JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah gencarnya penataan Jakarta sebagai kota global dengan pembangunan infrastruktur yang semakin modern, kontrakan seharga Rp 300.000 justru terus tumbuh dan bertahan di sudut-sudut Ibu Kota.
Kontrakan tersebut umumnya berupa bangunan semipermanen yang berada di gang-gang kecil dan minim pencahayaan, sehingga kondisinya sangat kontras dengan wajah pusat kota.
Rumah kontrakan dengan harga sewa murah banyak ditemukan di wilayah Pademangan, Jakarta Utara. Lokasinya tergolong strategis karena masih berada tidak terlalu jauh dari pusat kota.
Baca juga: Utang Jakarta Lewat Obligasi Rp 3,5 Triliun Harus Hasilkan Multiplier Ekonomi
Tak heran jika kontrakan tersebut tetap diminati, terutama oleh para perantau dari berbagai daerah. Dengan tinggal di wilayah itu, mereka lebih mudah menjangkau tempat kerja maupun pusat aktivitas lainnya.
Kamar dengan harga sewa sekitar Rp 300.000 per bulan umumnya berada di lantai dua bangunan semipermanen yang kondisinya sudah tidak lagi kokoh.
Mulai dari lantai, dinding, hingga plafon, sebagian besar bangunan menggunakan material tripleks dan kayu yang perlahan mulai keropos dimakan usia.
Meski demikian, kontrakan murah ini tetap menjadi andalan masyarakat yang terhimpit persoalan ekonomi.
Cara bertahanPengamat Tata Kota Universitas Indonesia (UI) M Azis Muslim mengatakan, fenomena terus menjamurnya kontrakan murah meriah menjadi permasalahan kompleks dalam penataan kota.
"Namun, di sisi lain sebenarnya menjadi solusi bagi masyarakat kota yang tidak memiliki kemampuan atau kapasitas finansial yang cukup untuk tinggal di pemukiman atau kontrakan sesuai standar harga yang wajar dan layak," ucap Azis ketika dihubungi Kompas.com melalui WhatsApp, Selasa.
Azis mengatakan, kontrakan semipermanen dengan harga murah umumnya bermunculan di kawasan yang menjadi pusat aktivitas ekonomi di Jakarta Utara, di antaranya Penjaringan, Cilincing, Koja, Pademangan, hingga Cakung.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi indikasi adanya krisis perumahan di wilayah strategis yang menjadi pusat kegiatan ekonomi.
Baca juga: Dishub DKI Bangun Pelican Crossing di Tendean Sambil Tunggu JPO Baru
Di sisi lain, kontrakan semipermanen itu umumnya menggunakan material yang memiliki tingkat kerentanan tinggi, seperti tripleks atau GRC, yang mudah terbakar.
Selain itu, padatnya bangunan membuat banyak kontrakan semipermanen di Jakarta minim mendapat sinar matahari dan sirkulasi udara. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan berbagai persoalan kesehatan di kemudian hari.
Aziz mengatakan, apabila dilihat dalam perspektif tata kota, tumbuhnya kontrakan murah meriah bukan merupakan pasar properti formal, melainkan strategi warga untuk bertahan hidup di Jakarta dengan penghasilan terbatas.






Komentar (0)