Cerita Masa Lalu dari Penemuan Muatan Kapal Karam

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Wilayah perairan Indonesia merupakan wilayah strategis bagi pelayaran dunia sejak dahulu, menghubungkan negara-negara di Asia, Eropa, dan Timur Tengah. Oleh karenanya tidak mengherankan ketika kapal tenggelam dan muatannya (barang muatan kapal tenggelam) atau BMKT banyak ditemukan terdeposit di perairan nusantara.

Beragam artefak BMKT tersebut tersaji di Maritime Heritage Gallery yang berada di lantai dua gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta Pusat. Galeri ini didedikasikan untuk memanggungkan muatan kapal karam yang ditemukan di perairan Indonesia yang dapat diakses oleh publik sejak tahun 2016. Kementerian KKP mengelola galeri ini secara langsung.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti pada saat itu di tahun 2016 menginisiasi dibukanya tempat tersebut. Ia mengatakan bahwa BMKT yang ditemukan ini merupakan milik bangsa dan identitas Indonesia sebagai negara maritim, sehingga perlu dijaga.

Berdasarkan estimasi yang dikeluarkan oleh Badan Riset Kelautan dan Perikanan (2000), ada 463 titik lokasi di perairan Indonesia, tersebar sebagian besar di perairan Kepulauan Riau, Selat Karimata, Perairan Bangka-Belitung, Laut Jawa. Sebaran kapal tenggelam tersebut umumnya membawa komoditi dan barang dari Cina, Asia Barat dan Eropa seperti Belanda (VOC), Inggris dan Spanyol.

Lebih dari 148.000 muatan kapal karam telah dinyatakan sebagai milik negara hingga saat ini, dan muatan ini berasal dari kapal-kapal yang berlayar antara abad ke-9 hingga ke-18. Muatan-muatan tersebut merupakan bukti sejarah interaksi antar kerajaan di Asia dan sekitarnya. Muatan-muatan ini sekarang disimpan di Gudang Cileungsi dengan akses yang sangat terbatas.

Galeri ini membawa BMKT sebagai kekayaan bahari lebih dekat kepada masyarakat dan menjadi sumber inspirasi untuk dijaga keberadaannya.Koleksi museum ini menyajikan artefak dari bahan keramik, kaca, bongkahan kristal, gerabah dan perunggu berjumlah total 3.123 buah.

Galeri Warisan Maritim adalah satu-satunya galeri di Indonesia yang berfokus pada muatan kapal karam. Artefak-artefak muatan kapal tersebut ditampilkan dalam tiga kluster. Pertama koleksi abad ke-9, yang ditemukan dari perairan Bangka-Belitung. Koleksi-koleksi ini diyakini telah sampai ke pasar-pasar di Timur Tengah dan semenanjung Asia Selatan.

Kedua, koleksi abad ke-10, yang ditemukan di Laut Jawa di Utara Cirebon, Jawa Barat. Koleksinya terdiri dari berbagai barang mulai dari keramik Tiongkok, barang pecah belah dan perhiasan dari Timur Tengah, serta barang-barang lain dari berbagai belahan Asia Tenggara yang diyakini telah sampai ke Pulau Jawa.

Terakhir adalah koleksi dari abad ke-11 dan 12 yang ditemukan di Pulau Buaya, Provinsi Riau, meliputi keramik Tiongkok, barang pecah belah dan perhiasan dari Timur Tengah, di antara barang-barang lain dari berbagai belahan Asia Tenggara yang diyakini telah sampai ke Sumatra.

Beragam koleksi artefak temuan dari benda muatan kapal tenggelam di Museum Marine Heritage Gallery, Jakarta.

KOMPAS/RIZA FATHONI

Koleksi museum ini terdiri dari bahan keramik, gerabah dan perunggu berjumlah 3.123 BMKT.

KOMPAS/RIZA FATHONI

Artefak tersebut diangkat dari tiga perairan berbeda, yaitu dari Belitung, Pulau Buaya dan Cirebon

KOMPAS/RIZA FATHONI

Di antara ribuan koleksi yang ditampilkan setidaknya ada dua artefak yang sangat berharga. Pertama adalah Vas Liao dari Lima Dinasti abad 10 Masehi. Vas ini ditemukan di Laut Utara Jawa, Cirebon

Vas Liao merupakan salah satu muatan kapal Karam Kargo Cirebon yang diangkat oleh PT Paradigma Putra Sejahtera pada tahun 2004-2005 di Laut Utara Jawa. Total muatan yang diangkut menyentuh angka 271.000 keping yang terdiri dari beberapa jenis artefak langka dan berharga. Objek ini disebutkan sebagai salah satu produk berkualitas tinggi.

Secara bentuk, vas ini memiliki leher yang cukup panjang dengan badan yang cenderung melonjong. Vas tersebut berglatsir putih dengan kondisi sudah ada keretakan. Secara fungsi, vas umumnya digunakan sebagai wadah tanaman dan sebagai hiasan.

Kedua, masih dari kapal yang sama, adalah arca Dewi Tara. Arca dari tembaga ini ditemukan di Laut Utara Jawa, tepatnya di Cirebon di antara barang-barang muatan. Dewi Tara adalah dewi yang adalan dewi yang terkuat dalam ajaran Buddha. Nama Tara dalam bahasa Sansekerta bintang, dipercaya memiliki kekuatan untuk menjadi panduan untuk para pengikutnya, seperti bintang, dalam perjalanan spiritual.

Arca Dewi Tara merupakan salah satu dewa-dewi pelindung dalam kapal. Pemujaan terhadap Dewi Tara erat kaitannya dengan tugasnya sebagai penyelamat, khususnya yang berhubungan dengan keselamatan dan peranannya yang penting bagi wilayah perdagangan maritim. Arca ini dipercaya bernilai mliaran rupiah karena kelangkaannya.

Figur feminin Bodhisattva ini asalnya dilengkapi dengan busur dan panah yang sekarang sudah tidak ada. Figur ini duduk pada tumpuan yang terpisah yang berbentuk bunga teratai berangkap. Bentuk patung yang ramping dan mahkota yang berbentuk seperti gunung ini memungkinkan kita untuk mengenali patung- patung perunggu dari abad ke-10 atau awal abad ke-12 vang ditemukan di beberapa situs arkeologi di Jawa.

Galeri Warisan Maritim didirikan sebagai bagian dengan visi untuk mendidik masyarakat tentang sejarah maritim Indonesia. Galeri ini juga bercita-cita untuk membangun masyarakat Indonesia yang menghormati, sadar lingkungan, dan memahami lautan Indonesia serta budaya maritimnya.

Kebalikan dengan museum pada umumnya, galeri ini justru buka pada hari Senin dan tutup pada akhir pekan mulai hari Jumat. Hal ini karena museum tersebut berada di dalam kompleks perkantoran KKP sehingga mengikuti hari kerja. Biasanya museum ini menjadi salah satu tujuan kunjungan studi bagi siswa-siswa sekolah yang ingin mempelajari sejarah kelautan.





Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Mitchell Baker Kirim Sinyal Kuat ke John Herdman usai Cetak Gol saat Timnas Indonesia Lawan Bali United
• 17 jam lalu
0
thumb
Dokter Internship Ditemukan Meninggal di Lampung, Polisi Masih Selidiki Penyebabnya
• 15 jam lalu
0
thumb
Jadi Kepala BGN, Sudaryono Lepas Jabatan Wamentan
• 19 jam lalu
0
thumb
Tuntut Ganti Rugi Rp200 Juta ke Polda Metro, Kubu Roy Suryo: Buat Sedekah
• 21 jam lalu
0
thumb
Peran Penting Pendidikan dalam Iklim Investasi
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.