Alih-Alih Tutup Prodi, Akademisi Dorong Reformasi Kurikulum dan Lapangan Kerja

republika.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Sejumlah akademisi mendorong pemerintah melakukan reformasi kurikulum dan memperluas lapangan kerja ketimbang menutup program studi (prodi). Wacana penutupan prodi ini sebelumnya bergulir karena dinilai memicu tingginya angka pengangguran terdidik akibat ketidaksesuaian lulusan dengan kebutuhan industri.

Pemerintah, sebelumnya berencana menutup beberapa prodi karena dinilai mengalami kelebihan pasokan (oversupply) lulusan. Kebijakan tersebut menuai tanggapan kritis, terutama terkait dampaknya bagi keberlangsungan dunia pendidikan tinggi di Indonesia.

Kepala Career Center Cyber University, Anang Martoyo menilai penutupan program studi bukanlah jalan keluar utama untuk mengatasi masalah pengangguran terdidik. Menurutnya, kualitas lulusan masih sangat bisa ditingkatkan tanpa harus menghilangkan bidang keilmuan tertentu.

"Permasalahan utama bukan pada prodinya, melainkan pada relevansi kompetensi lulusan. Ini bisa diperbaiki melalui pembaruan kurikulum dan peningkatan kualitas pengajaran secara berkala," ujar Anang.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Anang menambahkan, rencana penutupan prodi justru dikhawatirkan akan memicu dampak sosial dan ekonomi baru yang merugikan. Kebijakan radikal ini berpotensi mengganggu nasib para dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa yang saat ini sedang aktif menempuh masa studi.

Selain pembenahan internal kampus, pemerintah juga didorong untuk aktif menciptakan lapangan kerja baru yang bervariasi. Kolaborasi erat antara perguruan tinggi, pemerintah, dan sektor industri menjadi kunci agar lulusan lebih adaptif terhadap dinamika pasar kerja yang cepat berubah.

"Pada akhirnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) tidak bisa dilakukan secara instan dengan membatasi akses pendidikan. Kebijakan yang komprehensif dan berorientasi jangka panjang dinilai jauh lebih konstruktif untuk menjawab tantangan masa depan bangsa," kata dia.

Ia menjelaskan, di Cyber University punya Company Learning Program (CLP) 3+1. Di mana mahasiswa belajar 3 tahun di kelas dan 1 tahunnya magang. Hal tersebut menjadikan lulusan Cyber University banyak yang langsung terserap dunia kerja secara langsung.

"Lewat CLP 3+1 di Cyber University, membuka lebar pintu mahasiswa langsung masuk industri. Jadi sebelum lulus pun banyak yang sudah kerja," ucap Anang.

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
PN Jaksel Kembali Sidangkan Praperadilan Roy Suryo, Agenda Tuntutan Ganti Rugi
• 7 jam lalu
0
thumb
Polisi Gugur Diserang OTK di Yahukimo Papua, Satgas Damai Cartenz Kejar Pelaku 
• 20 jam lalu
0
thumb
Forum ASEAN Smart Cities, Semarang dan Denpasar sebagai Anggota Baru
• 18 jam lalu
0
thumb
Komisi Kejaksaan Akan Temui Penyidik Kasus Bekas Jampidsus Febrie Adriansyah
• 22 jam lalu
0
thumb
Hotman Paris Bakal Dipanggil Polda Metro Terkait 2 Laporan Terhadapnya Buntut Ucapan Soal Wartawan
• 12 jam lalu
0
Berhasil disimpan.