. Foto: dok MI)
  Dampak pasokan terbatas  
FINI menilai keterbatasan pasokan bijih nikel berpotensi menimbulkan berbagai dampak terhadap industri. Selain menurunkan produksi nikel, kondisi tersebut juga dapat memicu pemutusan hubungan kerja (PHK), mengurangi aktivitas ekonomi di kawasan industri berbasis nikel, menekan penerimaan negara dan daerah, serta memengaruhi keberlanjutan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), pengembangan masyarakat, dan perlindungan lingkungan.
 
FINI juga berpandangan pemberian relaksasi kepada perusahaan yang patuh akan menjadi sinyal positif, kepatuhan terhadap regulasi menjadi faktor utama dalam penentuan tambahan kuota produksi. Kebijakan tersebut dinilai dapat menjaga posisi Indonesia sebagai produsen nikel terbesar di dunia sekaligus pusat pengembangan industri baterai kendaraan listrik.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Ucapan Bintang Hyundai Hillstate Ini Bikin Megawati Hangestri Jadi Sorotan, Harapan Juara V-League Menguat
• 1 jam lalu
0
thumb
Bandung Red Zone Begal, Teteh Cantik ini Hubungi Call Center Polri Berujung Dikawal Polisi saat Pulang Kerja Malam Viral
• 3 jam lalu
0
thumb
Menteri PU Dody Hanggodo Buka Suara soal Tudingan Pakai Jet Pribadi saat Kunjungan Kerja
• 2 jam lalu
0
thumb
Tukang Parkir di Jaksel Ditangkap Usai Bolak-balik Nyolong Sepatu
• 18 jam lalu
0
thumb
Anaknya Viral Flexing, Pejabat Setdakab Gayo Lues Minta Maaf
• 7 jam lalu
0
Berhasil disimpan.