Kisah Anak-anak di Kaltim Menggantungkan Asa di Seutas Tali Baja demi Sekolah

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Setiap hari, siswa di Desa Santan Ulu, Kecamatan Marang Kayu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, harus bertaruh nyawa demi bisa sekolah.

Mereka terpaksa menyeberangi sungai menggunakan kereta gantung sederhana yang dibangun secara swadaya oleh warga karena hingga kini belum tersedia jembatan penghubung.

Kereta gantung itu menjadi akses tercepat bagi warga, termasuk para pelajar, untuk menuju sekolah. Setiap pagi dan siang hari, mereka harus menarik sendiri tali baja agar kereta gantung dapat bergerak melintasi sungai selebar sekitar 45 meter dengan arus yang cukup deras.

Meski penuh risiko, para siswa tetap menjalani rutinitas tersebut demi mendapatkan pendidikan.

Kereta gantung itu telah digunakan masyarakat selama sekitar enam tahun. Fasilitas sederhana tersebut dibangun secara gotong royong karena warga harus memutar jalan sejauh sekitar sembilan kilometer apabila tidak menggunakan jalur penyeberangan tersebut.

Salah seorang warga sekaligus orang tua siswa, Solihun, mengatakan keberadaan kereta gantung sangat membantu aktivitas masyarakat, baik untuk anak-anak yang berangkat sekolah maupun warga yang menuju kebun.

"Itulah satu-satunya solusi yang kami buat. Kereta gantung ini bisa digunakan orang maupun sepeda motor. Kalau sebelumnya harus menempuh perjalanan sekitar sembilan kilometer, sekarang cukup sekitar dua kilometer," kata Solihun.

Ia mengatakan masyarakat membangun fasilitas tersebut secara swadaya karena hingga kini belum ada jembatan permanen yang menghubungkan kedua wilayah.

Menurut Solihun, kereta gantung telah memberikan banyak manfaat bagi masyarakat. Selain mempermudah akses pendidikan, fasilitas itu juga membantu warga membawa hasil kebun dan menjalankan aktivitas sehari-hari.

"Alhamdulillah sangat bermanfaat. Ini menjadi kemudahan yang luar biasa bagi masyarakat," ujarnya.

Bahaya saat Hujan Turun

Meski demikian, penggunaan kereta gantung bukan tanpa risiko. Kondisi menjadi lebih berbahaya ketika hujan turun dan debit sungai meningkat.

Saat cuaca buruk, para siswa harus ekstra hati-hati karena arus sungai menjadi lebih deras. Kondisi tersebut juga sering menyebabkan mereka terlambat tiba di sekolah.

Meski demikian, Solihun mengaku kereta gantung bukan solusi jangka panjang. Ia berharap pemerintah segera membangun jembatan permanen agar masyarakat tidak lagi bergantung pada fasilitas sederhana yang memiliki risiko tinggi.

"Kami sangat berharap pemerintah bisa membangunkan jembatan. Kereta gantung ini memang membantu, tetapi tetap berisiko, apalagi kalau musim hujan atau air sungai sedang besar. Kami ingin anak-anak sekolah bisa menyeberang dengan aman," katanya.

Kepala SD Negeri 021 Marang Kayu, Badil, mengatakan pihak sekolah memahami kondisi yang dihadapi para siswanya. Karena itu, sekolah memberikan kebijakan khusus apabila cuaca tidak memungkinkan untuk menyeberang.

Menurutnya, keselamatan siswa menjadi prioritas utama. Sekolah tidak ingin memaksa anak-anak mengambil risiko besar hanya untuk mengejar waktu masuk kelas.

"Kalau hujan deras dan kondisi di sana tidak memungkinkan, kami memberikan kebijaksanaan kepada siswa untuk mengikuti pembelajaran secara daring. Kalau terlambat juga kami maklumi karena memang kondisi mereka berbeda dengan siswa lainnya," kata Badil.

Ia berharap pemerintah dapat segera membangun jembatan permanen agar para siswa tidak lagi mempertaruhkan keselamatan setiap hari hanya untuk memperoleh hak mereka atas pendidikan.

Selama jembatan belum terbangun, kereta gantung sederhana itu masih menjadi tumpuan utama masyarakat. Di balik kesederhanaannya, fasilitas tersebut menjadi simbol perjuangan warga yang berupaya memenuhi kebutuhan pendidikan dan aktivitas ekonomi di tengah keterbatasan infrastruktur.

Bagi para siswa di Desa Santan Ulu, perjalanan menuju sekolah bukan sekadar rutinitas harian, melainkan perjuangan yang harus mereka lalui dengan keberanian setiap kali menyeberangi sungai menggunakan kereta gantung.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Belarus Mulai Pasok Susu Bubuk untuk Program MBG, Nilai Kerja Sama Capai 76 Juta Dolar AS
• 13 jam lalu
0
thumb
KPK Pamer Barang Bukti Sebanyak Ini pada Kasus Bupati Lombok Barat
• 15 jam lalu
0
thumb
Tersangka Pengeroyokan yang Menewaskan Anggota TNI di Tangerang Bertambah Jadi 7 Orang
• 28 menit lalu
0
thumb
Dorong Payung Hukum Tersendiri Tentang AI, Marinus Gea: Tak Cukup di RUU Hak Cipta
• 3 jam lalu
0
thumb
KPK Terbitkan 2 Sprindik Baru Pengembangan Kasus Bea Cukai
• 5 jam lalu
0
Berhasil disimpan.