Kalbe Farma (KLBF) Dibayangi Tekanan Margin pada Semester II-2026

idxchannel.com
4 jam lalu
Cover Berita

Kalbe Farma (KLBF) diperkirakan menghadapi tekanan margin pada paruh kedua 2026 seiring pelemahan rupiah dan lonjakan biaya bahan baku impor.

Kalbe Farma (KLBF) Dibayangi Tekanan Margin pada Semester II-2026. (Foto: Kalbe)

IDXChannel - Kalbe Farma (KLBF) diperkirakan menghadapi tekanan margin pada paruh kedua 2026 seiring pelemahan rupiah dan lonjakan biaya bahan baku impor, meski prospek jangka panjang emiten farmasi terbesar di Indonesia itu masih dinilai menarik.

UOB Kay Hian dalam risetnya memperkirakan tekanan margin mulai muncul pada kuartal II-2026 dan akan semakin terasa pada kuartal III.

Baca Juga:
IHSG Naik 1,51 Persen ke 6.430 di Sesi I, Sektor Properti dan Energi Jadi Penggerak

Penyebab utamanya adalah pelemahan nilai tukar rupiah, mengingat sekitar 30 persen harga pokok penjualan (HPP) Kalbe berasal dari bahan baku yang dibeli dalam dolar AS.

Di saat yang sama, harga bahan baku farmasi aktif (active pharmaceutical ingredients/API) berbasis minyak diperkirakan naik sekitar 30 persen.

Baca Juga:
OJK Optimistis Kredit UMKM Tumbuh Positif hingga Akhir 2026

Komponen tersebut menyumbang sekitar 15 persen terhadap HPP, sehingga kenaikan biayanya diperkirakan mulai membebani profitabilitas perseroan pada kuartal III-2026.

Akibat tekanan tersebut, UOB Kay Hian memperkirakan margin kotor Kalbe menyusut menjadi 37,5 persen pada 2026, turun dari proyeksi 39,8 persen pada 2025.

Baca Juga:
Bank Jago (ARTO) Raup Laba Bersih Rp189 Miliar di Semester I-2026

Meski memangkas target harga saham KLBF menjadi Rp1.100 dari sebelumnya Rp1.800, UOB Kay Hian tetap mempertahankan rekomendasi beli (buy).

Hingga jeda perdagangan Kamis (23/7/2026) siang, saham KLBF menguat 0,68 persen ke level Rp735 per unit.

Sebelumnya, mengutip keterangan resmi, Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Senin (20/7/2026), Kalbe Farma menjadi salah satu perusahaan farmasi yang mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam transformasi digital manufaktur.

Melalui fasilitasi Kementerian Perindustrian, Kalbe menguji solusi System Invariant Analytics Technology (SIAT) yang dikembangkan PT NEC Indonesia dan Bogor Technology pada April-Juni 2026.

Teknologi tersebut digunakan untuk predictive maintenance dan pemantauan kondisi mesin produksi secara real time guna mendeteksi potensi gangguan lebih dini, mengurangi downtime, serta mengoptimalkan pemeliharaan aset.

Hasil uji coba (Proof of Concept/PoC) menunjukkan tingkat kepuasan Kalbe mencapai 8 dari 10, dengan dua dari tiga target utama berhasil dicapai.

Engineering Group Head PT Kalbe Farma Tbk Ronald Effendi mengatakan sistem SIAT mampu mengintegrasikan dan mengolah data secara komprehensif sehingga membuka peluang optimalisasi aset digital sekaligus meningkatkan daya saing perusahaan di industri farmasi. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Hari Anak Nasional 2026: Menteri PPPA Tekankan Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental Anak
• 4 jam lalu
0
thumb
Kisah 27 Tahun Penganiayaan Partai Komunis Tiongkok  terhadap Pengikut Falun Gong : Menghancurkan Sebuah Keluarga yang Bahagia
• 2 jam lalu
0
thumb
Vietnam Andalkan 4 Pemain Naturalisasi di Piala AFF 2026, Trio Brasil Siap Mengancam Timnas Indonesia
• 10 jam lalu
0
thumb
Starting XI Timnas Indonesia Jelang Piala AFF 2026 Terungkap: Rizky Ridho-Thom Haye Starter, Beckham Putra-Marselino Ferdinan Main Bareng
• 2 jam lalu
0
thumb
Soal Surat PTUN Ambon ke PAN-RB, Pemkot Minta Laporan Harus Objektif
• 22 jam lalu
0
Berhasil disimpan.