Merasakan Bermalam di Stasiun Cikarang

liputan6.com
12 jam lalu
Cover Berita

Liputan6.com, Jakarta - Bagi sebagian orang, Stasiun Cikarang bukan sekadar tempat transit. Ketika kereta terakhir tiba dan sebagian besar penumpang pulang ke rumah, ada orang-orang yang justru memilih menghabiskan malam di sana.

Mereka rela tidur di kursi ruang tunggu, bersandar di sudut ruangan, bahkan beralaskan lantai agar bisa naik kereta pertama keesokan harinya dan berangkat bekerja tanpa harus berdesakan.

Advertisement

BACA JUGA: Kepergok Curi Kabel Rp 143 Juta, Pelaku Terjebak di Power House

Pukul 00.40 WIB, kereta terakhir tiba di Stasiun Cikarang. Penumpang bergegas turun sambil membawa tas dan barang bawaan. Sebagian langsung pulang menggunakan sepeda motor atau dijemput keluarga. Tak lama kemudian, peron yang semula ramai kembali lengang.

Namun suasana berbeda terlihat di ruang tunggu lantai dua. Beberapa orang sudah terlelap di kursi, sementara yang lain masih duduk sambil memainkan ponsel. Menjelang pukul 01.00 WIB, jumlah mereka semakin banyak. Kursi yang tersedia mulai penuh. Mereka yang tidak kebagian tempat memilih duduk atau berbaring di lantai dengan beralaskan jaket maupun tas. Bagi mereka, yang penting bisa memejamkan mata beberapa jam sebelum kereta pertama berangkat.

Lampu-lampu stasiun tetap menyala terang sepanjang malam. Di area charging station, sejumlah penumpang memanfaatkan waktu untuk mengisi daya ponsel. Sementara yang lain sudah tertidur pulas meski berada di tengah lalu lalang orang yang datang silih berganti.

Salah satunya adalah Alex (39), seorang buruh bangunan yang sedang mengerjakan proyek di kawasan Tanjung Priok. Sudah beberapa hari terakhir ia memilih datang ke stasiun sejak tengah malam. Alasannya sederhana, ia ingin naik kereta pertama agar perjalanan menuju tempat kerja lebih nyaman dan tidak harus berdesakan saat jam sibuk.

Sekitar pukul 01.30 WIB, petugas keamanan mulai berkeliling ruang tunggu. Mereka mendata para penumpang dengan menanyakan nama dan tujuan perjalanan. Setelah itu, petugas meminta kartu identitas untuk dicocokkan. Penumpang KRL diminta menunjukkan kartu elektronik, sedangkan calon penumpang kereta lokal maupun jarak jauh diminta memperlihatkan tiket.

"Nama siapa, Mas?" tanya seorang petugas.

"Mau ke mana, Mas?" lanjutnya.

Bagi Alex, pemeriksaan seperti itu sudah menjadi hal yang biasa. Menurutnya, langkah tersebut dilakukan untuk memastikan orang yang berada di area stasiun memang benar-benar calon penumpang.

Ia mengaku pernah mendengar ada penumpang yang kehilangan telepon genggam dan uang tunai. Sejak itu, pengecekan identitas membuatnya merasa lebih aman saat bermalam di stasiun.

"Ya dulu pernah ada yang kehilangan HP sama uang," kata Alex kepada Liputan6.com.

Selain mendata penumpang, petugas juga mengimbau agar mereka tidak tidur di lantai. Meski begitu, keterbatasan kursi membuat sebagian orang tetap memilih merebahkan badan di lantai setelah petugas berlalu.

Orang-orang yang menunggu di halaman maupun area parkir juga diarahkan untuk berpindah ke ruang tunggu lantai dua.

"Disuruh pindah ke atas. Yang di bawah juga sama, paling disuruh ke atas," ujar Alex.

 

 


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Tragis! Anggota Satgas Damai Cartenz Brigpol Fredi Lukas Gugur Ditikam di Yahukimo, Pelaku Masih Diburu
• 11 jam lalu
0
thumb
Teka-teki Hilangnya Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Terlacak di Malaysia Usai Diduga Diculik
• 12 jam lalu
0
thumb
Anggota TNI AD Tewas dengan 10 Tusukan di Tangerang
• 22 jam lalu
0
thumb
Danareksa Siap Kelola 13.000 Hektare Kawasan Industri, Investasi Indonesia Makin Ngebut
• 5 jam lalu
0
thumb
Asosiasi Pesepeda Profesional Kritik Tes Doping Tengah Malam di Tour de France 2026
• 23 jam lalu
0
Berhasil disimpan.